27/08/2026
Mari Lestarikan Tradisi Bersarung. Karena Setiap Sarung Punya Cerita. 🤍
Dulu, bagi Gus Daffa, sarung adalah cerita sederhana tentang seorang ayah.
Sejak kecil, ia diajarkan memakai sarung oleh sang ayah. Bahkan karena dulu belum banyak sarung berukuran anak-anak, sarung sang ayah harus dipotong agar pas dikenakan olehnya.
Sederhana, tapi dari situlah sebuah tradisi tumbuh.
Dari ayah kepada anak. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, zaman sudah berubah. Tapi sarung tetap menemukan tempatnya.
Di pesantren, di majelis, saat ngopi bersama teman, bahkan dalam berbagai aktivitas dan gaya anak muda hari ini.
Karena bagi Gus Daffa, sarung bukan tentang sesuatu yang kuno. Sarung adalah warisan budaya yang terus bisa hidup, selama generasi muda mau memakainya dan menceritakannya kembali.
Dan di Muktamar ke-35 NU, ia melihat kehadiran Sarung Mangga sebagai bagian dari cerita itu.
Sebab sarung dan pesantren memang sulit dipisahkan.
Ia adalah bagian dari keseharian santri, identitas para kiai, dan budaya warga Nahdliyin.
Tradisi tidak akan hilang jika kita terus memakainya.
Tradisi akan semakin hidup ketika kita bangga menceritakannya.
Mari wariskan bukan hanya sarungnya, tapi juga ceritanya.
Untuk hari ini, untuk generasi berikutnya.
Sarung Mangga.
Bangga Bercerita.
Bangga Bersarung Mangga.
💬 Kalau sarung bisa menceritakan satu kisah tentang hidupmu, cerita apa yang ingin kamu wariskan?