Unofficial Tim Ahli

Unofficial Tim Ahli Unofficial Tim Ahli - Dewan Pakar DPRD Provinsi Sumatera Barat.

Page ini bukanlah resmi tetapi di kelola oleh seorang dari Tim Ahli-Dewan Pakar untuk menyimpan info yang unclassified.

24/06/2025

Sep**ang sekolah, Fikri bergegas pergi ke tempat nya bekerja. Ia menjadi buruh pengupas kelapa. Padahal usianya baru 9 tahun.

Dari siang hingga sore hari ia bekerja. Seharian Fikri mengupas 150 buah kelapa, ia diupah 20rb. Semua dilakukan Fikri untuk membantu kedua orang tuanya.

Sedangkan ayahnya sudah tak bisa bekerja berat lagi, setelah kecelakaan beberapa tahun lalu, hingga tangannya patah dan mengecil sebelah kanan.

Kini ayahnya hanya mencari umpan pancingan untuk dijual.

Fikri harus bantu ayah juga menghidupi dua adiknya yang masih kecil yaitu Iqbal (8) dan Rahmud (3). Walaupun sering kali, Fikri dan keluarga hanya makan dengan nasi dan sambal saja.

Bocah kelas 3 SD ini setiap hari harus menjalani sekolah sampai bekerja. Fikri berharap ia bisa terus sekolah dan menggapai cita-citanya jadi tentara.

24/06/2025

Celebrating my 6th year on Facebook. Thank you for your continuing support. I could never have made it without you. 🙏🤗🎉

26/02/2025

Hanya kepada-Nya aku pasrah. Entah apa yang ada dalam pikiran pada suatu ketika di seberang lautan di ujung dunia. Page ...
24/10/2024

Hanya kepada-Nya aku pasrah. Entah apa yang ada dalam pikiran pada suatu ketika di seberang lautan di ujung dunia. Page Eska Shofwan Karim III Shofwan Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim II.

Tanapa prenah tahu kapan fajar tiba, kubuka semua pintu. (Emily Elizabeth Dickinson. Dari Torey Hayden, Sheila, Kenangan...
20/10/2024

Tanapa prenah tahu kapan fajar tiba, kubuka semua pintu. (Emily Elizabeth Dickinson. Dari Torey Hayden, Sheila, Kenangan yang Hilang: Qanita Mizan, 2003)

Juni 13, 2024Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim III Shofwan Karim Shofwan Bin Abdul Karim Sho...
20/09/2024

Juni 13, 2024
Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim III Shofwan Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim II Iqbal Shofwan

Pramurukti di Sebuah Taman: Mendampingi Lansia di Taiwan
Inspirasi:

Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku. (QS Taha, 20:39)

Oleh Shofwan Karim
Sumber daya manusia (SDM) yang telah lulus pendidikan atau pelatihan untuk melakukan pendampingan pada seseorang yang tidak mampu merawat dirinya sendiri, baik sebagian atau keseluruhan karena keterbatasan fisik atau mental, disebut caregiver

Pada narasi lain, perawat seorang yang lanjut usia (Lansia) disebut p**a careworker. Ia merupakan seseorang yang bertugas membantu mengurus keperluan pribadi lansia yang memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini mengingat mulai melemahnya fungsi jasmani dan rohani para Lansia.

Di Indonesia disebut pramurukti. Orang yang mampu merawat, mendampingi Lansia, butuh skill dan kesabaran. Mungkin banyak yang baru mendengar istilah pramurukti. Ternyata pramurukti ini merupakan sebuah pekerjaan perawat. Bukan perawat biasa, tetapi perawat lansia atau manula yang sehat ataupun sakit. Itulah antara lain narasi Google tentang perawat penduduk senior di berbagai negara dunia. Untuk kosa kata Pramurukti , khusus istilah di Indonesia.

Ini cerita bagus utk Lansia. Mungkin utk anak-anak yang terbatas kemampuannya karena belum cukup akil baligh fisik dan mental ada caranya p**a. Ini akan kita perdalam pada kali lain lagi.

Kebiasaan Jalan Kaki

Pagi ini Kamis, 13 Juni 2024 Atuak mengantar cucunya ke Pra School Binjiang Municipality. Ini rutin dilakukannya sejak beberapa waktu lalu. Lalu meneruskan kebiasaannya jalan kaki. Targetnya 7500 langkah yang Ia setting di gadget.

Secara standar kata internet, harusnya 10.000 langkah seperti ada di aplikasi iPhone miliknya. Seperti biasa target itu ada yang tercapai ada yang mendekati dan ada yang separuhnya atau bahkan seperempatnya.

Ini tergantung mood (suasana hati), cuaca dan temperatur atau suhu udara yang sedang berlangsung. Atuak yang 12 Desember ini 72 th menurut KTP. Semenetara menurut Almh Ibunya setelah disesuaikan dengan Google Calender 8 tahun lalu, usia Atuak 12 Ramadhan 1445 lalu sudah 75 tahun.

Atuak selain dan di sela waktu jalan kaki, kadang meracak sepeda uBike sewaan. Belakangan pernah sampai 45 km. Ia telusuri taman sepanjang Sungai Keelung. Lebih jauh, bahkan sempat menyeberang ke muara Sungai Tamsui. Itu artinya Atuak Gowes dipinggiran dua kota. Taipei dan New Taipei.

Atuak mengulang jalan kaki di sebuah taman di sekitar kediamannya. Kebiasaan itu Ia lakukan sejak 3 bulan belakangan. Kali ini Atuak berjumpa dengan 4 orang yang sedang berhenti di depan bangku-bangku taman.

Ada satu bangku yang di atasnya ada wanita dan pengasuhnya memegang tangan kursi dorong dari belakang. Satu orang duduk dan satu lagi berdiri.

Caregiver, Careworker atau Pramurukti

Atuak mengatakan, “nihau”-halo. Mereka serempak menjawab, “halo”. Tiba-tiba yang memegang dorongan kursi roda bilang, dari Indonesia?. Dengan anggukan, Atuak bilang, permisi boleh ikut duduk? Lalu diterjemahkan ke Bahasa simple Mandarin oleh wanita dan otomatis mereka memperslahkan Atuak duduk.

Ternyata Pramurukti yang wanita usia muda itu adalah mereka yang bertugas mendampingi client atau tepatnya asuhan. Yang satu wanita berjilbab mengaku berasal dari Jakarta. Ia mendampingi wanita yang bisa jalan dengan baik. Usia yang didampinya 78 tahun.

Dan yang duduk dikursi roda berusia 60 tahun. Tampak wajahnya masih muda tetapi mungkin ada kendala fisik lainnya. Ini diasuh oleh wanita yang mengaku berasal dari Jawa Barat. Kedua wanita Caregiver, Careworker atau Pramurukti itu, diperkirakan berusia 40-an tahun.

Belum ditemukan data berapa banyak Pramurukti WNI yang berkerja di antara 270 ribu pekerja migran Indonesia di Pulau Formosa ini. Akan tetapi melihat komposisi usia dan harapan hidup penduduk Taiwan tentulah sangat banyak. Meski tenaga kerja migran bukan hanya dari WNI tetapi juga dari WN lainnya, terutama negara ASEAN.

Usia Harapan Hidup

Dalam kaitan ini ada baiknya ditengok gambaran usia harapan hidup orang Taiwan seperti dapat dibaca pada kutipan berikut .

Kementerian Dalam Negeri Taiwan mengumumkan “Usia hidup warga Taiwan tahun 2020”, rata-rata usia hidup warga Taiwan untuk tahun 2020 adalah 81,3 tahun. Apabila dilihat dari gender, rata-rata usia hidup pria 78,1 tahun dan perempuan 84,7 tahun. Dari 6 kota besar di Taiwan, Kota Taipei yang menjadi Ibukota Taiwan memiliki rata-rata usia hidup warga yang paling tinggi yaitu 84,1 tahun, dan berangsur menurun seiringan dengan semakin mengarah ke bagian selatan Taiwan.”

Kementerian Dalam Negeri menyampaikan, seiring dengan semakin tingginya standar kesehatan medis, semakin diperhatikannya keamanan produk makanan, meningkat tingginya kualitas hidup dan kesadaran berolah raga serta lainnya, sehingga beberapa tahun terakhir ini rata-rata usia hidup warga Taiwan semakin meningkat, dari tahun 2010 yang usia hidup rata-rata hanya 79,2 tahun hingga tahun 2020 meningkat menjadi 81,3 tahun, hal ini memperlihatkan semakin panjang umur hidup warga Taiwan. Dibandingkan dengan rata-rata global, usia hidup warga Taiwan untuk pria dan perempuan lebih tinggi yaitu untuk pria lebih tinggi 7,9 tahun dan untuk perempuan lebih tinggi 9,7 tahun.

https://id.rti.org.tw/news/view/id/97990. Akses, 13/06/2024 pukul 12.27 WT

Lansia Produktif

Melihat Lansia Taiwan akan lebih mudah di pagi atau sore hari. Mereka banyak di taman-taman yang bertebaran di hampir semua pojok kota. Yang naik kursi roda dorong atau mesin otomatis tidak seberapa.

Lebih banyak lagi mereka yang berjalan sendiri, dengan pasangan bahkan yang tua-tua lari marathon bukan pemandangan aneh di sini. Begitu p**a mereka yang bersepeda. Ramai lagi di sekeliling danau dan sungai berlari di jalur jogging track dan jalan kaki serta meracak sepeda jalur sepeda khsusus ada di mana-mana.

Selain itu para Lansia di sini yang sehat wal afiat selalu produktif bekerja sesuai dengan kemampuannya. Bekerja di berbagai sektor dan bidang yang relevan dengan bakat, minat dan skill mereka. Banyak p**a yang menjadi relawan pada berbagai pusat palayanan publik.***

Mencontoh ke Masa Lalu, Masihkah Relevan?IVLP-2005 US Department of State the Grassroots DemocracyOleh Shofwan Karim Tib...
23/08/2024

Mencontoh ke Masa Lalu, Masihkah Relevan?
IVLP-2005 US Department of State the Grassroots Democracy

Oleh Shofwan Karim

Tiba-tiba saja seorang ibu di sebelah saya buka pembicaraan. Memang menegangkan, tetapi menyenangkan, katanya. Tampaknya ia mau mengatakan sesuatu lebih banyak tetapi tiba-tiba ada pengumuman dari krew pesawat yang akan menerbangkan kami dari San Francisco ke Minneapolis, kota transit sebelum meneruskan ketibaan di tujuan sebenarnya bagi saya , Washington, DC, ibukota negara yang mengambil nama bapak Amerika George Washington ini.

Kami minta maaf , karena pesawat kelebihan berat, maka diminta dengan sukarela 12 penumpang untuk pindah ke penerbangan berikutnya. Untuk mereka yang menerima tawaran ini, disediakan tunjangan khusus harga yang sangat murah potongan harga 80 % terbang ke Mexiko dan Kanada. Berkali-kali uncapan maaf dan kurang menyenangkan disebut oleh NWA. Belakangan, ketika pesawat terlambat sampai di Minneapolis, kami semua juga diberikan diskon $ 35 untuk setiap pembayaran $ 200 bila terbang lagi dengan NWA kali berikutnya. Ini tampaknya sebagai konpensasi delay penerbangan kami yang hampir 1 jam itu.

Apa maksud anda, kata saya melihat kekiri. Ya, sudahlah pemeriksaan darat sebelum terbang yang ketat, lalu pesawat di delay, namun ada penggantian yang wajar. Rupanya itu hanya sebagai pembuka kata saja bagi sang ibu umur 55 tahun Desember besok. Nenek seorang cucu yang mengaku telah 22 tahun menjadi perawat tak henti bicara. Maaf, katanya, saya kebiasaan ingin bicara karena begitu diajarkan dan saya praktikkan dalam tugas terhadap pasien-pasien, katanya. Pengakuan yang jujur ini menyentak kesadaran saya. Kalau di negeriku, perawat hanya perpanjangan tangan dokter. Karena itu bila dokter tidak meminta bicara dengan pasien, maka perawat kita irit bicara. Padahal bicara yang baik, tentu bukan dengan muka masam, adalah obat penenang sebelum obat sebenarnya diminum, ditelan atau di usapkan ke tubuh.

Bukan diskusi itu yang menarik pikiran saya tetapi soal terbang. Rupanya di mana pun soal penundaan keberangkatan dan ketibaan pesawat terbang terjadi di mana-mana . Tahun lalu dari London ke Mesir penerbangan kami di delay 1 jam karena hujan lebat sehingga tak bias terbang. Tetapi tidak ada penggantian atau pelipur lara. Mungkin karena itu kasusnya berbeda atau kah karena maskapai penerbangannya yang lain sama sekali.
Penerbangan domistik di negeri kita juga sering mengalami penundaan-penundaan. Tetapi hanya diminta kepada penumpang kesabaran. Syukur kalau masih dimumumkan, kadang-kadang tidak ada sama sekali info, kecuali penumpang tanya ke sana kemarin . Budaya bisnis, ataukah etika bisnis ? Ini persoalan nilai instrumental ataukah soal filosofis fundamental masyarakat yang sedang dalam kemajuan atau sedang berusaha untuk maju?
Banyak amat yang perlu ditelusuri, kalau kita benar-benar mau berubah ke arah yang lebih maju, modern dan setara dengan bangsa-bangsa lain yang kini sedang di puncak peradaban. Atau kita tidak usah melihat ke mereka yang di Barat ini. Baik juga kalau menolah ke masa jaya periode tahun 800-1000 M Daulat Abbasiyah. Maambiak contoh ka nan sudah mancaliak tuah ka nan manang. Pada lebih kurang 9-10 abad lalu dunia Barat dalam kegelapan, dunia Islam dalam kemajuan. Zaman ilmu pengetahuan berada di tangan uma t Islam. Pergulatan ilmu kalam atau sekarang disebut teologi telah meletakkan kerangka teori akidah . Debat, diskusi, tulisan dan fatwa syari’at dalam wacana dan aksara telah meletakkan teori fikih empat mazhab utama yang sampai hari ini terus menjadi ikutan. Ilmu yang sekarang disebut sekuler baik sains murni maupun terapan, sosial, hukum, teknologi dan filsafat sampai ke puncaknya. Sekarang dunia barat telah mengambil untung sebesar-besarnya setelah kekalahan Dinasti Abbasiyah di jantung dunia waktu itu, Baghdad.
Ah, jangan lagi kita menjadi romantisisme. Merindukan masa lalu sebagai sesuatu yang hebat tetapi tidak berbuat apa-apa. Itu namanya mengkhayal ataukah takhayul modern ?. Tetapi sebagai melecut semangat dan tanda syukur bahwa di satu zaman yang panjang jauh di masa lalu, pernah kemauan Tuhan bertemu dengan kemaun manusia yang berikhtiar dan mengenjot akal pikiran dan keringat dengan amat kerasnya. Sehingga di situ telah berlaku nilai-nilai takdir yang optimal dalam hidup bukan menyerah kepada nasib tanpa otak, keringat dan usaha yang optimal. Sesuatu yang perlu menjadi pilihan di antara pilihan filosofis, idealis dan praktis- pragmatis. *** SShofwan Bin Abdul KarimSShofwan Karim IIISShofwan Karim

Bank Naskah. Selamat Hari Merdeka  ke-79. Segar Ulang Islam Berkemajuan, Poros Minang-Jawa.PERTANYAAN yang sering muncul...
16/08/2024

Bank Naskah. Selamat Hari Merdeka ke-79.

Segar Ulang Islam Berkemajuan, Poros Minang-Jawa.

PERTANYAAN yang sering muncul di kalangan publik adalah, apakah dengan diksi Islam berkemajuan ada p**a Islam berkemunduran? Pemikiran ini bagai tesa dan antitesa serta bagaimana sintesanya.

Muhammad Darwis atau lebih dikenal KH Ahmad Dahlan (1888-1923) pada awal mendirikan Muhammadiyah (1912) sudah memulai diksi pendek, Islam berkemajuan. Sebenarnya, di Minangkabau wacana Islam berkemajuan secara intrinsik (makna hakiki dari dalam) sudah mendahuluinya.

Istilah kaum muda yang ada di Minangkabau kala itu menjadi mantra bagi kaum paham "modern" merespons perkembangan masyarakat. Oleh kaum tua mereka kurang diperhatikan di awal abad lalu. Kira-kira kaum muda Minangkabau ini pemikiran mereka mirip dengan apa yang menjadi wacana dan ikhtiar Dahlan yang dimaksudnya berkemajuan.

Tokoh kaum muda merupakan hulu dinamika berkemajuan di Minang. Promotornya empat serangkai ulama. Mereka adalah Abdul Karim Amrullah (1879-1945) atau Inyiak Rasul-Inyiak DeEr. Abdullah Ahmad (1878-1933) keduanya tahun 1925 beroleh Doktor Kehormatan (Dr.HC) dari Universitas Al-Azhar, Mesir (bukankah ini berkemajuan?).

Syekh Djamil Jambek (1860-1947). Serta Ibrahim Musa Inyiak Parabek (1884-1963). Dengan begitu agaknya bisa disebut bahwa diksi Islam berkemajuan itu bagai air hujan yang datang dari langit nusantara menggenang di dua danau. Danau itu mengalirkan dua poros sungai kemajuan: Minang dan Jawa.

Bila ditilik dari pemahaman pemikiran dan logika masa awal tadi maka perdefinisi Islam berkemajuan lebih kepada makna memahami dan mengamalkan akidah tauhid murni. Ibadah yang murni tak bercampur dengan khurafat, takhayul dan bid'ah, bersih dari budaya nenek moyang serta kultur lokal.

Mereka agaknya derkelindan dengan kaum apa yang dinamakan di Arabia sebagai kaum al-muwahidun. Penganut tauhid mutlak. Secara teoritis, inilah yang sering disebut sebagai purifikasi atau pemurnian agama.

Sejalan dengan itu, tidak cukup dengan permurnian, Islam harus membumi untuk ikhtiar kehidupan yang baik di dunia. Doa "sapu jagat" memohon kebaikan di dunia dan akhirat harus diiringi dengan paralelisme kedua konten pokok tadi.

Maka untuk tujuan dunia, itulah makna kemajuan dan pembaruan atau modernisme. Bersamaan dengan itu untuk kebaikan akhirat inilah pada masa itu yang disebut pemurnian tadi.

Yang pertama dipahami sebagai tajdid dan yang kedua dipahami sebagai tashlih. Agaknya perdefinisi itulah yang dikonstruk ulang atau redefinisi oleh Dahlan, ketika kata berkemajuan menjadi membumi ketika Dahlan selama 8 bulan mengajarkan kepada santrinya mempraktekkan isi surat surat al-Ma'un.

Ikhtiar menyantuni anak yatim dan orang miskin berarti sekaligus memberdayakan mereka. Untuk maksud itu harus dinisbahkan ke banyak ayat dalam Al Quran dan Hadist serta sirah nabawiyah. Lalu disinkronkan aplikasinya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Di Minangkabau definisi itu mendahului Jawa. Gerakan Paderi (1803-1821) dan Perang Paderi (1821-1837) bersumbu kepada hal di atas. Sementara Perang Paderi sudah berkemajuan plus. Plus di sini dimaknai sebagai nilai perjuangan dari dalam (kebebasan) dan ekstrinksik (mengejar kebaikan). Kedua faksi kaum agam dan adat menyatu melawan Belanda.

Bukankah itu inspirasi pencuatan energi dari dalam. Dan boleh jadi KH Dahlan terinspirasi dari gurunya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkawi secara simultan juga dengan gerakan Paderi tadi. Diskursus dan aplikasi Islam berkemajuan mengalami pasang naik dan turun.

Naik ketika munculnya semangat baru ber-Islam. Mereka dulu dianggap ketinggalan dalam merespons kemajuan dunia, lalu meningkatkan sumber daya manusia umat dengan pendidikan ketaqwaan (iman dan ibadah), kognitif (ilmu), afektif (moral-akhlak) dan psikomorotik (skil-vokasional).

Pada awal dan sepanjang abad lalu, Muhammadiyah mendirikan dan menggebiarkan dunia pendidikan, kesehatan dan santunan sosial serta kemanusiaan. Kini terus melakukannya dan jamaah, jam'iyah serta kelompok lain pun sudah melakukan p**a hal yang sama meski terasa getaran, aura dan capaian mereka berbeda-beda.

Di Minangkabau Inyiak DeEr bersama tokoh sezaman membangun Thawalib. Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiyah. Inyiak Syekh Djambek berbasis surau Tangah Sawah dan Surau Kamang dengan mensyiarkan taklim Islam moda tabligh.

Sejalan dengan melek baca dan tulis percetakan buku, belakangan mengispirasi Tsamaratul Ikhwan dan Pustaka Sa'diyah, Bukittingi dan Padangpaanjang. Ibrahim Musa berbasis Surau Parabek mendirikan Madrasah Thawalib Parabek. Semuanya masih bekembang oleh pelanjutnya sampai sekarang.

Sejalan dengan itu dalam redefinisi Islam berkemajuan, dalam bidang pendidikan mesti dimasukkan Inyiak Canduang. Adalah Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871 19970). Ulama yang sedang diperjuangkan menjadi Pahlawan Nasional ini, mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang Tahun 1928..

Ia dianggap sebagai tokoh yang menyebarluaskan gagasan keterpaduan adat Minangkabau dan syariat lewat kredo Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK). Pada beberapa kajian, inyiak Candung dianggap merevitalisasi serta mereaktualisasi Sumpah Sati Bukik Marapalam satu abad sebelumnya yang dianggap proklamasi awal SBS-SBK tadi.

Dan sekarang bukan hanya Inyiak Canduang dan pengikutnya mengubah definisi lama. Sekarang semua sudah berorientasi kemajuan. Dan sebaliknya para penganut purifikasi ajaran dan peraktik ibadah mahdhah masih tetap sama. Namun mereka melakukan reorientasi (pendekatan ulang). Mereka lebih akomodatif di tingkat public dan konsisten dalam sikap dan amaliah perorangan.

Maka terjadilah reaktualisasi dalam aplikasi berkemajuan. Purifikasi mereka tetap dilakukan namun menghindari ketidaknyamanan pihak lain. Inilah titik awal dan ujung, QS, al-Anbiya' 107: "Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Maka tesa dan anti tesa pada awal tulisan ini, seolah sudah menemukan sintesanya, Islam berkemajuan menjadi paradigma dan praktek kaum muda, kaum tua, tradisional, modern, pasca-modernisme, bahkan di kalangan milineal. Alla a'lam bi al-shawab. (Shofwan Karim, SShofwan Bin Abdul Karim SShofwan Karim III SShofwan Karim SShofwan Karim IIadalah Dosen-Lektor Kepala, Pascasarjana UM Sumbar)

Sudah tayang di Padang Ekspres dan Kompasiana. Akses, 17/8/2024)

Rekognisi Pertemuan Diaspora Minangkabau Sedunia Desember 2023. @ Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau Shofwan Bin Abdul...
03/05/2024

Rekognisi Pertemuan Diaspora Minangkabau Sedunia Desember 2023. @ Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim III Shofwan Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwim Shofwan Shofwan Karim II Shofwan Karim Muhammadiyah Fusa Uinibpdg Shofwan Bin Abdul Karim

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA. Dosen Pascasarajana UMSB. Rektor 2005-2013. Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2015-2020 dan 2000-2005.

Toleransi Kerukunan Antar Pemeluk AgamaOleh Shofwan KarimSelain Sumbar, ada 7 provinsi lagi sebagai percontohan pilot pr...
19/04/2024

Toleransi Kerukunan
Antar Pemeluk Agama

Oleh Shofwan Karim

Selain Sumbar, ada 7 provinsi lagi sebagai percontohan pilot proyek Kerukunan Beragama. Yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Secara sepintas, kelihatan bahwa menurut penuturan Pelaksana Kakanwil kementerian agama Sumbar, ini kabar baik.

Artinya kini Sumbar sudah keluar dari tuduhan sebagai provinsi intoleran (tidak toleran). Tentu dengan demikian termasuk 7 contoh lain tadi. Lihat,
https://www.republika.co.id/berita/r4gxwe430/sumbar-jadi-percontohan-kerukunan-beragama.

Mengapa dulu Sumbar dianggap sebagai wilayah intoleran? Padahal tidak ada yang berubah. Kecuali isu yang dikembangkan pihak tertentu. Maka kalau sekarang isu tidak lagi meruyak, tentulah dari dulu mestinya Sumbar adalah daerah toleran.

Untuk itu, agaknya perlu dilihat makna toleransi secara umum. Yaitu sebagai sikap manusia agar saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan yang ada.

Itu tidak berarti mengakui kebenaran pihak lain kalau bertentangan dengan kebenaran hakiki menurut doktrin dasar agama mereka.

Dalam kehidupan beragama, Islam melihat bahwa perbedaan itu sudah diterima sebagai apa adanya. Perbedaan dalam Ibadah dan akidah tidak akan mengganggu kalau tidak ada pemaksaan kepada mereka untuk mengikuti yang berbeda dengan prinsip mereka.

Jangankan dengan berlainan agama, sesama atau seagama saja, umat Islam sudah terbiasa berbeda dalam pelaksanaan pemahaman, pemikiran serta praktek Ibadah mereka.

Meskipun rukun iman sama dan rukun Islam
sama tetapi sudah menjadi kenyataan umum dalam kaifiat-cara pelaksanaan ternyata ada perbedaan . Dan itu semua dilaksanakan dengan prinsip saling menghargai dan menghormati.

Terhadap mereka yang berlainan keyakinan agama sudah terlaksana dengan baik tidak menggangu mereka bahkan membiarkan mereka dalam cara yang berbeda terhadap akidah dan Ibadah.

Lebih-lebih dalam pergaulan social.
Tidak ada larangan bertegur-sapa, berjual beli, mengikuti pendidikan disatu lembaga yang mereka pilih. Bahkan ada yang jelas lembaga pendidikan agama lain, anak didiknya ada yang tidak sama agama mereka. Hal itu sudah berlangsung berabad-abad sejak zaman penjajahan, pra kemerdekaan, dan sekarang.
Membiarkan, menoleransi di sini bukan berarti ikut melaksanakan akidah dan Ibadah agama lain.

Tetapi kokoh dengan akidah dan agama sendiri itu berarti sudah menghargai agama lain. Karena akidah dan Ibadah adalah dasar masing-masing agama yang bersumber dari wahyu dan ajaran Nabi mereka masing-masing,
Seperti itulah pemahaman standar bagi umumnya umat Islam dari Quran, 109-Al-Kafirun : 6. Lakum di nukum waliyadin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Keristen ternyata sama dengan prinsip di atas. Di dalam Kristen sendiri, lihat: https://student-activity.binus.ac.id/po/2016/05/toleransi-beragama-dalam-pandangan-kristen/

(akses : 22.12.2021), mereka harus berpegang teguh kepada iman eksklusifnya sekaligus hidup bertoleransi dengan orang beragama lain. Caranya, bersikap tulus dan menghormati terhadap iman dan keyakinan agama lain tetapi itu tidak berarti mengakui apa yang mereka katakan tentang kebenaran bila bertentangan dengan kebenaran Kristen
Matius 5: 45 tertulis. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi ana-anak Bapamu yang di syorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Dalam pemahaman mereka meskipun Tuhannya menciptakan Matahari untuk orang jahat dan baik, tidak berarti Tuhan menyetujui perbuatan jahat dan Tuhan hanya menyetujui perbuatan baik.

Pada sisi lain ada ada arahan toleransi akidah-teologis yang gamblang tidak memaksa. Quran membiarkan akal manusia mengikuti petunjuk secara bebas dan bahkan Tuhan pun tidak memaksa manusia beriman kepadanya. Di dalam Quran 6-Al-An’am: 35 “…Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk, sebab itu janganlahsekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”

Selanjutnya, Quran 10-Yunus: 99 , “Jikalau Rabbmu mengehendaki tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.

Itulah sebabnya, ada kesimp**an hanya karena izin, rahmat, karunia, hidayah serta Ridha Allah sesorang itu beriman kepada Allah dan memeluk agama yang diredhai-Nya.

Sementara di dalam pergaulan social, sebaiknya menoleh kepada al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lak-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Di dalam konteks ini, kata takwa dapat dipahami sebagaimemelihara diri dan menghormati prinsip orang lain.

Persoalannya muncul ketika toleransi, berlapang dada, kepala sejuk, , hati dingin- dianggap melebihi pijakan agama
yang dipahami secara umum.

Misalnya ketika dikaitkan dengan kata kehidupan beragama. Kerukunan kehidupan beragama atau toleransi kehidupan beragama. Oleh pihak tertentu dianggap semua sama saja.

Ada tafsir pihak tertentu yang menyamakan antara kerukunan akidah dan ibadah dengan pergaulan social. Padahal akidah dan ibadah-ritualistik khusus adalah prinsip dasar yang tidak bisa dicampur adukkan dengan masalah sosial umum.

Misalnya, bolehkah berjual beli dengan orang tidak seagama? Sampai sekarang tidak ada larangan berbentuk fatwa ulama, MUI, Pusat dan Daerah. Tidak ada larangan keputusan dari Pastor dan Pendeta. Tidak ada larangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), Perhimpunan Hindu Dharma Indonesia, Ratu Pedanda, dan Pemangku Agama lainnya.

Bolehkah bertegur sapa dengan berlainan agama? Tidak ada
ketentuan yang melarang di dalam teks dan konteks dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu, sebagai agama-agama yang resmi pada kementerian agama di negara ini.

Bahkan di dalam urusan kemanusian seperti menanggulangi bencana alam, banjir, gunung meletus, tanah longsor, mengatasi penyakit menular seperti Covid-19, dengan segala variasinya seperti Omicron dan mengatasi kemiskinan serta kebodohan, semua pemeluk agama bekerjasama dan tidak pernah mengaitkan dan menanyakan, kamu beragama apa?

Di sinilah letak toleransi antar pemeluk dan kehidupan beragama. Oleh karena setiap agama, apapun agamanya mempunyai konsep kemaslahatan sosial kemanusiaan yang tidak terikat oleh firkah dan aliran masing-masing mereka.

Untuk yang terakhir, bertegur sapa, kehidupan sosial dan kemanusiaan mengucapkan selamat hari tertentu menjadi sensitif. Pada praktek pranata sosial dan budaya inilah antara lain ada sikap “ghuluw” atau berlebih-lebihan melampaui batas.
Ada keinginan secara halus bahkan kasar oleh pihak tertentu untuk mengikuti budaya agama lain dalam memperingati hari besar mereka.

Keinginan seperti itu sebenarnya yang boleh disebut sikap intoleransi. Jangan dibalik, orang yang tidak mengikuti tetapi hanya membiarkan dan tidak mengganggu dianggap tidak menghormati, tidak toleran dan sebagainya. Bila itu yang terjadi, inilah yang disebut “ghuluw” Atau berlebihan, melampaui batas.

Hal itu disinggung dalam QS,5, Al-Maidah:77.

“… janganlahkamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat di jalan yang lurus (tersesat dan menyesatkan)”. ***

Sudah tayang PDF di Harian Singgalang, 23 Desember 2021.

Sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah dunia yang pluralistik / penuh dengan keberagaman ini, orang Kristen mau tidak mau harus berjumpa, berinteraksi, berurusan, berkaitan dengan orang-orang yang tidak seiman baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maupun bermasyarakat. Di negara Indonesi...

Address

Padang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Unofficial Tim Ahli posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share