27/11/2020
Dalam segala kerendahan hati kami berharap pesan ini dibaca sampai selesai, Bismillahirrahmanirrahim, Kawan-kawan mari kira petik pembelajaran dari kisah Nabi Ibrahim kala itu Nabi Ibrahim mengalungkan kapaknya di leher patung berhala terbesar setelah ia menghancurkan semua patung yang lebih kecil. Ketika ditangkap dan diinterogasi Namrud, Nabi Ibrahim tak menjawab “Aku yang menghancurkannya,” melainkan “Patung paling besar itu yang menghancurkannya.”
Nabi Ibrahim menyindir kebodohan penyembah patung, seakan-akan ia bertanya “Mengapa sesembahanmu yang paling besar itu tak melindungi sesembahanmu yang lebih kecil dari upaya penghancuranku?” Namrud lalu membakar Nabi Ibrahim, tetapi ia tak terbakar, dan justru merasakan keadaan yang, dalam bahasa Qur’an, “bardan wa salaaman” (adem dan tenteram).
Secara simbolik, berhala terbesar, sebagaimana disimbolkan oleh patung terbesar sesembahan Namrud, tak bisa (atau tak mau dalam konteks berhala batin) menghancurkan berhala-berhala kecil karena mereka adalah penopang eksistensi berhala terbesar itu.
Orang lupa bahwa egoisme atau merasa benar sendiri itu destruktif. Sebab, dengan menjadikan diri sebagai “pusat kebenaran”, diri tak mau menolerir adanya kemungkinan kebenaran dari sumber lain karena merasa setara dengan Tuhan, atau paling tidak merasa diri yang paling benar dan paling paham apa maunya Tuhan.
Berhala pada hari ini ia berkamuflase menjadi bentuk lain, sebuah wujud baru yang begitu samar dan melekat dalam diri setiap manusia.
Penyembah patung berhala batin mengingkari sifat belas kasih ini, sehingga ia merampas hak-hak Tuhan, melampaui batas dalam bertindak, tak bisa bertindak adil karena mengikuti kehendak hawa nafsunya.
Berhala dalam diri ia ibarat tali kekang yang menjerat leher, tangan dan kaki. Kali lain, berhala itu sering bermanis-manis menampilkan dirinya sebagai seorang anak kecil yang kemaunya selalu ingin dituruti. Dan dalam kebanyakan peperangan, kita seringnya kalah menjadi tawananya.
Apakah kita tak pernah mendengar firman Allah dalam al-Qur’an yang terus bergema memperingatkan, “Dan juga pada jiwamu (anfusikum) sendiri, apakah tidak engkau perhatikan (awasi)”
Narasi ini adalah inti / ruh dalam artikel yang sengaja kami angkat dalam tema PO kali ini, terimakasih, semoga mendapatkan manfaat.
INVSN THEHORY X ONE FAITH