30/06/2026
Gerimis di Dalam Dada
:Lien Lazuardy
Gerimis turun sejak petang, menyisir kaca-kaca waktu yang kusimpan dengan hati-hati, meski berkali-kali retak oleh tangan yang pura-pura menjaga.
Aku pernah berdiri di tengah keramaian, tetapi terasa seperti bayangan yang tak memiliki tubuh. Namaku disebut ketika perlu, lalu dilupakan secepat hujan menghapus jejak di jalan.
Ada hari-hari ketika aku dianggap tak ada, suaraku jatuh sebelum sempat menyentuh telinga. Segala usaha menjadi debu, segala pengorbanan berubah menjadi cerita yang tak pernah dituliskan.
Mereka tersenyum semanis embun pagi, menawarkan hangat yang tampak tulus. Namun di belakang punggung, kata-kata mereka berubah arah, menjadi angin dingin yang menusuk tanpa terlihat.
Aku belajar, bahwa tidak semua pelukan berarti menerima, tidak semua pujian berarti menghargai. Ada kepalsuan yang dibungkus begitu rapi, hingga tampak lebih indah daripada kejujuran itu sendiri.
"Setidak pentingnya kah aku? hingga suaraku tak dianggap lagi?"
Di antara semua luka, yang paling sulit kutaklukkan bukanlah mereka. Melainkan ego yang terus berteriak, meminta balasan, meminta pembuktian, meminta dunia menyaksikan bahwa aku bukan pecundang seperti yang mereka bisikkan.
Maka pada malam yang basah oleh gerimis, aku duduk bersama diriku sendiri. Menatap luka yang belum sepenuhnya sembuh, menyentuh kecewa yang masih bernapas, lalu perlahan mengajaknya p**ang.
Sebab kemenangan terbesar bukan ketika mereka akhirnya mengakui keberadaanku.
Melainkan ketika aku mampu berdiri tanpa membutuhkan pengakuan mereka.
Ketika hinaan tak lagi menentukan nilai diriku, ketika pengabaian tak lagi menghapus langkahku, ketika aku mampu berjalan meski tak ada tepuk tangan di ujung perjalanan.
Gerimis masih turun. Namun kini ia tak terdengar seperti ratapan. Ia menjelma doa yang pelan, membasuh sisa-sisa amarah, mengalirkan luka ke muara yang tenang.
Dan aku, yang pernah dianggap tak ada, yang pernah dipanggil pecundang oleh mulut-mulut yang pandai menyamar, akhirnya mengerti. Tidak semua yang diremehkan akan kalah.
Bandung, 30 Juni 2026
Gerakan Rutin Menulis 30 Hari