Kaos Muslim Banjarmasin

Kaos Muslim Banjarmasin jual kaos dan jasa sablon / pembuatan
kaos,hoodie,sweater,polo,sticker dll
telp : 085248985263
Wa : 083159333655

sms/telp : 085348985263 ig : asfi_vagabond wa: 083159333655

24/01/2018
Assalamualaikum Sobat..Pendidikan anak sejak dini sangat penting, terutama pendidikan Islam. Oleh karena itu, ayo kita a...
11/09/2016

Assalamualaikum Sobat..
Pendidikan anak sejak dini sangat penting, terutama pendidikan Islam. Oleh karena itu, ayo kita ajarkan pendidikan nilai nilai islam kepada mereka. Salah satunya dengan media kaos.. Untuk itu Kaos Muslim Banjarmasin menyediakan kaos pendidikan untuk anak dengan berbagai macam disain yg menarik dengan harga yang terjangkau..
untuk pemesanan bisa inbox atau wa : 089608155190
terimakasih :)

09/09/2016
selamat pagi.. :)
08/09/2016

selamat pagi.. :)

selamat pagi :)
05/09/2016

selamat pagi :)

Ajarkan Ilmu Tauhid Serta Aqidah Kepada AnakTauhid merupakan merupakan landasan agama Islam, hal ini penting untuk diket...
02/11/2015

Ajarkan Ilmu Tauhid Serta Aqidah Kepada Anak

Tauhid merupakan merupakan landasan agama Islam, hal ini penting untuk diketahu oleh anak, ketika dia sudah mulai mempelajari tentang agama Islam. Mulai ajarkan dari hal terkecil yaitu, mengenalkan bahwa Allah SWT sebagai Tuhan yang memiliki semesta alam ini. Nabi Muhammad SAW merupaka Rosul utusan Allah SWT. Ajarkan jika manusia benar Tauhid-nya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Pentingnya Mendidik Anak Ilmu Agama Sedini MungkinBunda, anak merupakan titipan Yang Maha Kuasa yang sangat luar biasa. ...
25/10/2015

Pentingnya Mendidik Anak Ilmu Agama Sedini Mungkin

Bunda, anak merupakan titipan Yang Maha Kuasa yang sangat luar biasa. Anak merupakan amanah yang harus dididik dengan sebaik-baiknya. Pendidikan anak harus dimulai sedini mungkin, semasa dia berada di dalam kandungan. Orangtua harus berperan penting dalam proses pendidikan anak, karena keberhasilan dalam mendidik anak ditentukan dengan bagaimana orangtua memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada anak tersebut. Orangtua perlu mengajarkan pendidikan, memberikan bekal baik di dunia maupun di akhirat, agar kelak mereka menjadi orang yang sukses di kedua kehidupan tersebut.

Kita sebagai orangtua, harus membentuk serta membiasakan anak untuk selalu menjalankan perintah Allah SWT, serta menjauhi larangan Allah SWT, agar keluarga terhindar dari siksa api neraka. Sebagai orangtua kita harus selalu memelihara anak kita agar terhindar dari dosa serta kemaksiatan, orangtua harus selalu mengajarkan anak tentang kebaikan.

WAHAI KAUM MUSLIMIN AJARILAH ANAK KALIAN SHALAT!! Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dia berkata, Rasulu...
24/10/2015

WAHAI KAUM MUSLIMIN AJARILAH ANAK KALIAN SHALAT!!

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dia berkata, Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

Sesungguhnya anak-anak kita adalah amanat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala , dan tentunya kita menginginkan mereka menjadi anak yang shalih, dan mendapatkan taufiq dari Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Kita semua adalah teladan bagi anak-anak kita, dan ingatlah sabda Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, “Apabila manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: dan beliau menyebutkan diantaranya adalah anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Maka hendaklah yang menjadi tujuan kita adalah keshalihan anak-anak kita.

* Shalat adalah cahaya

Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dan dijadikan penyejuk pandanganku dalam shalat.” (HR. at-Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani).

Beliau juga menjelaskan bahwa puncak segala hal adalah Islam dan tiangnya adalah shalat, dan bahwasanya shalat merupakan amalan yang pertama dihisab pada hari Kiamat dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan shalat.

* Bagaimana membiasakan anak untuk shalat

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

Telah kita ketahui bersama kedudukan shalat dalam Islam, oleh sebab itu wajib atas kita semua mengetahui bahwa membiasakan anak shalat adalah tujuan hidup dalam pendidikan keimanan anak-anak. Dan kami ingatkan bahwa masa kanak-kanak bukanlah masa taklif (pembebanan syari’at), akan tetapi itu adalah masa persiapan, pelatihan dan pembiasaan untuk sampai kepada masa taklif ketika mereka sampai pada usia baligh, sehingga mudah bagi mereka untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama mereka.

*Tahapan-tahapan pengajaran shalat.

-Tahapan pemberian semangat dan motivasi anak untuk shalat

Sesungguhnya awal perkembangan kecerdasan anak dimulai dari perintah kedua orang tua kepada anaknya untuk mengerjakan shalat bersama mereka. Dan hendaklah kita ketahui bersama bahwa anak-anak terkadang lewat dihadapan orang yang shalat, dan terkadang duduk dan menangis. Dan tidak mengapa bagi bapak atau ibu untuk membawa anaknya ketika shalat di masjid, ketika khawatir dengan kondisi anaknya, lebih-lebih kalau di rumahnya tidak ada orang yang menjaganya. Dan jangan menghardik anak ketika dia melakukan hal-hal di atas semasa mereka masih kanak-kanak.

-Tahapan sebelum tujuh tahun

1. Mengajari anak sebagian hukum-hukum thaharah (bersuci), seperti pentingnya menjaga diri dari najis seperti kencing dan selainnya, mengajari tata cara bersuci dan adab-adab buang hajat, mengajari pentingnya menjaga kebersihan diri dan pakaiannya serta menjelaskan keterkaitan thaharah (kebersihan) dengan shalat.

2. Mengajari anak surat al-Fatihah dan beberapa surat pendek sebagai persiapan untuk shalat.

3. Mengajari mereka wudhu dan melatih mereka untuk mempraktikkannya, sebagaimana yang dilakukan oleh para Shahabat Radhiyallohu 'Anhum terhadap anak-anak mereka

4. Sebelum umur tujuh tahun kita mulai mengajarinya shalat dan memotivasinya untuk shalat fardu satu atau dua kali dalam sehari, dan pada tahap ini (di bawah tujuh tahun) kita tidak meminta dia untuk shalat lima waktu secara sekaligus.

5. Hendaknya kita mengingat pentingnya mendampingi anak-anak di saat mereka shalat jum’at setelah kita mengajari mereka adab-adab masjid, sehingga mereka terbiasa menunaikan syi’ar ini (shalat jum’at) dan dia merasakan permulaan masuk dan bergabungnya dengan masyarakat.

- Tahapan antara tujuh tahun hingga sepuluh tahun.

Di dalam hadits Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan).

Hendaklah anak-anak mempelajari hadits ini, dan dia sekarang berada pada tahapan pembiasan diri untuk shalat. Oleh sebab itu, sebagian pendidik menasihatkan agar pada hari masuknya seorang anak pada usia 7 tahun ada sebuah peristiwa yang istimewa dalam hidupnya agar dia mengingat bahwa dia sudah berada pada umur tersebut.

Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam telah mengkhususkan 3 tahun berturut-turut untuk menanamkan shalat pada jiwa-jiwa anak-anak. Dan kita mengulang-ulang permintaan shalat dari anak-anak kita dengan halus, lemah-lembut dan kecintaan. Dan dengan metode perhitungan kita mendapati bahwa jumlah pengulangan selama periode ini lebih dari 5000 kali dalam kurun waktu tiga tahun. Maksudnya, bahwa kedua orang tua mengingatkan anak-anaknya dan mengajaknya shalat, dan ini menjelaskan kepada kita arti penting pengulangan dalam praktik pendidikan dengan pengulangan yang disertai dengan wajah yang berseri-seri dan bagusnya lafazh. Dan setiap kebaikan bisa didapatkan dengan kebiasaan (membiasakannya).

Dan selama masa-masa ini seorang anak belajar hukum-hukum dan tata cara bersuci Nabi Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam, beberapa do’a khusus yang berkaitan dengan shalat.

* Tahapan perintah shalat dan pukulan apabila meninggalkannya.

Dan merupakan hal yang sangat urgen adalah kita selalu mengulang-ulang –pada masa tujuh tahun- di telinga anak sabda Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam yang memberikan batasan hukuman pukulan setelah umur 10 tahun, sebagai peringatan agar tidak menyepelekan shalat. Lalu apabila dia tetap meninggalkan shalat, maka harus diberi hukuman dengan pukulan. Akan tetapi, pukulan dibenarkan apabila sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam kepada kita.

Apabila seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang baik, dan orang tuanya perhatian terhadap hal yang telah disebutkan di atas, dan keduanya menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menjaga shalat, maka sangat sulit bagi anak untuk tidak terikat dengan shalat dan dia akan konsisiten dengan shalatnya, lebih-lebih hal itu disertai dengan dorongan materi dan maknawi.

Dan pada periode ini (setelah umur 10 tahun) wajib atas kedua orang tua dan siapa saja yang berke-cimpung di dunia pendidikan anak untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat jama’ah, shalat sunnah, shalat Witir, dan dahulu Rasulullah Shallallohu 'Alaihi Wa Sallam mengajari Anas bin Malik Radhiyallohu 'Anhu shalat Istikharah sekalipun Anas bin Malik Radhiyallohu 'Anhu masih kecil.

Sebagaimana juga untuk memperhatikan shalat Fajr (shubuh) dan Isya’ pada periode ini, dan membiasakan mereka untuk menjaga semua shalat fardhu apapun alasannya, khususnya di hari-hari ujian sekolah. Apabila mereka ketinggalan shalat karena lupa, maka hendaknya mereka shalat ketika mengingatnya, dan apabila ketinggalan shalat karena malas, hendaklah kita mengajari mereka agar bersegera bertaubat dan beramal shalih seperti sedekah dari uang sakunya dan amalan-amalan shalih yang lain, semoga dengan demikian Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuninya.

Dan kami ingatkan akan pentingnya kesepakatan kedua orang tua untuk menempuh langkah-langkah yang telah disebutkan di atas, dan untuk saling tolong-menolong agar menjadi teladan bagi anak-anaknya pada setiap perbuatannya. Dan hendaklah setiap orang tua memperbanyak do’a, “Wahai Rabb, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang menegakkan shalat, wahai Rabb kami kabulkanlah do’a (kami).” Dan do’a, “Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Abu Yusuf Sujono).

Alhamdulillah..this is friday :)
23/10/2015

Alhamdulillah..this is friday :)

SUNNAH NABI SAAT MENYAMBUT KELAHIRAN BAYIBismillaah . . .Salah satu langkah awal yang baik untuk terwujudnya anak-anak s...
22/10/2015

SUNNAH NABI SAAT MENYAMBUT KELAHIRAN BAYI

Bismillaah . . .

Salah satu langkah awal yang baik untuk terwujudnya anak-anak sholeh adalah dengan menanamkan ajaran agama sedini mungkin pada diri anak-anak. Dan setiap orangtua hendaknya berkomitmen untuk memberikan pendidikan agama yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada anak-anak mereka.

Penanaman nilai-nilai agama itu sesungguhnya bisa dimulai sejak masa kehamilan. Sebagaimana yang telah disarankan para ulama, bahwa hendaknya setiap wanita hamil memperbanyak dirinya dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Pada masa kehamilan di trimester kedua, dimana ruh telah ditiupkan, para pakar mengemukakan bahwa janin telah dapat mendengar apa yang ada di sekeliling mereka. Maka hendaknya ibu memperbanyak mendengarkan ayat-ayat Allah pada janinnya, atau ayah membisikkan kalimat-kalimat thayyibah sambil membelai perut istrinya.

Sedangkan saat menyambut kelahiran si kecil, berikut ini ada beberapa sunnah Rasulullah yang kami sarikan dari beberapa sumber dan dalil yang shahih :

1. Mentahnik bayi dengan kurma dan mendoakan keberkahan atasnya

Tak banyak orangtua yang memahami bahwa tahnik adalah sunnah Nabi yang sangat dianjurkan saat bayi baru lahir. Tahnik adalah memasukkan kunyahan/lumatan buah kurma ke dalam mulut bayi yang baru lahir dan menggosokkannya dengan lembut di langit-langit mulut bayi sampai seluruh bagian dari mulut bayi tersebut terolesi dengan sari buah kurma. Jika kurma sulit untuk didapat, boleh diganti dengan sari kurma yang sudah jadi atau madu.

Apakah tidak bahaya bagi bayi?

Bayi yang baru lahir terutama bayi yang lahir prematur atau bayi dengan berat lahir kurang, memiliki kandungan glukosa yang sangat kecil dalam darahnya (umumnya hanya di bawah 30mg per 100 ml darah). Jika kekurangan zat gula ini tidak segera dipenuhi, biasanya bayi akan mudah menolak ASI ibunya, otot-ototnya lemas, gangguan syaraf, bahkan berujung pada kematian. Biasanya, dokter akan memberikan tambahan zat gula pada bayi baru lahir yang kurang berat badannya atau prematur mellaui infus atau langsung melalui mulut.

Dan kurma adalah penghasil glukosa yang sangat baik dan bagus untuk kesehatan bayi. Mentahnik bayi dengan kurma dapat memperkuat otot-otot mulut bayi sehingga bayi akan kuat menyusu pada ibunya. Dan ketika bayi kuat menyusu, maka insya Allah ASI akan menjadi lancar dan berlimpah.

Dalil-dalil disunnahkannya mentahnik bayi :

Dari Abu Burdah dari Abu Musa ia berkata: “Telah lahir anakku, lalu aku membawanya dan mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memberinya nama Ibrahim dan kemudian men-tahnik-nya dengan kurma.” Imam Bukhari menambahkan: “dan beliau mendoakan kebaikan dan memdoakan keberkahan baginya, lalu menyerahkan kembali kepadaku.” (HR. BUkhari & Muslim)

Dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah bin Zubair di Mekkah : “Aku keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku datang ke Madinah, kemudian aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah, maka Rasulullah menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, dan beliau meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah bin Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (Rasulullah mentahniknya), dan kemudian beliaupun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.”

2. Melaksanakan aqiqah dan mencukur rambut bayi

Islam mensyariatkan penyembelihan aqiqah untuk bayi yang baru dilahirkan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah (berupa kelahiran bayi). Dan para ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya, apakah hal ini wajib atau sunnah. Mayoritas ulama, dan ini adalah pendapat yang paling rajih, hukum aqiqah untuk bayi yang baru lahir adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat ditekankan atau dianjurkan.

Sebagaimana sabda Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam :

“Setiap anak yang baru lahir tergadai dengan aqiqahnya, (sampai) disembelihkan (aqiqah) itu untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albany).

Waktu pelaksanaan aqiqah yang paling utama adalah pada hari ketujuh dari kelahirannya. Jika telah lewat, maka pada hari ke empat belas. Jika lewat juga, maka pada hari ke dua puluh satu. Jika lebih dari itu, maka tidak termasuk dalam sisi keutamaannya, namun tidak mengapa.

Sedangkan jumlah kambing sembelihan adalah dua kambing untuk anak laki-laki, dan seekor kambing untuk anak perempuan. Namun jika tidak mampu, maka satu kambing pun cukup baik untuk anak laki-laki maupun perempuan.

Dan untuk masalah mencukur rambut bayi yang baru lahir ini yang benar adalah mencukur seluruh rambut yang ada di kepala, bukan hanya sebagiannya saja. Disunnahkan setelah mencukur rambut adalah memberi wewangian dan mengusapkannya pada kepala bayi. Rambut yang dicukur tadi kemudian ditimbang dan hasilnya disetarakan dengan perak yang kemudian disedekahkan untuk fakir miskin.

3. Memberi nama yang baik dan indah

Dari Abu Dawud, dengan isnad yang shahih dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Rasululullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan menggunakan nama-nama kalian dan dengan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian.”

Hendaknya orangtua memberikan nama-nama yang baik kepada anak-anak mereka, agar anak-anak jauh dari cemoohan dan ejekan. Dan jangan lupa, bahwa nama adalah do’a dari orangtua kepada anak-anaknya. Maka berikanlah nama yang baik sebagai do’a yang baik p**a untuk anak-anak kita. Gunakanlah nama-nama Islami yang diajarkan oleh Rasulullah, dan jauhi penggunaan nama-nama yang menyerupai penamaan orang-orang kafir.

4. Memberikan penyusuan sempurna sampai 2 tahun

5. Mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi bayi serta menjauhkan diri dari memasang jimat-jimat

Haram hukumnya memasangkan kalung atau jimat-jimat dalam tubuh seorang anak dengan alasan untuk perlindungan anak tersebut. Yang diperbolehkan adalah melindungi anak dengan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Address

Banjarmasin

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kaos Muslim Banjarmasin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share