Motees Brand

Motees Brand Social Movement as Lifestyle
We wear Motees Brand for a Better Living
Line: moteesbrand
Whatsapp: 0819-1552-5964
Find more product:
www.moteesbrand.com

Customer Care:

BBM 76B9525C
Whatsapp 087884897424

Our Twitter : https://twitter.com/motees_brand

Di bawah rindang pohon yang berbuah tanpa tergesa, Cak John berdiri dengan kaus lama yang masih setia menempel pada tubu...
19/03/2026

Di bawah rindang pohon yang berbuah tanpa tergesa, Cak John berdiri dengan kaus lama yang masih setia menempel pada tubuhnya. Bukan kain usang belaka, melainkan sebuah keputusan: untuk tidak tunduk pada siklus konsumsi yang tergesa-gesa. Dalam dunia yang memuja kebaruan, ia memilih bertahan pada yang telah dikenalnya—sebuah bentuk kesederhanaan yang tidak miskin makna.

Kaus itu bertuliskan, “Saya bahasa?”—sebuah pertanyaan yang terasa ganjil (mimin tidak tahu sejarah penciptaan kata-kata itu). Seakan-akan ia tidak hanya bertanya kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri: apakah aku telah menggunakan bahasa dengan baik? Apakah aku merawatnya sebagaimana aku merawat benda yang kupakai setiap hari?

Dalam kajian lingkungan, prinsip reduce, reuse, recycle adalah kebutuhan mendesak. Seperti yang dicatat dalam penelitian oleh Ellen MacArthur Foundation, “perpanjangan usia pakaian secara signifikan dapat mengurangi jejak karbon industri tekstil.” Kaus lama ini, dengan segala pudar dan lipatannya, menjadi bentuk kecil perlawanan terhadap limbah yang tak terlihat.

Namun lebih dari itu, ia adalah pernyataan batin. Seperti bahasa, pakaian menyimpan jejak waktu. Ludwig Wittgenstein pernah menulis, “The limits of my language mean the limits of my world.” Jika bahasa kita rusak, dunia kita pun menyempit. Maka merawat bahasa—memilih kata, menjaga makna—adalah tindakan yang tidak kalah penting dari merawat kain.

Ada kesederhanaan yang polos di sini. Tidak berteriak, tidak menggurui. "Hanya" sebuah kaus lama, dengan pertanyaan lugu: apakah kita masih peduli pada apa yang kita gunakan—baik itu pakaian, maupun bahasa?

All Cats Are Beautiful (and Other Lies Humans Tell)Kata orang, semua kucing itu indah.Mereka menulisnya di internet, men...
05/10/2025

All Cats Are Beautiful (and Other Lies Humans Tell)

Kata orang, semua kucing itu indah.
Mereka menulisnya di internet, menempelkannya di mug, di kaus, di takarir foto. Tapi hanya sedikit yang benar-benar menghayatinya. Karena ketika seekor kucing datang dengan bulu rontok, gusi berdarah, napas berat, dan mata setengah terbakar oleh hari-hari buruk —mereka berpaling. Mereka bilang, “kasihan”, tapi jarang bilang “ayo pulang.”

Aku belajar arti “indah” dari yang seperti itu. Dari kucing yang menggigil tapi masih mau tidur di pelukanku, yang makan pelan-pelan meski lidahnya perih —bila makan cepat berarti kemudian muntah darah— yang tetap menggesekkan kepala ke tanganku setelah muntah karena obat. Keindahan, rupanya, bukan pada bentuk. Ia ada pada keberanian untuk tetap percaya bahwa esok bisa lebih lembut.

Sekarang ia tidur, berselimut kuning pucat. Tubuhnya tenang, matanya separuh tertutup, napasnya berat tapi teratur. Mungkin setelah bertahun-tahun, ia tidak harus bertarung untuk hidup — cukup untuk tidur.

“All cats are beautiful.”
Aku tidak lagi mengucapkannya sebagai kalimat manis. Aku mengucapkannya sebagai doa. Doa bagi yang ompong, yang pincang, yang penuh bekas gigitan dunia —agar mereka semua menemukan tempat di mana tidak ada yang diukur, tidak ada yang disingkirkan, dan tidak ada yang perlu cantik untuk bisa dicintai.

Foto dan teks: Papawnya Srêngéngé Srinivasa Galois

Srêngéngé memiliki autoimunitas EGC (Eosinophilic Granuloma Complex). Penyakit yang berat untuk kucing, dan bisa terasa kejam karena menyerang bagian tubuh yang paling ia perlukan untuk hidup: mulut.

Sariawan dan luka di lidah, gusi, atau bibir membuat setiap gigitan terasa seperti menelan api.

Di balik secangkir kopi, tersembunyi kisah manusia yang jarang terdengar. Kisah Dukale, seorang petani muda dari tanah E...
01/10/2025

Di balik secangkir kopi, tersembunyi kisah manusia yang jarang terdengar. Kisah Dukale, seorang petani muda dari tanah Ethiopia, adalah satu di antaranya. Dengan kedua tangannya ia menggarap bumi, menanam biji yang kelak akan menghangatkan hati banyak orang di penjuru dunia. Namun, seperti jutaan petani kecil lain, jerih payahnya dahulu tak berbanding lurus dengan kesejahteraan yang ia terima.

Takdir mempertemukan Dukale dengan seorang pengembara dari dunia hiburan, Hugh Jackman namanya. Di hadapan mata sang aktor, terpancar keteguhan hidup seorang petani sederhana. Dari tatapan itulah lahir janji: bahwa suara kecil dari ladang kopi tak boleh lagi tenggelam oleh hiruk pikuk pasar global. Janji itu berbuah dalam Laughing Man Coffee, sebuah usaha yang menyalurkan keuntungan kembali kepada tangan-tangan yang sejatinya menumbuhkan kehidupan.

Apa arti segenggam biji kopi? Ia adalah pertautan nasib manusia: dari tanah subur di Afrika, dari peluh yang jatuh di ladang, hingga bibir yang menyesap hangatnya di negeri jauh. Ketika secangkir kopi menjadi sarana keadilan, maka aroma yang terbit darinya bukan sekadar MEREBAK, melainkan doa harapan bahagia —KEDAULATAN, dan syukur.

Dukale kini bukan hanya nama, melainkan lambang. Lambang bahwa kerja keras petani dapat memperoleh tempat terhormat bila dunia mau mendengar. Ia mengingatkan kita: membeli dengan hati adalah ibadah kemanusiaan. Maka, setiap seruput kopi adil adalah pengakuan, bahwa jerih keringat di ladang bukanlah sia-sia, melainkan nyanyian kehidupan yang patut kita jaga.

"Manta ray, soft wings of the sea, gliding as a prayer unspoken."Time itself seems to slow when a manta ray passes. Its ...
30/09/2025

"Manta ray, soft wings of the sea, gliding as a prayer unspoken."

Time itself seems to slow when a manta ray passes. Its vast body, heavier than ours, becomes weightless, as if the ocean were not water but a fabric of time made visible. Physics tells us that every motion is relative, that what we see is not the creature alone but our gaze entangled with it. The manta ray is not simply in the sea—it is sea, wave, and rhythm, inseparable from the medium that cradles it.

Each movement sketches vortices, spirals that bloom and dissolve, echoing how our own lives pass briefly through time before vanishing into the greater current. The equations of fluid mechanics can describe this flow, yet they do not capture why it feels like tenderness. Matter has, in this form, become grace.

And yet, this grace is imperiled. The manta ray glides through waters that grow emptier each year, hunted for gills that serve no real need, ensnared in nets cast wider than necessity, threatened by oceans acidifying with our excess. Extinction is not a law of physics; it is a choice written by human appetite.

To watch a manta ray is to witness entropy slowed, beauty unfolding against the drift of dissolution. To lose it would be to silence a prayer the Earth has spoken for millions of years.

Perhaps that is why its passage touches us so deeply: because we, too, are brief eddies in the river of time, and what we destroy in them, we also destroy in ourselves.

.Edisi Kolektor-
13/10/2023

.
Edisi Kolektor
-

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Motees Brand posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Motees Brand:

Share