06/02/2015
perempuan bagi pahlawan
Di balik setiap pahlawan besar
selalu ada seorang perempuan
agung. Begitu kata pepatah arab.
Perempuan agung itu biasanya satu
dari dua, atau dua-duanya
sekaligus ; sang ibu dan atau sang
istri.
Pepatah itu merupakan hikmah
psiko-sejarah yang menjelaskan
sebagian dari latar belakang
kebesaran seorang pahlawan. Bahwa
karya-karya besar seorang pahlawan
lahir ketika seluruh energi di dalam
dirinya bersinergi dengan
momentum di luar dirinya; tumpah
ruah bagai banjir besar yang tidak
terbendung. tiba-tiba, sebuah sosok
telah hadir dalam ruang sejarah
dengan tenang dan ajeg.
apa yang dijelaskan oleh hikmah
psiko-sejarah itu adalah sumber
energi para pahlawan; perempuan
adalah salah satunya. Perempuan
bagi banyak pahlawan adalah
penyangga spiritual, sandaran
emosional ;dari sana mereka
mendapatkan ketenangan dan
gairah, kenyamanan dan keberanian,
keamanan dan kekuatan. Laki-laki
menumpahkan energinya diluar
rumah dan mengumpulkannya
kembali dari dalam rumahnya.
kekuatan besar yang dimiliki para
perempuan yang mendampingi para
pahlawan adalah kelembutan,
kesetiaan, cinta, dan kasih sayang.
kekuatan itu sering dilukiskan
seperti dermaga tempat kita
menambat kapal atau pohon rindang
tempat sang musafir berteduh.
namun,kekuatan emosi itu
sesungguhnya merupakan padang
jiwa yang luas dan nyaman. tempat
kita menumpahkan sisi kepolosan
dan kekanakan kita, tempat kita
bermain dengan lugu dan riang, saat
kita melepaskan kelemahan-
kelemahan kita dengan aman, saat
kita merasa bukan siapa-siapa. saat
kita menjadi bocah besar. Sebab, di
tempat dan saat seperti itulah para
pahlawan menyedot energi jiwa
mereka.
itu sebabnya Umar Bin Khattab
mengatakan, “jadilah engkau bocah
di depan istrimu, tetapi berubahlah
menjadi lelaki perkasa ketika
keadaan memanggilmu” kekanakan
dan keperkasaan, kepolosan dan
kematangan, saat lemah dan saat
berani, saat bermain dan saat
berkarya, adalah ambivalensi-
ambivalensi kejiwaan yang justru
berguna menciptakan
keaseimbangan emosional dalam diri
para pahlawan.
“Saya selanjutnya ingin menjadi
bocah besar yang polos”, kata Sayyid
Qutb. Para pahlawan selalu
mengenang saat-saat indah ketika ia
berada dalam pangkuan ibunya dan
selamanya ingin begitu ketika
terbaring dalam pangkuan istrinya.
Siapakah yang pertama kali ditemui
Rasulullah SAW setelah menerima
wahyu dan merasakan ketakutan
yang luar biasa?Khadijah!
maka,ketika Rasulullah ditawari
untuk menikah setelah Khadijah
wafat, beliau mengatakan, “dan
siapakah wanita yang sanggup
menggantikan peran Khadijah?”
Itulah keajaiban dari kesederhanaan.
kesederhanaan yang sebenarnya
adalah keagungan;kelembutan,
kesetiaan, cinta, dan kasih sayang.
Itulah keajaiban perempuan.
http://4angga.wordpress.com
Just another WordPress.com weblog