03/03/2024
SUGAR BABY
POV SALINA
“Kenapa kamu nggak bilang kalau semua orang mengira aku hamil, Ran?”
Rani menghabiskan tandas cokelat hangatnya mengelap bibirnya dan mulai fokus. Kelaparan sepertinya anak ini. Apa sudah habis makanan yang kubagi kapan hari. S**a sekali sahabat satu ini makan memang. Aku lagi gelisah juga.
“Aku tak ingin kamu panik, Sa. Tak hanya teman seangkatan kita yang percaya kabar itu.”
Rani meraih HP-ku dan menaruhnya di meja.
“Seluruh penghuni kos-an juga mengira kamu hamil. Sebab ada beberapa lelaki yang sering datang ke kos. Ada banyak paketan untukmu. Kamu dikira sugar baby, Sa.”
Kalimat terakhir Rani membuatku pusing seketika. Menyesal aku ke kampus hari ini kalau hanya akan mendengar hal buruk tentang diriku sendiri.
“Astaghfirullah…”
Aku mengelus dadaku supaya degupannya stabil dan amarahku tak meletup. Tak baik mengatasi masalah dengan kemarahan.
“Maafkan aku tak mengatakan apapun, tapi sungguh, aku menahannya untuk kesehatan badan dan mentalmu.”
Diraihnya tubuhku dalam pelukannya. Rani seolah bisa merasakan apa yang sedang menimpaku. Aku tak bisa menangis kali ini. Tapi rasa sakit di hatiku begitu mendominasi. Aku tak mau masalah berlarut-larut, aku butuh solusi.
“Makasih, Ran, kamu sudah merawatku sepekan ini.”
Ditepuknya punggungku lembut dengan senyum yang tak biasa. Rani yang biasa cerewet mendadak lembut pagi ini.
“Aku juga habis sakit hati, Sa. Aku tahu betul rasa yang kamu derita saat ini.”
Rani meraih tanganku membimbingku menuju masjid kampus. Selama perjalanan menuju masjid tak ada hambatan berarti. Hanya ada celetukan seorang kawan yang menyebutku sugar baby.
“Idih, sugar baby-nya Pak Dahlan sudah siuman dari pingsan. Apa kabar?”
Ya, Allah! Apa-apaan ini? Oh, jadi aku sedang tenar menjadi gadis simpanan Pak Dahlan yang istrinya janda kaya raya itu. Terdengar lucu sebenarnya. Tapi menyakitkan hati.
“Di kosan juga Pak Dahlan pacarku, Ran?”
Rani mendadak tertawa. Aku tahu dia juga terluka. Luka yang ditorehkan ayahnya sendiri pasti lebih menyakitkan. Tekanan batin dan mental sudah pasti dia derita. Jelas Rani juga punya alasan mendiamkan saja masalahku hingga aku pulih dari sakit.
“Bukan. Sempat ada yang bilang padaku, Sa, ternyata gadis polos sepertimu tak bisa dipercaya. Bisa mengaji dan bersikap alim, tahu-tahu simpanan orang kaya. Aku hanya menepuk jidatku keras-keras dan kembali ke samping kasur kusutmu.”
Banyak yang tak kuketahui selama aku sakit. Yang kuingat aku hanya berada dalam kamar sepekan penuh ini. Aktifitas berjemur juga baru kemarin ditemani Rani. Kulihat memang penghuni kos tak menyapaku seperti biasa. Hanya melihat dari jendela dan malah menutup pintu mereka. Kukira mereka memang sedang beraktifitas di dalam. Jadi aku tak menduga apapun.
Yuk, ikuti perjalanan Salman Salina di FizzoNovel!
Banyak rintangan menjadi hambatan persatuan mereka. Mulai dari keluarga, wanita lain, dan terakhir dari Dosen yang diam-diam menyukai Salina.
Yuk, masukkan pustakamu supaya bisa update setiap hari! 🥰🥰