24/07/2016
Invisible muslimah
Padahal beberapa tahun lalu wanita
bercadar adalah wanita yang aku kira
beraliran ekstrim atau Istri teroris. Punya
cita2 pakai cadar? Ya Ngga lah, bisa2 aku di
tinggalkan teman teman dan disangka Istri
teroris, hehehe..
Beberapa tahun kemudian terkesima dengan
seorang wanita bercadar di ruangan atm,
sepertinya ia wanita asing karena didampingi
suaminya yang bule. Padahal waktu itu udah
percaya diri tingkat tinggi, pake baju baru,
branded, wajah baru selesai di rias sama
make up artist untuk memenuhi undangan
sahabat. Semua mata memandang serasa
artis deh, kalau diingat2 sekarang diliatin
orang itu belum tentu cantik. Penampilan
terlalu menor, mencolok, paduan warna
norak, toko emas berjalan, dan lain lain itu
cara mudah jadi pusat perhatian. Walhasil,
hati langsung melempem begitu lihat ada
wanita berpakaian hitam hitam dibalik
cadarnya didampingi suami yang bule
ganteng pula. Aih, muslimah itu terkesan
ekslusif banget. Ada beberapa laki2
diruangan itu, langsung mundur kasih jalan.
Mereka langsung menunduk, bukan
jelalatan.
Langsung searching, googling, cari
informasi, mengapa ada muslimah memilih
menutup diri cuma tinggal mata saja.
Teringat teman, jilbabnya lebar, ia rajin ikut
Kajian. Yang hadir disana kebanyakan
muslimah dengan jilbab lebar, banyak juga
yg bercadar.
Setiap kali diajak kesana aku
selalu menolak. Dalam hati pikirannya
macem2, ngeri ah, takut aliran sesat.
Misi penasaran dimulai, aku kontak temanku
dan minta ikut ke Kajian yang biasa dia
hadiri. aku coba ah, dateng kesana pake
jilbab lebar. Mereka ngapain sih disana?
Penasaran.
Harinya tiba, baru datang sudah disambut
hangat. Padahal Ngga kenal, tapi hangat
banget seperti kenal lama. Langsung dapet
kenalan dan masuk kedalam duduk manis
menunggu Kajian dimulai. Lho, ko cuma ada
layar proyektor? ustadz nya mana? Padahal
udah duduk paling depan, siapa tau
ustadznya ganteng.
Acara dimulai, hadirin muslimah menyimak
materi yang disampaikan ustadznya melalui
layar proyektor. Rupanya, ustadz dan
jamaah laki2 ada dibalik tirai2 tinggi yang
dibuat membelah ruangan. Jadi yang laki2
tidak bisa melihat jamaah wanita. Begitu
juga sebaliknya. Wah, keren. Disini terasa
banget, muslimah begitu di muliakan.
Muslimah yang bercadar melepas cadarnya,
mereka cantik cantik rupanya. Ko mau sih
pakai cadar? Oh iya, sepanjang acara
semua tenang, tidak ada hot gossip
sebelum acara. Dan tidak ada juga obrolan
tas dan sepatu baru yang dibeli dengan
jungkir balik karena limited dan dari luar
negeri. Semua sederhana dan fokus belajar.
Terjawab rasa penasaran? Belum terjawab
memang, tapi sejak hari itu aku meminta
temanku selalu mengajakku Kajian. Ada Ilmu
yang disampaikan seperti guru mengajar
murid, bukan seperti mendengarkan orasi
yang berapi2 dan mengundang tawa karena
ustadznya pandai menghibur. Bukan yang
itu.. mengajar agama dengan cara
membuka kitab, berhati2 dalam menjawab
pertanyaan, dan selalu ada dalil yang
menyertai jawabannya.
Dan akhirnya aku menemukan jawabnya,
mengapa muslimah bercadar, atau mengapa
muslimah berpakaian lebar seperti mukena.
Menjadi invisible women bukan sesuatu yang
ekstrim, justru ada ketaatan yang luar biasa
ia kepada Robbnya. Kenali alasannya
sebelum menyangka negatif. Berburuk
sangka apalagi mengecap teroris adalah
sebuah pertanda kedangkalan Ilmuku.
Ditulis oleh Elmika Hijrah Indonesia