Rumah branded kids ex exsport yuki shop

Rumah branded kids ex exsport yuki shop Grosir gamis muslim malang langsung dari konveksi. Grosir, ecer, dropship

16/11/2022

Walau di Madu tapi Aku Istri Paling Disayang

Part 1…

“Kamu mau dicerai atau dimadu.” Tegas, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut mertua Zahra. Tanpa mau menatap wajah sang menantu, Bu Anin berbicara seolah- olah perkataannya sama sekali tak menyakitkan.

Zahra tercenggang, beberapa saat dia hanya bisa diam. Mencoba mencerna maksud Ibu mertua. Baru saja datang ke rumah mertuanya, melihat sang suami sudah ada disana bersama semua anggota keluarga besar. Di depanya, duduk beberapa orang asing yang sama sekali tak dikenal. Dan kini, langsung saja Ibu mertuanya itu menodong dengan pilihan yang diluar perkiraannya.

“Zahra? Kenapa kamu hanya diam saja!” Bentakan mertuanya langsung membuat tersadar dari lamunan.

Ia melirik pada lelaki yang duduk sambil menundukkan wajah disampingnya. Mata lelaki itu dingin, hanya menatap lantai porselin mengkilap yang entah apa yang ada dalam fikirannya. Mengetahui Zahra yang kebingungan, lelaki disampinya itu langsung menggengam tangannya. Tangan kekar bergetar, mencengkeram lebih kuat sehingga berhasil membuat Zahra sedikit lebih tenang.

Zahra sadar, bukan hanya dia yang terluka, tapi suaminya juga. Entah apa yang terjadi, tak biasanya Bian bersikap seperti ini jika keluarganya sedang menyudutkan Zahra. Biasanya lelaki itu akan selalu membela sang istri apapun yang terjadi.

Bagai sama- sama merasakan kepedihan, Zahra hanya bisa berkomunikasi lewat pertalian batin dengan suaminya. Ada apa dengan sang suami? Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini. Terlihat lelaki itu menyeka bulir bening yang menetes sambil masih terus menuduk.

“Bian Levin Purnomo, adalah satu- satunya anak lelaki dari keluarga ini. Penerus bisnis dari Kerajaan Purnomo. Ibu minta kamu jangan egois. Kalian sudah menikah selama hampir lima tahun. Tapi selama itu p**a kalian belum memberi keturunan kepada ibu. Ibu sudah lelah menunggu. Keluarga Sutanto harus punya penerus dari anak lelakinya.”

Hati Zahra terasa sakit bagai dihujam belati. Anak? Siapa yang tidak menginginkan nya. Siapa pun mereka yang membina rumah tangga pasti menginginkan buah hati ada diantara mereka.

Menoleh pada Bian yang masih terpaku. Suaminya itu masih diam, tapi semakin memper-erat genggaman. Lelaki yang pernah berjanji apapun yang akan terjadi dia tak akan meninggalkannya. Tapi jika seperti ini? Akankah janji itu masih bisa terpenuhi?

Menutup mata, bulir bening keluar begitu saja dari mata berwarna abu alami milik Zahra. Dalam tangis tanpa suara, dia kemudian tersenyum getir.

“Siapa yang akan menjadi adik maduku itu, Ibu? Kenalkan padaku?”

Bian yang kaget langsung menoleh pada sang istri, menggelengkan kepala dengan lemas. Tapi Zahra, wanita itu malah mengangguk. Seolah mengatakan bahwa dia baik- baik saja. Batin mereka seperti tersambung, seperti sama- sama bisa merasakan kepedihan yang sama tanpa bisa berbuat apa- apa.

"Ini adalah Kinara, teman masa kecil Bian. ”Mertuanya menunjuk seorang wanita. “Wanita cantik, berpedidikan dan tentunya lebih sederajat. Bukan wanita yang berasal dari panti.”

“Ibu, hentikan,” Bian bereaksi, memandang dengan tatapan tidak s**a kepada sang Ibu. Dia tak mau istrinya dihina. Reaksi Bian membuat ibunya terdiam beberapa saat.

“Kenapa, Bian? Ibu yakin, Kinara bisa memberikan Ibu cucu dari darah dagingmu,” lanjut Sang Ibu.

Bian ingin menjawab lagi, tapi seketika Zahra memegang lututnya. Mengisyaratkan agar suaminya itu jangan lagi menjawab.

Pandangan Zahra kemudian menyorot pada Kinara, wanita yang tadi dilihat ketika sampai di rumah ini. Wanita asing yang tak disangka adalah calon adik madunya.

“Aku mohon mbak bisa menerimaku sebagai adik madu, aku yakin bisa melengkapi kekurangan mbak, yang tak bisa memberikan momongan pada Mas Bian, ”Kinara angkat bicara, memandang dengan raut kasian kearah Zahra. Nada bicara wanita itu lembut, sopan khas wanita terpelajar, tapi menusuk dan terkesan sombong. Ucapannya itu membuat air mata Zahra semakin mengalir.

Bian langsung melotot tajam ke arah teman masa kecilnya itu, rahang kokohnya mengeras, seakan menunjukkan nada ketidaks**aan.

Sementara Kinara, ia langsung menunduk ketika melihat tatapan sinis calon suaminya.

"Ibu ingin menikahkan Bian dengan Kinara, titik.”

Memejamkan mata, lalu menghirup nafas dalam. Zahra menetralkan hati, supaya sedikit demi sedikit dapat berdamai dengan keadaan sama sekali tak dia inginkan. Tapi, luruh juga air mata. Menatap wajah imamnya yang masih dihiasi rasa ketidaks**aan terhadap perkataan Kinara. Lelaki itu masih terus saja menatap sinis.

Sadar jika Zahra sedang memandangnya, Bian pun kemudian menyorot pada wajah ayu khas timur tengah milik sang istri. Wajah itu sudah basah dengan air mata. Tangan kekar mengusap air mata yang mengalir di p**i seputih kapas dengan penuh kelembutan.

Bian kemudian berdiri, menggandeng tangan sang istri. Dia sudah tak tega menyaksikan penyiksaan batin ini. “Sudah, cukup, aku tak mau melihat Zahra tersakiti. Aku tak mau menikah lagi, kami bahagia walau tanpa anak,” tegasnya.

“Jadi, kamu mau Ibu mati?” Bu Anin kembali mengancam. Wanita tua itu ikut berdiri. Tatapan tajamnya menyorot mereka berdua,

Bagai makan buah simalakama, Bian sudah tak mampu berbuat apa- apa lagi. Ancaman sang Ibu benar- benar membuatnya ketakutan. Kakinya lemas seketika. Dia terduduk lagi di kursi dan mengacak rambut dengan kasar.

Di satu sisi ada Zahra yang tak ingin ia sakiti, tapi di lain sisi, ancaman Ibunya tak perah main- main. Andai Papanya masih ada, lelaki bijak itu pasti akan bisa mejadi penengah kejadian ini. Lelaki itupun yang memberinya restu untuk mempersunting Zahra.

"Kamu anak lelaki ibu satu- satunya. Ibu tak terima jika kamu sampai tak punya keturunan. Keluarga ini harus punya keturunan dari anak lelaki.”

“Ibu masih bisa punya cucu walau bukan dariku, bukan? Ada Mbak Dila yang bisa memberi Ibu cucu. Kenapa harus aku,” Bian mencoba menjelaskan.

“Itu beda, Bian. Anak lelaki di keluarga ini harus punya keturunan,” jawab Bu Anin tak mau kalah. Selesai, Bian Sudah tak bisa berkata- kata.

Memasukkan jari disela jari tangan kekar Bian, lelaki itu membalas dengan semakin meremas. Mereka saling menguatkan. Seakan menyelami dasar perasaan masing- masing yang sedang hancur berkeping- keping. Disinilah cinta dan kesetiaan mereka diuji. Keutuhan rumah tangga dipertaruhkan.

Ada perasaan nelangsa pada hati Bian, wanita yang selalu dijaga, kini perasaannya hancur tak bersisa. Tapi Zahra, di dalam kehancuran itu, dia masih bisa meguatkan sang suami. Seakan menerima apapun takdir yang digariskan Tuhan.

"Mas, sudah.” Zahra berusaha meredam perasaan Bian yang entah sudah bagaimana hancurnya. Hatinya pun sekarang sama hancur dan bahkan tak berbetuk. Tapi, dia masih berusaha menjadi penenang bagi suami yang selalu dia kasihi dan hormati.

“Biarkan aku bicara dengan suamiku dulu, Bu. Kupastikan Mas Bian akan mengikuti keinginan Ibu," Zahra berjanji. Ia lalu menggandeng tangan suaminya menjauh dari pertemuan itu.

"Tatap aku mas.” Zahra menangkupkan kedua tangan pada wajah basah. Tapi, Bian hanya bisa tertunduk. Menyesal karena tak bisa menepati janji untuk tak menyakiti hati sang istri. Ia lalu memeluk Zahra, saling menangis dalam dekapan. Seakan berbagi kesedihan yang tak terperi.

"Apa salah mas, jika rahim ku belum diisi buah hati.”

“Kamu tidak salah,” jawab Bian disela isakkya.

"Apa salah mas jika Tuhan belum menitipkan buah hati untuk kita?"

"Kamu tidak salah. “Bian hanya bisa semakin menenggelamkan Zahra dalam dekapan dada bidang. Hati ikut tersayat mendengar keputus asaan yang keluar dari mulut sang istri. Anak adalah titipan. Sama sekali bukan salah mereka jika Tuhan belum memberikan anugerah itu. Mungkin saja Tuhan ingin mereka mengasuh anak yatim piatu di luar sana. Mungkin juga Tuhan sedang ada rencana lain untuk mereka.

"Mengapa bagi kita yang belum dikaruniai buah hati selalu salah di mata mereka? Mengapa bagi kami yang belum punya buah hati selalu dianggap rendah oleh mereka? Selalu menjadi gunjingan setiap orang. Jika kita bisa memilih, kita juga ingin punya banyak anak kan Mas? Apa aku salah mas? Salah ku dimana mas,” Zahra semakin tergugu. Mendengar itu, hati Bian semakin hancur. Ternyata istriya serapuh ini. Tapi selalu mencoba berusaha kuat dihadapan orang- orang.

"Kamu tidak salah sayang, kamu tidak salah.” Suara Bian bergetar, menahan tangis supaya tidak terdengar oleh mereka. Mereka yang seakan tuli dengan penderitaan kedua orang yang saling mengasihi ini. Mereka yang seakan- akan merasa tindakannya benar.

Ya mereka, mereka yang dengan sekejab merampas kebahagiaan. Mereka juga yang dengan sadisnya selalu menuntut untuk sesuatu yang diluar kuasa Zahra dan Bian sebagai seorang manusia biasa.

Mereka tak punya hati, Apa mereka tau? Setiap pertanyaan tentang buah hati untuk para pejuang garis dua laksana belati yang menghujam tepat di ulu hati. Belati yang langsung menghancurkan hati saat itu juga. Dan bagaimana rasanya? sungguh kalian termasuk manusia yang beruntung jika tidak pernah diintimidasi oleh pertanyaan semacam itu.

"Aku Ikhlas mas.” Ucap Zahra setelah berhasil menata hati.

Bian menggeleng, "Kamu bilang apa Zahra, aku mencintaimu dan tak ingin menyakitimu.”

"Aku sadar aku wanita yang tidak sempurna untukmu.”

"Bukan salahmu sayang,” Bian mengusap air mata di p**i Zahra. Setelah mengingat sesuatu, hati Zahra sedikit tegar, ada satu rahasia yang masih belum diketahui oleh sang suami. Tapi biarlah, Zahra merasa ini bukanlah saat yang tepat.

"Menikahlah mas, dan aku akan ada disampingmu. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu.”

"Tetap aku tidak bisa,” Bian menggeleng.

"Tapi kita tak punya pilihan lain. Apa kamu mau Ibu pergi?”

Bian menghembuskan nafas kasar, dia frustasi. Mengapa takdir selalu menempatkannya pada posisi yang sulit. Zahra yang tau kegundahan hati sang suami langsung mengusap p**i lelaki itu secara perlahan. Seolah meyakinkan bahwa semua akan baik- baik saja.

“ Percayalah, kulakukan ini untuk kebaikanmu.”

“Kebaikan apa?”

“Nanti kamu akan tau, sekarang belum saatnya.”

"Zahra, bagaimana?" Bu Anin berteriak, memanggil pasangan itu yang belum juga kembali. Wanita itu sudah tidak sabar menunggu jawaban.

“Bismillah,” ucap Zahra lalu menggandeng tangan Bian untuk kembali dalam pertemuan keluarga. Menghimpun seluruh kekuatan dalam diri, untuk menyampaikan sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.

"Iya bu, aku setuju dengan pernikahan itu. Kapan? Dan dimana? Aku sendiri yang akan mempersiapkannya.”

Part 2

“Mbak, ini jas untuk Mas Bian. Buat ijab kabul kita besok,” ujar Kinara tersenyum senang sembari memberikan setelan jas lengkap dengan celana dan kemeja putih kepada Zahra, istri dari lelaki yang akan dia nikahi.

Zahra yang sedang mengambil air putih menghentikan aktifitasnya sebentar, meletakkan gelas yang bahkan masih setengah diisi air putih, lalu menoleh ke arah Kinara. Tak bisa dipungkiri, hatinya berdenyut nyeri ketika menerima Jas yang akan digunakan suaminya untuk menikah lagi.

Ia mengamati jas yang ada di tangan. Mulai dari model, bahan, potongan serta ukuran. Setelah diperiksa, memang bahan jas yang diberikan Kinara sama dengan yang biasanya dia belikan untuk sang suami. Tapi, ia tau pasti jika suaminya tak akan s**a dengan modelnya. Lelaki itu lebih s**a dengan jas model elegant daripada bentuk yang aneh- aneh seperti ini. Lagip**a ternyata ukurannya kurang pas.

“Maaf, Kinara, sepertinya ukuran ini kebesaran sedikit untuk Mas Levin,” ujar Zahra dengan sopan. Menutupi jika Bian pasti tak akan s**a dengan model jas yang diberikan Kinara. “Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan jas untuk Mas Levin.”

“Mbak, memanggil Mas Bian dengan sebutan Levin?” tanya Kinara heran dengan nama yang diucap calon kakak madunya.

“Iya,” jawab Zahra mengulas senyum.

“Ohhh,” ujar Kinara sambil manggut manggut. “Mbak, tapi aku tetap ingin Mas Bian menggunakan ini. Jas ini ada bahan batiknya yang sama dengan baju yang aku gunakan nanti,” ujarnya sambil memperlihatkan kain batik yang ada pada sisi jas itu. “Lagian ini adalah pesta pernikahan pertamaku. Aku ingin semuanya sempurna,” imbuhnya lagi.

“Tapi kalau tak nyaman, biasanya Mas Levin tak mau memakainya,” ujar Zahra selembut mungkin.

“Mbak kan belum memberikan ini pada Mas Bian, atau jangan- jangan mbak Zahra hanya mengada- ada? Mbak Zahra, nggak ada niat mau menggagalkan acara pernikahanku besok kan?” tuduh Kinara mengangkat alis seperti sedang mengintrogasi.

Zahra mengehela nafas, kalau tidak karena ancaman mertuanya, rasanya ia sangat ingin menggagalkan pesta itu. Mana ada seorang istri yang rela melihat suaminya menikah lagi.

“Aku tak ada niat seperti itu, aku hanya menyampaikan apa yang kuketahui dari suaminku. Ya sudah, nanti aku akan memberikannya pada Mas Levin,” tegas Zahra. Wanita itu tak s**a jika Kinara menuduhnya yang bukan- bukan.

“Baik mbak, terimakasih. Semoga Mbak Zahra bisa bekerjasama denganku,” ujar wanita itu tersenyum sembari melangkah pergi begitu saja. Meninggalkan Zahra yang masih terpaku menatap tubuh langsing hingga punggungnya sudah tak terlihat lagi.

Mata abu- abu merebak, bulirnya akan jatuh jika saja tak segera diseka ketika melihat jas ditangan, jas yang akan digunakan suamiya untuk mengikat janji dengan wanita lain.

Hati wanita mana yang tak terluka jika dihadapkan kenyataan jika suaminya akan menikah lagi. Jika saja dia tega, pasti detik itu juga ia akan lari meninggalkan kenyataan ini. Tapi Bian, suaminya itu berkali- kali memintanya berjanji untuk tidak ditinggalakan.

Zahra, hanya nama itu yang disematkan kepadanya. Wanita keturunan dengan mata cantik berwarna abu- abu, berhidung mancung serta postur tubuh yang tinggi semampai. Sangat berbeda dengan wanita Indonesia pada umumnya. Dia pun tak tau darimana kecantikan itu ia dapatkan. Dari sang ayah atau Ibukah. Tergeletak di depan pintu panti asuhan begitu saja dari bayi tanpa tanda pengenal apapun, membuatnya tak tau siapa keluarga kandungnya.

Hingga akhirnya, wajah cantik khas Timur Tengah itu mengalihkan dunia seorang Bian Levin Purnomo, lelaki tampan yang kini menjadi suami dan belahan jiwanya. Lelaki berperawakan tinggi tegap, wajah bersih dengan rahang tegas. Lelaki yang mempunyai alis tebal dan hidung mancung itu, telah beberapa tahun yang lalu menjadi donator tetap pada panti asuhan yang ditinggali Zahra.

Kelembutan dan ketelatenan Zahra dalam mengurus anak panti, telah meruntuhkan dinding hati seorang Levin yang pernah berjanji tak akan menikah di usia muda. Bersama Zahra, ia seperti menemukan arti hidup. Bukan karena kekayaan, tapi sikapnya yang bijaksana, baik serta dermawan, membuat Zahra memutuskan menerima pinangan Lelaki berkharisma tersebut.

Dengan perjuangan yang panjang, ia pun telah melakukan segala cara agar sang Ibu merestui pernikahannya dengan Zahra. Hingga akhirnnya, meski terpaksa, Bu Anin menyetujui keinginan sang putra untuk meminang Zahra. Seorang gadis panti asuhan yang tak jelas siapa keluarganya.

*************

Malam ini, masih dirumah mertuanya, Zahra mempersiapkan jas yang akan dikenakan suaminya besok untuk hari pernikahan. Tersenyum melihat jas hitam, pasti lelakinya itu sangat tampan ketika mengenakannya. Setitik air mata berlinang, bersamaan dengan senyum yang ia rekahkan.

Memorinya berkelana, mengingat lagi saat hari pernikahan dengan Bian. Lelaki itu begitu tampan memakai setelah jas hitam, kemudian dengan lantang mengucapkan ijab Kabul. Hanya sekali saja, tanpa salah sedikitpun. Hingga para hadirin mengucapkan kata “SAH” sebagai tanda menyatunya mereka sebagai suami istri.

Kini, ia akan melihat suaminya itu memakai jas hitam lagi. Tapi bukan untuk berbahagia dengannya, melainkan untuk mengarungi kehidupan baru dengan wanita lain. Sakit, tapi ia bisa apa. Seperti keyakinannya, ini semua ia lakukan demi sang suami.

Bagaimanapun mencoba ikhlas, tetap saja rasa sedih tak akan bisa lepas sepenuhnya. Biarlah Tuhan, sebaik- baiknya pengatur takdir umatnya, Zahra akan menjalaninya dengan ikhlas dan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Dari lemari, ia kemudian beralih pada kotak merah berbentuk hati yang dilapisi kain bludru. Membukanya, memastikan jika isinya masih rapi di dalam kotak. Sepasang cincin berlian bermata safir biru untuk sang wanita. Sedangkan untuk prianya, berbentuk sederhana dengan nama pengantin wanita terukir disana.

Membaca nama yang tertera di dalam cincin itu, hatinya langsung berdenyut nyeri. Menyeka lagi air mata yang keluar. Membayangkan jika belahan jiwanya besok akan melepas cincin pernikahan mereka dan menggantinya dengan cicin lain. Serta dengan nama wanita lain p**a di dalamnya. Rasanya ingin menjerit saja, tapi ditahan sekuat tenaga.

Rasa tidak ikhlas tiba- tiba menjalar, merasuk pada sendi jiwanya. Tapi secepat kilat ia tampik, dia harus kuat. Malang sekali nasib Zahra. Harus mempersiapkan pernikahan suaminya dengan wanita lain. Menyambut datangnya madu dengan seyuman, menjadikannya sebagai madu termanis.

Tapi, Tuhan selalu menguatkannya disetiap sujud. Jika prioritas utama kita adalah Tuhan, maka percayalah. Keduniawian tidak akan membutakan mata hati.

Zahra kemudian teringat dengan Jas yang diberikan Kinara. Ia lalu mengambil jas itu, ingin memberikannya kepada sang suami untuk di coba.

Pujaan hati Zahra datang. Lelaki itu langsung memeluknya dari belakang. Harum parfum aroma woody musk langsung menguar dari tubuh tegap, melambangkan sisi maskulin yang luar biasa. Membuat Zahra seketika memejamkan mata, menikmati segala keindahan dan kenyamanan ini untuk terakhir kali. Sebelum semuanya akan dimiliki juga oleh wanita lain pada esok hari.

Lelaki itu kemudian menarik lembut helaian rambut yang ada di punggung, membenamkan wajah pada sela punggung dan leher jenjang sang istri. Wangi aroma tubuh Zahra yang selalu memakai cologne baby langsung menyeruak pada indra penciuman Bian. Membuat lelaki itu memejamkan mata dan mengambil nafas dalam seakan tak ingin kehilangan aromanya.

Wangi parfum bayi yang dipakai Zahra selalu bisa menghipnotis Bian, membuatnya tenang dan nyaman. Ia lalu memundurkan kaki, membuat Zahra mau tak mau mengikutinya. Lelaki itu membawa Zahra dalam pangkuan, duduk di tepi ranjang.

“Masss,” panggil Zahra.

“Yaa,” jawab Levin yang masih mengendus aroma tubuh wanitanya itu.

Zahra merenggangkan pelukan Bian, lalu mengambil setelan jas yang diberikan Kinara. Bian memandangai jas itu dengan tatapan aneh dan dahi berkerut.

“Kamu belum lupa dengan seleraku kan, sayang? Jas apa itu, norak. Aku tak mau pakai.”

“Ini dari Kinara, Mas. Untuk pernikahan kalian besok,” ucap Zahra pelan. Hati Zahra langsung brdenyut nyeri ketika mengatakan itu. Membayangkan suaminya besok akan mengikat janji dengan wanita lain.

Melihat ekspresi yang tak enak dari Zahra, Bian lngsung merengkuh tubuh indah.

“Maafkan aku, kamu tak akan meninggalkanku, kan? Aku takut kamu pergi. Janji?” desis Bian pelan dan sangat dekat dengan telinga, sehingga ketakutan suaminya itu menusuk dalam relung hati Zahra.

“Aku janji, sekarang kamu coba jas ini ya.”

“Nggak mau, aku hanya mau pake jas yang kamu belikan tadi. Bukannya tadi kamu sudah beli jas untukku,” tolak Bian sambil merajuk dan melepaskan pelukan pada istrinya.

“Tapi jas ini sudah matching sama baju Kinara lo,” jawab Zahra sambil mencubit lembut hidung mancung suaminya.

“Kamu tau kan aku tak bisa dipaksa?”

“Iya, kecuali jika Ibu yang memaksa,” desis Zahra tak sadar dengan apa yang diucapkan. Mendengar itu, Levin langsung merengkuh lagi tubuh sang istri sembari meminta maaf berulang kali.

“Kamu dengar, sayang. Aku hanya memakai apa yang jadi pilihanmu. Aku tak peduli dengan Kinara, apalagi dengan pernikahan ini,” ujarnya dengan tegas.

Zahra hanya bisa menggelengkan kepala. Sifat keras kepala dan pemarah Bian, hanya dia lah yang bisa mengerti dan tau caranya menjinakkan. Entah besok apa yang terjadi jika Kinara tau Bian tak mau memakai baju yang dia berikan.

Part 3

Sebelum subuh, Zahra dan Bian telah selesai mandi, rambut mereka masih terlihat basah setelah aktivitas suami istri semalam. Bian yang tak bisa tidur membuat Zahra akhirnya terbangun juga, dan terjadilah. Dalam shalat berjamaah, mereka tenggelam dalam doa masing- masing. ‘Apapun itu Tuhan. Kuatkanlah kami.’

Sepanjang pagi Bian hanya ada dikamar dengan istrinya, tak mau kemana- mana. Dia enggan beranjak keluar untuk menemui siapapun. Bian terpaku, memandangi istri cantiknya yang sedang berhias. Bidadari dari Timur tegah yang diturunkan ke Bumi Indonesia itu sangat membius mata elangnya hingga tak mau berkedip meninggalkan keindahan di depan mata.

“Kamu selalu cantik dimataku.” Mendekat ke arah Zahra, mengecup pucuk kepala sang sang istri dengan rambut hitam yang masih tergerai walau agak berkurang ketebalannya.

“Rambutmu banyak yang rontok sayang? Kok tidak setebal dulu?” tanya Bian sambil memegangi rambut harum mlik sang istri.

“Iya, Mas Lev, aku salah pake shampoo,” jawab Zahra sedikit gugup, secepatnya menata rambut yang ada digenggaman Bian, hingga rambut itu terlepas dari tangan.

“Lain kali jangan ganti- ganti shampoo. Yang dulu sudah bagus kok.”

Zahra hanya tersenyum mendengar peringatan dari sang suami. Perlahan tangan kekar menyingkirkan rambut dari bahu indah sang istri. Meletakkan dagu disitu, menghirup wangi tubuh Zara yang selalu memakai wangi cologne bayi.

“Aku selalu s**a wangi ini, menenangkan.” Bian menghela nafas panjang, menghirup aroma tubuh Zahra sambil memejamkan mata.

Zahra mengusap rambut hitam suaminya dengan gemas. “Sekarang saatnya kamu bersiap.”

Bian menggeleng. “Aku hanya mau disini denganmu.”

Zahra bangkit dari duduknya, menangkupkan tangan pada wajah lelaki tampan di hadapan dan mengecup bibirnya. “Aku yang akan menemanimu disana.”

Bian hanya terdiam.

Wanita itu kemudian berjalan menuju lemari pakaian, mengeluarkan jas hitam yang telah dipersiapkannya semalam. Suamiya sudah bilang tak mau memakai jas dari Kinara, jadi dia terpaksa memakaikan jas pilihannya.

Membawa ke hadapan Bian yang sekarang sedang terduduk di tepi ranjang. Lelaki itu hanya diam saja, sesekali menyapukan pandangan ke seluruh ruang kamar, seperti tak ada nafsu untuk memakai pakaian itu.

Dengan telaten, Zahra memakaikan kemeja putih, celana hitam kain dan yang terakhir Jas hitam walau wajah Bian sama sekali tak memancarkan gairah. Mengambil jam Rolex kesayangan sang suami lalu mengenakannya di tangan. Tak lupa kemudian menyemprotkan parfum dengan harum woody kes**aan Bian.

Selesai! Zahra tak berkedip memandangi lelaki tampan itu. Tak ada kata lain yang bisa diucapkan untuk makhluk indah dihadapan, selain kata sempurna. Merasa bangga telah menjadi belahan jiwanya. Ketampanan yang sungguh paripurna, dipadu dengan postur tubuh yang begitu gagah.

“Kenapa? Aku tampan?” goda Bian yang sadar jika ditatap dengan begitu lekat.

“Ha? A-apa?” gugup Zahra.

“Mengapa kamu melakukan semua ini, aku merasa kamu bahagia melihatku menikah dengan orang lain. Kamu sudah tak mencintaiku? Kamu begitu semangat membuatku tampan di acara yang bahkan membuatu muak ini,” dengus Bian membuang muka. Tak mau melihat istrinya.

Zahra yang selalu sabar hanya bisa tersenyum, dia tau lelakinya itu sedang merajuk, bahaya kalau tidak segera ditenangkan.

“Dengarkan aku.” Membawa wajah sang suami untuk memandangnya. “Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tau kamu sakit, aku juga sakit. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan bukan. Aku sangat cemburu, tapi karna cintaku yang sangat besar. Aku tak ingin menempatkanmu pada pilihan yang sulit antara aku dan Ibu. Aku rela berkorban. Kamu mengerti kan, Mas?”

Bian langsung merengkuh tubuh indah Zahra, menenggelamkannya ke dalam pelukan. Menikmati dalam beberapa menit hingga akhirnya Zahra berusaha melepas diri.

“Sekarang, lepaskan cincinmu, Mas,” perintah Zahra sambil memegang jari sang suami.

Bian langsung menarik tangannya dari genggaman Zahra.

“Sampai kapanpun cincin ini tak akan kulepaskan,” tolak Bian.

“Tapi kamu akan menikah, Mas. Dan Kinara akan menyematkan cincin dijarimu.”

“Aku tidak peduli, biar wanita itu menyematkan cincin di sisi tanganku yang lain jika mau. Cincin darimu sampai kapanpun tak akan kuepas.

Zahra tak bisa memaksa jika itu memang keinginan sang suami. Dalam hati, ia tersenyum senang. Ternyata suaminya masih sangat mencintainya, bahkan tak mau melepas cincin tanda ikatan mereka.

“Ya sudah, jika itu maumu, Mas!” Ia kemudian kembali ke depan meja rias untuk memakai jilbab, setelah selesai, ia hampiri lagi suaminya yang sedang duduk memperhatikan dirinya dari ranjang.

“Ayo kita keluar, Mas,” ajak Zahra.

Bian dengan malas bangkit dari ranjang dan menggandeng tangan sang istri dengan kuat, seakan tak mau dipisahkan.

*****

Mereka telah tiba di ruangan pernikahan, dengan tangan mereka yang masih saling bertaut. Sekilas Zahra terpukau melihat hiasan tempat suaminya akan melangsungkan pernikahan kedua. Seketika hatiya menciut, pernikahan ini sungguh jauh lebih megah jika dibandingkan dengan pernikahannya dengan Bian dahulu. Pernikahan dengan tanpa restu, maka persiapannya pun tak mungkin maksimal bukan.

“Zahra, mana cincinnya?” Bu Anin tergopoh mendekat kepada mereka berdua. Matanya kemudian menyorot pada jari anak lelakinya yang masih mengenakan cincin pernikahan dari Zahra.

“Bian, lepas cincin itu. Kosongkan jarimu, kamu akan bertuka cincin dengan Kinara.”

“Tidak, Jangan memaksaku lagi, Bu. Atau aku akan pergi membawa istriku,” ancam Bian. “Jika Kinara mau, biar dia mengenakan cincin pada tangan kosong yang lain. Jika tidak, ya sudah, tak usah pake acara tukar cincin. Atau bila perlu, tak usah menikah saja.”

“Tapi itu memalukan Bi.”

“Aku tak peduli.”

Akhirnya Bu Anin mengalah, dia kenal betul bagaimana karakter anaknya. Jika terus dipaksakan, maka dia akan memberontak dan ancamannya itu akan sia- sia.

Dari kejauhan terlihat Kinara tergopoh menghampiri mereka. Wanita itu sudah memakai kebaya putih dengan riasan sanggul yang lengkap. Wajah catik serta senyum yang menggambarkan kebahagiaan luar biasa.

Semakin dekat, Kinara semakin tak kuasa untuk tak mengagumi wajah suami Zahra. Lelaki itu terlihat gagah dan sangat tampan dengan setelah jasnya. Rahang kokoh, alis tebal, dan hidung mancung melukis raut wajah yang sangat sempurna, nyaris tanpa cela.

Tapi, seketika senyum di wajah hilang, berganti dengan kekecewaan saat sadar jika ternyata Bian tak memakai jas yang ia berikan.

“Mas, tidak memakai jas yang kuberikan?” tanya Kinara pelan dan sedikit gugup. Kemudian mata memandang tangan calon suaminya yang masih erat memegang tangan Zahra.

“Aku tak s**a,” jawab Bian cepat, bahkan tak menoleh pada Kinara.

“Tapi , Mas, itukan….” Kinara menghentikan ucapannya ketika Bian dengan cepat mengajak Zahra berjalan meninggalkannya, sama sekali tak memperdulikan Kinara. Bahkan menolehpun tidak.

Merasa diacuhkan, raut muka Kinara berubah seketika. Ia jadi menimpan kebencian kepada Zahra, mengira jika calon suamina tak mau memakai jas itu karena hasutan Zahra.

******

Bian menggandeng Zahra mendekat pada mimbar untuk acara ijab kabul. Lalu ia mencium kening Zahra dan berpamitan. Dengan tatapan nelangsa, Bian melepaskan gandengan pada tangan sang istri.

Dia kini telah duduk disandingkan dengan Kinara didepan penghulu yang akan menikahkan mereka. Kinara tampak tersenyum senang. Sementara Bian, lelaki itu menampilkan raut muka yang kurang bergairah. Tubuh memang di sisi Kinara. Tapi hati, tetap bersanding dengan hati Zahra.

Ada rasa berdenyut nyeri di ulu hati Zahra melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Hati wanita mana yang tak rapuh mendengar dan melihat secara langsung suami yang masih sangat dikasihi akan membaca ijab kabul lagi. Dan itu bukan dengannya, melainkan dengan orang lain.

Sebisa mungkin ia mencoba menahan air mata supaya tidak jatuh. Tapi, itu sangat sulit, ketika mata mengembun, maka secepatnya Zahra akan mengusap. Tak membiarkan tetesan itu terlihat pada pesta pernikahan sang suami.

Dia duduk bersanding dengan Bella, adik Bian. Satu- satunya anggota keluarga yang tak pernah berbuat jahat kepadanya. Pandangan orang yang datang ke pesta terlihat aneh. Ada yang kasian, tapi ada juga yang memandang tak s**a kepada Zahra. Tersera, itu amat tak penting baginya.

Bian ternyata harus mengulang ijab kabul sampai tiga kali. Entah apa yang ada dalam fikirannya. Pertama dia salah sabut nama Kinara menjadi nama Zahra. Mungkin karena hatinya masih sangat bertaut dengan Zahra, hingga dia salah menyebut nama. Setelah diberi arahan ulang, baru ia benar bisa menyebutkan nama istri barunya.

Seiring dengan suara orang- orang yang mengatakan kata SAH. Saat itu juga, Zahra meremas perutnya. Ada rasa sakit tak terperikan disana. Sakit di perut bagia bawah seakan berkolabirasi dengan sakit dihati. Tapi masih sakit hatilah sebagai pemenangnya

"Mbak tidak apa- apa?" Bella yang sedari tadi disamping Zahra melihatnya yang meringis menahan sakit.

"Tidak sayang. Mbak tidak apa- apa,” jawab Zahra tak ingin membuat adik iparnya khawatir. Andai Bella tau, sakit di Rahim ini tak ada apa- apanya dibandingkan dengan sakit hatinya melihat suami yang begitu dikasihi bersanding dengan wanita lain.

"Aku panggilkan Mas Bian ya? Dia sudah selesai ijab Kabul,” tawar Bella menggengam tangan Zahra.

"Jangan sayang mbak tidak apa- apa! Biarkan Mas Bian menyelesaikan pernikahannya dulu."

"Beneran mb?"

" Iya sayang.”

*************
Part 4

Zahra yang terus kesakitan tak sadar bahwa dia mencengkeram tangan Bella begitu kuat, sehingga membuat adik iparnya itu sangat khawatir. Memutuskan untuk tidak mengikuti kata- kata Zahra, ia langsung saja berlari pelan ke arah Bian yang telah selesai ijab Kabul dan akan bertukar cincin.

Ia mendekat, berbisik ke telinga kakaknya, membuat wajah Bian seketika berubah pucat pasi. Ia lagsung menarik kain putih yang menaungi dirinya dan Kinara, membuat wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu kebingungan.

Bian kemudian berdiri, setengah berlari menghampiri Zahra yang semakin meringis kesakitan. Terlihat wanita itu berusaha menahannya dengan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Rasa sakit itu seperti meggerogoti dirinya, membuatnya lupa bahwa itu akan mengacakan moment penting ini.

“Sayang, kamu kenapa?” Bian menepuk pelan p**i Zahra sambil menidurkan wanita itu dipangkuan. Merasa bersalah, ia yakin jika istri nya seperti ini karena dia menikah lagi.

“A- aku nggak pa- pa kok, Mas,” Zahra terbata, dia berusaha memberikan senyum tipis pada sang suami. Sedikit meringis kesakitan tapi berusaha untuk tetap baik- baik saja.

Tingkah Bian yang begitu saja meninggalkan moment penting pernikahan, tentu saja menarik perhatian semua tamu yang ada disana, tak terkecuali Bu Anin yang langsung mendekat.

“Ini pernikahan kamu, jangan bikin malu Ibu. Sekarang kembali lagi ke saja, Zahra biar Ibu yang mengurus,” geram Bu Anin berbisik pelan pada telinga Bian, tak mau jika ada orang lain yang mendengarkan. Wajahnya sudah memerah menahan amarah dan malu luar biasa. Bisa- bisanya seorang suami meninggalkan istrinya pada saat pernikahan.

Bian hanya diam tak menjawab, bahkan sama sekali tak menganggap ucapan Ibunya. Pada wajahnya terlihat kekhawatiran dan rasa bersalah yang amat sagat. Tanpa fikir panjang, ia langsung membopong tubuh istrinya ke dalam kamar dan membuat pada tamu undangan keheranan.

Disisi lain, melihat adegan itu, Kinara jelas saja merasa marah luar biasa. Ia merasa dipermalukan dan dipermainkan. Matanya sudah memerah menahan lelehan air yang akan segera keluar. Dia malu pada setiap tatapan orang yang memandang hina ataupun yang kasihan padanya.

Dia seperti di telanj*ngi dimata orang- orang. Bagaimana tidak, ia hanya berdiri sendiri disana tanpa pasangan padaha mereka baru saja menikah.

Ditinggalkan sendiri sesaat setelah ijab Kabul, hati siapa yang tak marah. Iapun berlari meninggalkan acara dengan lelehan air mata yang keluar, menyusul lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya. Wanita itu menuju kamar dimana tempat Bian membawa Zahra.

“Mas, kita itu baru saja menikah, tega ya kamu meninggalkan acara pernikahan kita begitu saja,” ucap Kinara bersungut- sungut sambil menjejakkan kaki.

Sementara, yang diajak bicara hanya diam saja, lelaki itu terus- terusan memegang tangan Zahra yang masih meringis kesakitan serta terus membujuk wanita itu agar mau diantar ke dokter.

“Mas, Kinara benar, kamu kembali saja ke pesta, aku nggak pa- pa. Cuma sakit perut biasa.” Zahra berusaha mengutas senyum, ingin meyakinkan suaminya bahwa dia baik- baik saja.

“Tuh, Mbak Zahra bilang dia nggak pa-pa, ayo kita kembali.” Kinara memegang lengan Bian yang masih belum juga memperhatikannya.

“Mas, aku bicara sama kamu. Jawab! Aku mau kita kembali lagi ke acara.” Kinara semakin bersungut karena tak mendapatkan respon sama sekali dari Bian. Lelaki itu masih asyik membujuk sang istri untuk mau diajak ke rumah sakit.

“DIIAAMM,” amuk Bian membentak wanita yang baru saja menjadi istrinya, membuat mata kinara membola seketika. Terkejut karena bukannya mendapat perhatian tapi dia malah mendapat bentakan.

Tak terasa bulir air mata langsung meleleh begitu saja. Tak pernah sekalipun dia dibentak oleh orang tuanya. Tapi kali ini, baru saja menjadi istri, suaminya itu tega membentaknya demi wanita lain.

“Bian, apa- apaan kamu membentak Kinara.” Bu Anin muncul di ambang pintu. “Apa yang diucapkan Kinara benar, ini hari pernikahan kalian, apa kata orang- orang jika tiba- tiba kamu menghilang?” imbuhnya. Dada wanita itu kempas- kempis menahan amarah.

“Istrimu itu, Ibu yakin hanya pura- pura saja. Dia ingin menggagalkan pernikahanmu. Dia sakin hati kamu menikah lagi.”

“Istriku tidak seperti itu, Bu. Apa Ibu tidak lihat kalau dia benar- benar kesakitan,” bela Bian kepada Zahra.

“Iya, benar apa kata Ibu . Zahra hanya mencari perhatianmu saja,” imbuh Della yang baru saja datang. Wanita itu memang dari dulu s**a memperkeruh suasana. Rasa tidak s**anya kepada Zahra sudah ada sejak dulu, sejak Bian mengenalkan Zahra yang hanya seorang gadis dari panti asuhan kepada keluarga.

Mendengar segala macam tuduhan itu, Zahra berusaha untuk menekan segala rasa sakit yang dia rasakan. Tapi semakin dia ingin merasa baik- baik saja, rasa sakit itu malah semakin menjalar hingga dia tak bisa berkata apa- apa, walau hanya sekedar untuk menenangkan Bian, suaminya yang dia tau sebentar lagi akan meledak emosinya.

"Bian, saya tidak terima kamu perlakukan anak saya seperti itu." Kini ganti Bu Meri yang ikut protes dengan apa yang dilakukan Bian. "Benar apa yang dikatakan Dila, istrimu itu hanya pura- pura. Mana ada wanita yang rela dimadu begitu saja. Dia pasti akan melakukan segala cara supaya mendapatkan perhatian suaminya lagi."

"Cukup, berhenti menjelekkan istriku." Bian bangkit dari duduknya. "Jika kalian tak mau menerima kehadiran dan selalu menyalahkannya. Baiklah, akan kubawa pergi istriku dari sini," tegas Bian langsung membopong tubuh langsing sang istri.

"Bian, Bian, berhenti, berhenti kamu," teriak Bu Anin tak mau sang anak meninggalkan rumah begitu saja.

Tapi sayangnya, Bian tak peduli. Dengan menekan kemarahan di dada, mendengar sedari tadi istri tercinta selalu disalahkan. Kini, kemarahannya memucak. Persetan dengan pesta yang tak pernah dia inginkan ini, dia sudah tak peduli.

Mata elang penuh dengan kemarahan, memadang lurus ke depan. Tak menghiraukan panggilan dari belakang. Tak juga menghiraukan tamu- tamu yang memandang moment ini dengan heran dan bingung. Lelaki itu menuju mobil dengan sang istri yang masih ada dalam dekapan.

"Kinara, kamu susul Bian. Kamu harus ikut p**ang ke rumahnya," perintah Bu Anin.

Wanita yang sedang sakit hati itu terlihat kebingungan. Memandang orang tuanya secara bergantian, lalu mendapatkan anggukan setuju dari sang mama. Akhirnya, dia melangkahkan kaki. Mengejar Bian yang membopong Zahra ke dalam mobil.

"Aku ikut," ucapnya langsung masuk ke dalam mobil, mengisi kursi dibelakang Bian.

"Untuk apa kamu ikut, aku akan membawa Zahra ke rumah sakit. Kamu disini saja," tolak Bian.

"Aku pokonya ingin ikut," Kinara bersikukuh.

"Aku tak mau ke rumah sakit, Mas. Aku sudah tak apa- apa." Zahra berbicara walau keadaannya masih tampak lemah.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa ada yang kamu tutupi sayang? Aku tak pernah melihatmu sakit seperti ini? Atau karena yang kulakukan ini sangat menyakitimu hingga kamu tak tahan lagi? Plese, jangan kamu tak tahan denganku. Jangan tinggalkan aku." Bian menyenderkan Zahra pada bahu tegapnya. Kemudian mencium tangan lemah itu ber ulang- ulang. Tangan satunya lagi mengelus p**i seputih kapas milik sang istri.

Kinara membuang muka melihat adegan itu tepat di depan mata. Hatinya terasa sakit. Beginilah nasib menjadi yang ke dua, apalagi istri yang tak diinginkan. Kalau saja tidak karena dia sedang ada masalah, ia tak akan mau jadi istri ke dua. Tapi celakanya, Kinara mulai menaruh perhatian pada Bian.

Melihat lelaki itu memperlakukan Zahra dengan sempurna, dia juga ingin disayangi seperti itu. Lelaki yang kini menjadi suaminya ini sungguh sempurna, sayang istri, tampan dan kaya raya. Sungguh lelaki yang paripurna.

"Tapi aku sangat khawatir denganmu," rengek Bian yang tetap ingin membawa Zahra ke runah sakit.

"Ehmm, A-aku hanya sakit karena datang bulan saja kok," kilah Zahra.

"Ha? Datang bulan? Mana ada datang bulan bisa separah ini sakitnya?" Bian tak begitu saja percaya dengan ucapan Zahra.

"Iya, Mas, benar. Aku hanya datang bulan. Banyak kok wanita yang datang bulan sampai kesakitan seperti ini!"

"Tunggu? Apakah aku semalam menyakitimu?!" tanya Bian sedikit ragu.

"Tidak, Mas. Kamu selalu memperlakukanku dengan lembut," jawab Zahra menyentuh p**i sang suami.

Hati Kinara langsung mencelos mendengar itu. Apa- apaan ini, bisa- bisanya mereka membahas masalah ranj*ng di depannya.

"Oh begitu. Ya sudah, kita p**ang. Aku tak mau kamu disini, mereka hanya akan terus menyalahkanmu." Bian menghidupkan mesin mobil.

"Tapi pestamu, Mas?!"

"Sudah, yang penting kamu tak apa- apa!" Bian kini menjalankan mobilnya, melaju menuju rumah mereka.

Sementara di belakang kursi Bian, tak hentinya Kinara merutuki Zahra. Ingin langsung protes, tapi karna egonya yang tinggi dan masih marah akibat dibentak Bian, dia akhirnya hanya diam saja dan merutuk dalam hati.

'Cih, hanya datang bulan saja dia menghancurkan pesta pernikahanku, kamu berlebihan, Mbak,' amuk Kinara dalam hati. Menyenderkan tubuh pada kursi, membuang muka ke arah pinggir jalan. Hatinya terlalu panas melihat kemesraan sang suami dengan istri pertamanya.

*****

Novel ini Free di Fizzo. Cari dengan judul yang sama ya “Walau Dimadu tapi Aku Istri Paling Disayang”

Address

Sawojajar 2
Malang

Telephone

082337730902

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumah branded kids ex exsport yuki shop posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share