31/10/2016
Anda INGIN SUKSES??? Ini dia JAWABANNYA
Mentalitas Penjual yang Sukses
oleh: Bang Farhan
Terinspirasi oleh pengalaman selama belajar di bangku kuliah, guru motivator Anton Irianto yang telah memberikan banyak masukan dan pelajaran tentang kehidupan dunia sales. Pembahasan sikap mental dalam Born to Win, Sukses menjual-steps to be a sales master dalam benak saya perlu kiranya saya tulis kembali dan berharap dapat menjadi pelajaran bagi teman-teman sesama sales.
Sebelum kita membahas mengenai sikap mental lebih jauh, baik kiranya kita menyamakan persepsi mengenai apa yang dimaksud dengan sikap mental tersebut.
Salah satu definisi yang dipahami pengertian sikap mental (attitude) adalah kecenderungan seseorang untuk berpikir atau bertindak (merespon) secara positif atau secara negatif, baik terhadap kejadian-gejala alam maupun sosial.
Berdasarkan definisi tersebut maka di dunia ini dapat dikelompokkan manusia secara sikap mental menjadi dua. Pertama kelompok manusia yang selalu bersikap negatif dan kelompok kedua yaitu manusia yang selalu bersikaf positif.
Kelompok manusia yang pertama yang berpikir selalu negatif, akan melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif. Misalnya orang negatif akan berfokus pada kesulitan atau ketidakenakan dari situasi becek atau banjir. Yang ada dibenaknya hanya masalah atau hambatan yang muncul dari situasi hujan itu, resiko dan perasaan tidak nyaman. Kelompok ini akan memiliki sikap pesimis, cemas, tertekan, dan cenderung mengeluh serta hampir tak mampu melihat peluang atau kesempatan. Hidup terasa sempit, kering dan hambar serta tidak membahagiakan.
Kelompok manusia kedua melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Berbeda dengan kelompok yang pertama, mereka memandang hujan sebagai sesuatu yang menyenangkan, karena hujan bisa menghilangkan debu dan asap, menyegarkan udara dan menyuburkan tanah. Dengan demikian hujan bagi orang positif tidak akan menjadi masalah atau hambatan dalam pencapaian tujuan, apapun tujuan itu.
Kaitannya dengan resiko, orang yang berpikir positif akan memandang sebagai sesuatu yang belum terjadi dan dapat diperhitungkan. Mungkin akan memandangnya justru sebagai peluan atau kesempatan. Kelompok ini bekerja secara optimis, penuh gairah, berani, antusias, energik, gembira dan hampir selalu melihat adanya peluang maupun kesempatan dalam berbagai situasi. Bagi mereka jalan hidup begitu lapang, banyak pilihan secara teknis, melakukan sesuatu dengan senang hati dan gembira. Walaupun demikian, sikap positif bukan merupakan orang-orang yang ceroboh atau teledor. Mereka juga orang-orang yang memperhitungkan dampak serta resiko, bersikap hati-hati tetapi selalu berorientasi kepada keberhasilan.
Berbagai macam sikap positif yang dapat kami kemukakan disini yaitu:
Sikap Positif Terhadap Diri Sendiri
Manusia diciptakan oleh Tuhan berbekal potensi yang sama untuk bisa membuat pilihan-pilihan dalam hidup. Bekerja dengan mengandalkan kemampuan hati, pikiran, penglihatan dan pendengaran. Kita diberikan dia kaki, dua tangan, dua telinga, dua mata, dan dua belahan otak untuk berpikir, emosi dan hati nurani. Semua alat yang diberikan oleh sang pencipta akan menjamin untuk bisa kita gunakan secara optimal dalam bekerja. Alat-alat tesebut dapat kita gunakan dalam mencapai kesejahteraan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Kalaupun diantaranya ada yang memiliki cacat tubuh, Tuhan selalu saja memberikan kompensasi/pengganti berupa keunggulan di tempat lain.
Lihat orang-orang sukses. Mereka mengawali kesuksesan mereka dengan alat-alat yang sama. Orang yang gagal pun memiliki alat-alat yang sama. Tapi orang-orang gagal karena mereka belum optimal menggunakan potensi alat yang dimiliki. Pepatah orang tua dulu, cangkul yang hanya disandarkan tidak akan menghasilkan penen. Jangan terus merendahkan dan melecehkan diri sendiri dengan mengatakan ”Aku tidak bisa”. Lihatlah, dalam setiap diri kita terdapat potensi kesuksesan luar biasa.
Sikap Positif Terhadap Rintangan
Bagi sebagian orang “rintangan” bisa menjadi kata yang sangat menakutkan, menekan, melumpuhkan, dan membuat pesimis. Banyak yang menderita di tempat kerja mereka, namun tetap bertahan dengan pekerjaan yang membuat mereka menderita disebabkan takut berhadapan dengan rintangan yang akan muncul jika keluar dari pekerjaan tersebut.
Di pihak lain, rintangan merupakan hal yang sangat menggairahkan bagi sebagian orang. Sehingga tidak heran jika banyak orang memilih aktifitas olah raga arung-jeram, panjat-tebing, terjun-payung dan lain-lain yang menantang. Begitu menyenangkan bagi mereka dengan tantangan yang dihdapi tersebut. Anda sendiri akan memandang rintangan sebagai apa? Sebagai bagian dari permainan hidup yang membuat hidup lebih menggairahkan, atau sebagai penghalang yang menjadikan anda loyo?
Dalam sebuah permainan bola voli, atau bulu tangkis dan tenis, tanpa adanya net (jaring) sebagai rintangan tentu akan sangat membosankan bukan? Rintangan adalah batu loncatan untuk tumbuh dan berkembang. Dari SD mau ke SMP kita harus menghadapi rintangan berupa ujian. Begitu seterusnya, menghindari rintangan membuat kita berhenti tumbuh sehingga kesempatan kita untuk lebih baik akan hilang.
Hati-hati jika anda merasa sudah tidak punya rintangan lagi. Jangan-jangan itu pertanda anda sudah tidak berkembang lagi. Padahal, tidak berkembang lagi dapat berarti sudah tidak hidup lagi dan berarti sudah mati.
Sikap Positif Terhadap Konsumen
Dalam bertingkah laku dan bertindak, disadari ataupun tidak, sikap terhadap konsumen akan tercermin pada:
Gerak gerik anda
Mimik wajah anda
Suara anda dan sebagainya
Tanpa anda sadari jika anda bersikap negatif, anda akan membuat jarak. Sikap menjadi tidak sabar, tidak hormat dan tidak tulus. Hal ini pasti akan dirasakan oleh calon pelanggan anda sehingga mungkin saja dengan keadaaan tersebut penjualan tidak akan terjadi.
https://sokabuma.wordpress.com