18/05/2022
*Di negeri orang
Sy akan ceritakan pengalaman PCR di negeri orang.
Pertama2, sy daftar online. Website resmi jaringan RS kota ini sangat powerful. Semua dijelaskan di sana. Lokasi, jam, prosedur, detail. Lantas booking. Bebas pilih mau di 'puskesmas' manapun. Klik, klik, pilih jam, tulis nama, alamat email, alamat, beres. Langsung keluar notifikasi booking sdh konfirm.
24 jam sebelum PCR, mereka kirim email mengingatkan. Jangan lupa, besok PCR loh. Okay, sy memang akan meluangkan waktu.
Esoknya, tiba di lokasi 15 menit sebelum jadwal. Ada petugas ramah di depan pintu masuk, bilang, 'No problem', tidak apa datang lebih awal, menunjuk ruangan PCR. Ada penjaga di meja pendaftaran, memastikan sudah booking. Kemudian divalidasi. Tak sampai 5 menit, beres, disuruh nunggu di kursi2 antrian. Ada 4-5 orang.
Kiran lama bakal nunggu, ternyata loket test ada 3. Tak sampai 5 menit antri, sudah dipanggil. Yang nge-test juga ramah. Beres. Keluar dari 'puskesmas' tersebut.
90 menit kemudian, hasil PCR sudah diemail. Dan bukan hanya test PCR, mereka juga sekalian test flu, RSV. Jadi dokumen hasilnya panjang. Bukan 24 jam, bukan 12 jam, atau 6 jam. Cukup 90 menit, hasilnya keluar. Jika tdk panjang antrian, bisa kurang dari 60 menit.
Berapa yang harus sy bayar utk semua kenyamanan, kemudahan itu? 0 dollar. Alias gratis tis tis. Mereka tdk nanya, sy warga negara mana, mereka tdk nanya, kamu punya uang buat bayar atau tidak. Bahkan mereka tdk perlu lihat paspor. Mereka semangat nge-test siapapun yang mau test PCR. Gratis. Bebas mau berapa kali.
Sementara di Indonesia, biaya test antigen, PCR selama pandemi bisa beli sepeda motor! Nyaris tiap minggu jika ada acara literasi keluar kota, harus test, test, test!
Demikianlah hikayat PCR di negeri orang. Maka berhentilah jika Tere Liye sedang mengkritik tentang utang negara ini atau tentang korupsi, lantas netizen komentar, 'Sana, Tere Liye pindah saja ke Luar Negeri!'
Wah, dik, kalau kamu minimal mau ngasih tiket pesawatnya, fix, sy akan pindah. Sesimpel itu. Tapi jika kamu, bahkan lapor SPT saja tidak pernah, bahkan tdk tahu apa itu SPT, duh Gusti, kamu teh mingkem dulu.
*Tere Liye, penulis buku 'Negeri Para Bedebah'