28/12/2016
*MENEMPA JIWA WIRAUSAHAWAN*
BC bagus... setidaknya mengingat kan kita kembali, kesamaan semangat dalam membangun perekonomian.
Wong Jowo : Cik, piye yo kok iso toko sampean iki laris, berpuluh tahun tetep jejeg dan cabange tambah akeh?
Tacik : tak kandani yo..
Wong jowo iso dodolan, wong cino yo iso dodolan...
Wong jowo iso sugih, wong cino yo iso sugih...
Wong cino iso gede, wong jowo ga iso gede...
Wong Jowo : Lah, kenopo Cik?
Tacik : karena sedikit sekali org2 itu yg meyelamatkan bisnisnya, mrk lebih menyelamatkan keluarganya dulu.
Wong Jowo : Loh, kan memang keluarga harus nomor 1 Cik...Bisnis kemudian..!
Tacik : begini maksudnya, org cina spt saya itu menyelamatkan bisnis utk keselamatan keluarganya. Mereka menyiapkan setiap generasinya utk masuk dan terlibat dalam proses bisnisnya. Secara tidak lgs mereka membangun managemen bisnisnya dgn sistem 'kaderisasi'.
Orang cina menyekolahkan anaknya hingga menguasai ilmu yg tinggi, kelak utk mengembangkan bisnisnya. Pulang kuliah mrk rela utk jaga toko, angkat barang, kirim pesanan, mengatur keuangan dan mengatur karyawannya.
Untuk pemuda diusianya, stlh p**ang kuliah biasanya dihabiskan waktu utk bersenang2 bersama teman sebayanya. Tetapi tidak dgn anakku, dia sy biasakan utk berhemat dgn makan masakan sendiri tanpa hrs jajan, istilahnya 'mbontot'.
Kesalahan orang tua kebanyakan adalah memanjakan anaknya dgn memberikan fasilitas penuh. Karena ortunya kaya, si anak dibekali mobil, uang saku berlimpah dan tidak ditularkan sama sekali tentang kesuksesan bisnis orang tuanya. Dengan harapan, Le kowe sekolah sing pinter ben iso dadi karyawan bank, PNS, Dokter dll. Seolah profesi yg digeluti ortunya menjadi pedagang adalah hal yg hina dan tak boleh diikuti. Padahal secara pendapatan, pedagang tentu lebih besar. Istilahnya, TIDAK BERPENGHASILAN TETAP, TETAPI TETAP BERPENGHASILAN. Hehehe...
Setelah bisnis orang tuanya hancur, sang anak tidak siap dgn kenyataan pahit yg harus diterimanya. Semua aset habis, segala fasilitas hilang, mental pedagangnya NOL dan tidak memiliki daya bertahan hidup yg kuat. Belakangan, hanya penyesalanlah yang datang.
Maka, selamatkanlah bisnismu dengan begitu keselamatan keluargamu akan mengikuti. Kenalkan anakmu dgn bisnismu, ajarkan dan tempa mrk bagai besi yang kokoh. Sehingga mrk tidak rapuh ketika memasuki jaman dan dunianya kelak.
Wong jowo : Hmmm... lalu, apakah ada org cina yg tidak menerapkan konsep bisnis spt yg tacik ceritakan tadi?...
Tacik : ADA, tetapi tidak banyak! ... Orang jawapun juga ada yg bisnisnya berkembang hingga anak cucu, ya tentunya mereka2 yg menerapkan konsep kaderisasi bisnis tadi. Nah, skrg tinggal kamu pilih dgn bijak. Mau menyelamatkan bisnismu dulu atau menyelamatkan keluargamu?..
Wong Jowo : Hmmm... Baiklah, kini sy mengerti pesan yang tacik sampaikan. Saya akan ajarkan penuh ttg bisnis ke anak2 saya. Dengan harapan mrk akan jauh lebih bisa mengembangkan bisnis ayahnya suatu saat nanti. Jika mrk tidak ditakdirkan menjadi pedagang setidaknya mental mrk sdh terbentuk sejak dini. Mereka tidak menjadi generasi rapuh dan manja.
Buat yg s**a manjain anak
Buat orang tua yg s**a anaknya jd buruh, karyawan, pegawai, PNS
*Kodekeras