03/09/2014
Class of '91
Sebentar lagi Timnas U-19 akan berlaga di ajang AFF Cup U-19 2014 Myanmar. Namun disayangkan hasil pertandingan-pertandingan akhir ini performa Garuda Jaya menurun, harus segera dilakukan perbaikan dari segi psikologis. Nah buat para pecinta sepakbola tanah air, biar semangat lagi nonton timnas. Berikut kami sisipkan artikel sejarah timnas Indonesia di ajang Sea Games XVI Manila 1991.
The Dream Team of Indonesia
Dari segelintir pelatih yang pernah melatih tim nasional Indonesia nama Anatoli Polosin pantas disebut-sebut sebagai salah satu pelatih paling sukses bersama garuda. Bersama trio Anatoli Polosin, Vladimir Urin, dan Danurwindo tim sepakbola Indonesia mempersembahkan trophi medali emas Sea Games Manila 1991, Rizal Stadium memorial menjadi saksi ketika Ferri Hattu dkk tidak mampu menahan haru menyaksikan bendera Merah putih gagah berkibar ditengah diapit bendera Thailand dan Singapura, di iringi syahdunya lagu Indonesia raya. Ini menjadi puncak prestasi sepakbola Indonesia sampai sekarang.
Gaya melatih Polosin khas tim-tim Eropa timur yang mengandalkan kekuatan fisik, sederhananya tanpa fisik yang prima taktik dan strategi apapun tidak berjalan efektif. Gaya permainan tim-tim Eropa timur memang menyulitkan tim manapun, maka tidak heran jika Steau Bucharest dari Rumania bisa memenangkan piala Champion Eropa 1986, juga Red Star Beograd dari Yugoslavia juara piala Champion Eropa 1991 serta Uni Sovyet yang bisa menembus final Eropa 1988. Terinspirasi dari gaya bermain tim Eropa timur, Polosin tidak ragu menerapkan metode latihan fisik yang diluar batas kemampuan pemain kita saat itu tujuannya hanya satu merebut kembali emas Sea Games dari tangan Malaysia, terakhir di Sea Games 1989 Kuala Lumpur tim garuda hanya membawa pulang perunggu.
Postur timnas yang bertenaga kuda, tak ngos- ngosan, dan spartan selama tempo permainan berlangsung sangat diidolakan trio pelatih Polosin, Urin dan danurwindo. Gaya latihan Polosin memakan korban dua gelandang timnas Fachry Husaini dan Ansyari Lubis mundur dari timnas, tidak jarang dalam sesi latihan banyak pemain yang muntah. Polosin tahu persis karakter pemain Indonesia yang kurang disiplin dan manja menjadi alasan timnas selalu kalah bersaing. Untuk menunjang permaianan yang Spartan mengandalkan fisik Polosin mengisi sebagian besar skuad Sea Games dengan talenta-talenta muda, tercatat hanya ada 4 pemain senior dalam timnas Manila 1991 yaitu Bambang Nurdiansyah, Ferril Raymond Hattu, Eddy Harto dan Hanafing sebagian besar pemain muda usia dibawah 23 tahun seperti Widodo C. Putro, Aji Santoso, Peri Sandria, Sudirman dll.
Sebelum berlaga di Sea Games timnas sempat beruji coba dengan ikut President Cup di Seoul, Korea Selatan, di turnamen ini Garuda babak belur dihajar Malta 0-3, Korea Selatan 0-3 dan Mesir 0-6. Gagal total di negeri ginseng tidak justru membuat mental anak-anak garuda drop.
Dipertandingan pertama Sea Games 1991 Indonesia bertemu musuh bubuyutannya Malaysia, di Sea Games 1989 Malaysia mencukur Indonesia 0-2. Hasil polesan Polosin sudah mulai kelihatan, disiplin pemain timnas khusunya pemain belakang sangat bagus Malaysia tidak berdaya menyerah 0-2. Dua hari berikutnya timnas bertemu Vietnam, tanpa kesulitan timnas mengalahkan negerinya Paman Ho 1-0. Di partai terakhir berjumpa tuan rumah Filipina, Polosin sengaja menyimpan sebagian besar pemain inti dengan memainkan pemain lapis kedua, sempat tertinggal 0-1 di babak pertama timnas bangkit dan memukul tuan rumah 2-1 dengan salah satu gol dicetak oleh Widodo C. Putro. Di semifinal timnas mengubur impian tim singa Singapura lewat drama adu penalti 0-0 (4-2), kekalahan timnas di semifinal Sea Games 1989 terbayarkan.
Di partai puncak yang mendebarkan tim nasional mampu mengimbangi permainan negeri gajah putih Thailand dalam interval waktu 2×45 menit plus 2×15 menit skor tidak berubah 0-0. Masuk babak adu penalti, ratusan juta supporter Indonesia tegang di depan layar televisi, sama tegangnya dengan pemain yang akan mengambil tendangan penalti. Sampai penendang kelima skor sama kuat 3-3, karena sama kuat di lanjutkan dengan penendang keenam, Kiper Edy harto dengan mantap mampu menepis tendangan keenam Thailand, Indonesia berubah ceria. Penendang keenam Indonesia diambil oleh Sudirman, dengan langkah mantap Sudirman mengarahkan bola dengan keras agak ketengah kiper, kiper Thailand terperangah tidak menyangka bola mengarah ketengah atas, gol..gol..teriak komentator bola dari layar TVRI, Indonesia histeria gembira.. pemain saling berpelukan, perjuangan selama kurang lebih setahun dengan latihan fisik yang luar biasa keras berbuah emas, Polosin dipuja, namanya di banggakan dan seluruh skuad timnas menjadi pahlawan, nama Indonesia membahana ke seantero Asia Tenggara, bukan Thailand, bukan Malaysia yang rajai Asean tapi Indonesia.
Semoga Semangat juang Class of '91 tertular bagi para pemain Garuda Jaya diajang AFF Cup U-19 nanti.
Dukung Garuda Jaya dan fanpage ini dengan memberi komentar, like dan share nya ya..hehe.
Terimakasih
Filantropi Jersey
sumber: https://jaranprabu.wordpress.com/category/sepak-bola/indonesia/