15/01/2016
ADA CINTA MONYET DI GANG KIWI!
Kampung Bajo. Jika kamu berjalan kaki sekitar dua ratusan meter dari jalan raya turun ke pasar lama menuju jalan baru, memandang ke utara kampung ini, kamu akan temui satu jalan setapak yang membelah Kampung Air menuju Kampung Tengah. Diberi nama Gang Kiwi. Jalan setapak yang telah diresmikan ketika menyambut perayaan Sail Komodo 2013 lalu. Gang yang cukup untuk sebuah sepeda motor keluar-masuk rumah-rumah panggung yang sesungguhnya hampir tak berantara.
Sebelum pembangunan jalan baru [reklamasi pesisir Labuan Bajo], gang ini sungguh mudah kita jumpai para pemuda, remaja sampai bocah-bocah yang cenderung berkerah di sekitaran itu. Gang ini semacam titik tongkrongan, kalau mau cari si ini atau si itu cari di sekitar gang kiwi saja, pasti ketemu. Dulu pernah begitu.
Jalan setapak yang sesungguhnya banyak menyimpan pengalaman, bertatapmuka dan berbagi cerita. Dari sekadar bermain kartu di kolong rumah, nongkrong di tangga rumah sambil memetik gitar untuk sebisa mungkin mencuri perhatian tetangga, atau kadang memampatkan gang sempit di depan rumah Om Yani sembari menunggu antrian gameplay sewaannya. Hingga sekadar menghabiskan waktu sore dan malam hari bercerita macam rupa di gelampang rumah-rumah tepi gang sampai berlarut-larut.
Besok, jika di malam minggu kamu berjalan kaki melewati Gang Kiwi dan berujung di tepian RT 18, bersualah dengan kami di Kampung Air, kasih. Kamu akan temui keluarga kecil UNUSUALLY akan menggelar pemutaran film pendek tentang cinta persis di depan rumah-kios milik Om Syukur yang baik hatinya.
Siapapun boleh datang. Jangan lupa bawa pengalamanmu. Sebab banyak harapan yang pernah singgah yang perlu rasanya kita obrolkan bersama, termasuk pengalaman penting tentang cinta-monyet-mu. Cinta yang pernah tumbuh dengan bodoh, lucu, dan mengesankan itu.
Ba'da isya film 'Pejuang Subuh' segera diputarkan tepat di hadapanmu. Mari, datanglah teman. Ajak pacar, adik, atau kakakmu. Ada kopi, teh, dan kue buatan ibu-ibu di Kampung Air. Ada Ibu Sitti, Ibu Nawa dan Ibu Enggang yang bisa dicicipi dengan percuma malam nanti. Demi Tuhan kami hanya ingin dipertemukan kembali dengan sederhana. Bahagia itu saja!