Opo-Opo Ono

Opo-Opo Ono Jualan Apa Saja Ada

STANDAR GANDA - Lo Gak Boleh Pasang, Kalo Gw Boleh d**g!!!Mall pasang pagar, diminta bongkar. Rakyat datang ke gedung DP...
23/08/2026

STANDAR GANDA - Lo Gak Boleh Pasang, Kalo Gw Boleh d**g!!!

Mall pasang pagar, diminta bongkar. Rakyat datang ke gedung DPR RI untuk menyampaikan aspirasi, malah disambut pagar setinggi lebih dari 6 meter.

Lah, ini rumah rakyat atau benteng kerajaan?

Kalau logikanya seperti ini, jangan heran kalau muncul kesan: “Saya boleh, kamu tidak boleh.”

Ketika pagar menghalangi orang lain, pagar dianggap masalah. Ketika pagar menghalangi rakyat yang mau menyampaikan aspirasi, tiba-tiba semuanya terasa normal.

Inilah penyakit mental standar ganda: aturan dipakai seperti karet—ditarik ke mana yang menguntungkan, dilonggarkan ketika mengganggu kepentingan sendiri.

Konsisten sedikit, euy!!!!

KORUPSI SUDAH MASUK KAMPUS. MAU JADI APA BANGSA INI?Setelah jual beli jabatan,Jual beli kuota haji,Jual beli kasus hukum...
23/08/2026

KORUPSI SUDAH MASUK KAMPUS. MAU JADI APA BANGSA INI?

Setelah jual beli jabatan,
Jual beli kuota haji,
Jual beli kasus hukum/perkara,
Jual beli suara politik,
Jual beli ijazah,
Jual beli ijin,
Jual beli proyek pemerintah,
Kini jual beli kursi mahasiswa!

❗Rp650 juta diminta untuk satu calon mahasiswa Fakultas Kedokteran.

❗Orang tua menyanggupi. Anaknya malah tidak lolos. KPK kini menelusuri seberapa banyak mahasiswa yang diduga terkait praktik pemerasan dan gratifikasi ini.

❗Ini bukan sekadar soal uang.
Ini soal mentalitas.

❗Ketika kursi pendidikan bisa diperlakukan seperti barang dagangan, kampus bukan lagi sekadar tempat mencetak orang pintar—tetapi berisiko menjadi tempat memelihara orang pintar yang belajar bahwa jabatan bisa diuangkan.

❗Yang lebih menyedihkan: pendidikan yang seharusnya mengajarkan integritas, justru dihantam praktik yang merusak integritas.

❗Kalau mentalitas seperti ini terus dipelihara, jangan heran kalau kelak kita punya banyak orang bergelar tinggi, tetapi moralnya serendah harga diri yang bisa dibeli dan minus integritas.

KETIKA KURSI KAMPUS PUN SUDAH PUNYA PRICE LISTDulu kita mengenal istilah jual beli jabatan. Sekarang muncul babak yang l...
22/08/2026

KETIKA KURSI KAMPUS PUN SUDAH PUNYA PRICE LIST

Dulu kita mengenal istilah jual beli jabatan. Sekarang muncul babak yang lebih menyakitkan: jual beli kursi mahasiswa.

Hebat juga negeri ini.

Anak-anak disuruh belajar bertahun-tahun, mengejar nilai, mengikuti ujian, berkompetisi secara jujur.

Sementara di belakang layar, menurut konstruksi perkara KPK, ada kursi yang diduga bisa "diurus" dengan uang.

Dan harganya?

Rp50 juta sampai Rp500 juta per calon mahasiswa.

Untuk Fakultas Kedokteran bahkan terungkap permintaan Rp650 juta untuk satu calon mahasiswa. Tragisnya, uang sudah dibayar tetapi anak tersebut justru dinyatakan tidak lulus.

Ini bukan lagi sekadar persoalan uang.

Ini persoalan apa yang sedang kita ajarkan kepada generasi berikutnya?

---

MODUSNYA BAGAIMANA?

Menurut KPK, perkara ini memiliki beberapa pola.

Ada pihak yang menjadi perantara dan menawarkan jalan agar calon mahasiswa bisa masuk.

Ada proses komunikasi dan negosiasi mengenai "mahar".

Ada uang yang dikumpulkan dari calon mahasiswa.

Dan yang paling mengkhawatirkan, KPK mengungkap adanya pemberian akses user ID milik rektor untuk memberikan persetujuan terhadap calon mahasiswa yang telah menyerahkan uang.

Jadi kalau bahasa sederhananya:

Uang masuk → nama calon mahasiswa diproses → kewenangan digunakan untuk meloloskan.

Setidaknya itulah konstruksi dugaan perkara yang sedang ditangani KPK.

Dan ternyata bukan hanya Fakultas Kedokteran.

KPK menyebut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta beberapa Fakultas Hukum juga masuk dalam skema yang sedang didalami.

---

ANGKANYA BIKIN GELENG-GELENG KEPALA

Dari 2.527 kuota jalur mandiri program sarjana Unsoed 2026, KPK menemukan sementara 73 kuota yang diduga dikelola untuk dimintai sejumlah uang.

Ada p**a tiga klaster perkara yang diungkap KPK:

💰 Rp650 juta — dugaan pemerasan terhadap orang tua calon mahasiswa FK.

💰 Rp680 juta — dugaan penerimaan gratifikasi.

💰 Rp1,12 miliar — uang yang dikumpulkan dari calon mahasiswa melalui pengepul.

Dan ada cerita yang bahkan lebih ironis.

Ketika uang Rp650 juta harus dikembalikan karena calon mahasiswa tidak lulus, KPK mengungkap adanya dugaan penggunaan tiga paket proyek kampus—kanopi, renovasi kantin, dan pengecatan gedung—dalam rangka pengembalian uang tersebut.

Kalau benar seperti konstruksi perkara KPK, ini sudah seperti membuat satu ekosistem:

kursi mahasiswa → uang → perantara → pejabat → proyek.

Kampus yang seharusnya menjadi tempat mencetak orang berintegritas malah diduga menjadi tempat integritas itu diperjualbelikan.

---

DAN SIAPA YANG TERJERAT?

KPK menetapkan enam orang sebagai tersangka:

Prof. Akhmad Sodiq — Rektor Unsoed
Prof. Norman Arie Prayogo — Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan
Eko Sumanto — Kepala Bagian Akademik
Mulyono — keponakan Akhmad Sodiq
Dian Mulia Wardhana — pihak swasta/perantara
Adhi Wiharto — pihak swasta/perantara.

Sekali lagi, mereka berstatus tersangka, bukan berarti telah diputus bersalah oleh pengadilan.

Tetapi fakta bahwa seorang rektor perguruan tinggi negeri sampai ditetapkan sebagai tersangka KPK dalam perkara penerimaan mahasiswa baru sudah merupakan tamparan yang sangat keras bagi dunia pendidikan.

---

IRONISNYA, INI BUKAN KASUS PERTAMA

Tahun 2022, Rektor Universitas Lampung Karomani juga ditangkap KPK dalam kasus suap penerimaan mahasiswa baru.

KPK saat itu menduga tarif masuk melalui jalur mandiri berada di kisaran Rp100 juta–Rp350 juta, dengan dugaan penerimaan sekitar Rp5 miliar.

Artinya, persoalannya bukan sekadar "oknum nakal".

Ada pertanyaan yang jauh lebih besar:

Mengapa kursi perguruan tinggi negeri bisa begitu mudah berubah dari hak akademik menjadi komoditas?

Ketika jabatan bisa diperjualbelikan, masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.

Ketika kursi mahasiswa diduga bisa diperjualbelikan, masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pendidikan.

Lalu kalau dua-duanya rusak...

Kita sebenarnya sedang mendidik generasi seperti apa?

Ironisnya, kita sering mengatakan kepada anak-anak:

"Belajarlah yang rajin. Kejar prestasi. Jangan curang."

Tetapi mereka melihat sendiri bahwa orang yang memiliki kekuasaan justru diduga menggunakan kekuasaannya untuk mencari uang.

Pendidikan akhirnya mengajarkan dua kurikulum:

Yang tertulis di buku...

dan yang dipraktikkan oleh orang yang memegang kekuasaan.

Semoga kasus Unsoed ini benar-benar dibongkar sampai ke akar-akarnya.

Bukan hanya siapa yang menerima uang.

Tetapi siapa yang menawarkan, siapa yang menjadi pengepul, siapa yang mendapatkan keuntungan, siapa yang menggunakan kewenangan, dan apakah praktik semacam ini pernah terjadi sebelumnya.

Karena kalau kursi mahasiswa saja sudah ada "tarifnya"...

jangan heran kalau suatu hari anak-anak bertanya:

"Untuk apa saya belajar mati-matian kalau ternyata yang menentukan masa depan bukan nilai, tetapi isi rekening?"

DUNIA TIDAK AKAN KEMBALI NORMAL?Dulu orang berpikir krisis adalah peristiwa yang datang sesekali.Tetapi sekarang, justru...
22/08/2026

DUNIA TIDAK AKAN KEMBALI NORMAL?

Dulu orang berpikir krisis adalah peristiwa yang datang sesekali.

Tetapi sekarang, justru krisis demi krisis datang silih berganti tanpa jeda. Pandemi, perang, inflasi, kenaikan harga energi, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga ancaman disrupsi AI.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, bahkan memperingatkan bahwa dunia mungkin tidak akan kembali ke kondisi "normal" seperti dulu. Ketidakpastian kini telah menjadi normal baru.

Artinya, jangan lagi berharap keadaan akan sepenuhnya tenang seperti sebelum pandemi.

Apa yang sedang terjadi?

• Utang banyak negara terus membengkak.
• Konflik dan perang mengganggu perdagangan dunia.
• Harga energi dan pangan masih rentan bergejolak.
• Perubahan iklim memicu bencana dan mengganggu produksi pangan.
• Persaingan ekonomi antarnegara semakin keras.
• Kecerdasan buatan (AI) berpotensi mengguncang pasar tenaga kerja.

OECD dan PBB juga memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia sedang melambat dan masa depan masih dibayangi ketidakpastian.

Namun, ini bukan berarti dunia akan kiamat.

Justru ini menjadi pengingat bahwa kita harus lebih siap menghadapi masa depan.

Apa yang bisa kita lakukan?

✅ Kurangi gaya hidup konsumtif.
✅ Hindari utang yang tidak perlu.
✅ Miliki dana darurat dan tabungan.
✅ Tingkatkan keterampilan dan kemampuan beradaptasi.
✅ Jangan mudah panik oleh berita yang menakutkan.
✅ Perkuat ketahanan keluarga dan komunitas.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis selalu melahirkan tantangan baru, tetapi juga membuka peluang baru.

Yang berbahaya bukanlah krisis itu sendiri.

Yang berbahaya adalah ketika kita hidup seolah-olah semuanya akan selalu baik-baik saja.










PROFESI KURIR ONLINE AKAN HILANG?Hari ini, jutaan paket masih diantar oleh manusia. Namun, menurut pendiri dan Chairman ...
19/08/2026

PROFESI KURIR ONLINE AKAN HILANG?

Hari ini, jutaan paket masih diantar oleh manusia. Namun, menurut pendiri dan Chairman JD.com, Richard Liu, profesi kurir barang pada akhirnya bisa menghilang seiring kemajuan teknologi.

Richard Liu memprediksi bahwa di masa depan, sistem logistik akan semakin otomatis. Pengiriman barang dapat dilakukan menggunakan drone, robot, dan kendaraan otonom tanpa pengemudi.

Beberapa poin penting:

📌 Teknologi logistik berkembang sangat cepat.

📌 Pengiriman otomatis diperkirakan akan semakin banyak digunakan.

📌 Drone dan kendaraan tanpa sopir dipandang sebagai bagian dari masa depan industri logistik.

📌 Pekerjaan kurir manusia berpotensi berkurang secara bertahap.

📌 Perubahan teknologi selalu menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap profesi tertentu.

Dulu, banyak orang tidak membayangkan mesin dapat menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Kini, perubahan itu mulai terlihat di berbagai sektor.

Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan berubah, tetapi seberapa siap kita beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Karena dalam sejarah, yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri dengan zaman.

Bagaimana pendapat kalian?
Silakan tulis di kolom komentar.

MUSUH DALAM SELIMUT: KETIKA KEKUASAAN SENDIRI MEMBUKA PINTU BAGI PENJAJAHKalau kita berbicara tentang penjajahan Belanda...
18/08/2026

MUSUH DALAM SELIMUT: KETIKA KEKUASAAN SENDIRI MEMBUKA PINTU BAGI PENJAJAH

Kalau kita berbicara tentang penjajahan Belanda, kita sering membayangkan orang asing datang membawa senjata, kemudian menaklukkan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Tetapi sejarah Jawa memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih pahit: VOC tidak selalu harus menaklukkan sebuah kerajaan dengan kekuatannya sendiri.

Terkadang VOC cukup menunggu konflik internal terjadi.

Perebutan takhta.
Persaingan antarkeluarga kerajaan.
Perang saudara.
Ambisi mempertahankan kekuasaan.

Kemudian VOC masuk sebagai “penolong”.

Dan bantuan itu ternyata tidak pernah benar-benar gratis.

Inilah salah satu wajah kolonialisme yang dalam istilah populer kemudian sering disebut “Londo Ireng” — orang pribumi yang membantu kepentingan penjajah.

Tentu istilah “pengkhianat bangsa” perlu dipahami dalam konteks zamannya.

❗Tetapi kita tetap bisa melihat secara objektif bagaimana sebagian elite pribumi meminta bantuan VOC, bersekutu dengan VOC, atau memberikan konsesi kepada VOC demi mempertahankan posisi politiknya.

Dan salah satu contoh paling menarik terdapat dalam sejarah Mataram dan tiga generasi Pakubuwana.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

👑 1. PAKUBUWANA I — PANGERAN PUGER

Pangeran Puger adalah paman Amangkurat III.

Ketika terjadi perebutan takhta Mataram, Puger memilih mencari dukungan VOC.

VOC tentu tidak membantu secara cuma-cuma.

Pada 1704 VOC mengakui Puger sebagai raja dan memberikan dukungan dalam konflik perebutan takhta.

Perang pun terjadi.

Dengan dukungan VOC, Puger akhirnya berhasil menguasai Kartasura dan naik takhta sebagai Pakubuwana I.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa konflik tersebut menjadi salah satu tonggak penting intervensi militer VOC dalam urusan kerajaan Jawa.

Dengan kata lain: perebutan takhta di dalam keluarga Mataram berubah menjadi pintu masuk bagi campur tangan militer VOC.

("ANRI – Surat Pangeran Puger, 1704" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/hartakarun/item/04/introduction?utm_source=chatgpt.com))

Dan sejak saat itu, hubungan antara takhta Mataram dan kepentingan VOC menjadi semakin sulit dipisahkan.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

👑 2. PAKUBUWANA II — KEDAULATAN MATARAM SEMAKIN TERJEPIT

Generasi berikutnya adalah Pakubuwana II, putra Amangkurat IV.

Pada masa pemerintahannya, Mataram mengalami salah satu krisis paling besar dalam sejarahnya.

Terjadi Geger Pacinan 1740–1743, perang yang melibatkan berbagai kekuatan, termasuk pemberontakan terhadap VOC dan keterlibatan kelompok-kelompok Jawa.

Posisi Pakubuwana II berubah-ubah mengikuti perkembangan politik.

Pada akhirnya, VOC berhasil kembali memperkuat posisinya di Jawa.

Pakubuwana II kemudian kehilangan banyak ruang untuk menentukan kebijakan secara bebas.

Arsip Nasional menunjukkan bahwa pada periode tersebut terjadi komunikasi intensif antara Pakubuwana II dan Batavia.

Dokumen ANRI bahkan mencatat surat-surat Pakubuwana II kepada Batavia pada 1741, 1742, 1743 dan 1744.

("ANRI – Arsip surat Pakubuwana II" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/browse_letters/?order_by=date&page=297&utm_source=chatgpt.com))

Puncaknya terjadi pada 1749.

Dalam kondisi politik dan kesehatan yang semakin lemah, Pakubuwana II menandatangani perjanjian yang menyerahkan kedaulatan Mataram kepada VOC.

Inilah salah satu titik paling dramatis dalam sejarah Mataram:

sebuah kerajaan besar di Jawa semakin kehilangan kedaulatannya bukan hanya melalui peperangan, tetapi juga melalui perjanjian politik.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

👑 3. PAKUBUWANA III — RAJA DALAM BAYANG-BAYANG VOC

Pakubuwana III naik takhta setelah wafatnya Pakubuwana II.

Namun keadaan Mataram sudah sangat berbeda.

VOC telah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap urusan suksesi dan politik kerajaan.

Di sisi lain, muncul dua kekuatan besar yang menentang keadaan tersebut:

Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.

Konflik berkepanjangan akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 1755.

Mataram terpecah.

Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta.

Pakubuwana III tetap menjadi penguasa Surakarta.

("Kraton Yogyakarta – Sejarah Cikal Bakal" (https://www.kratonjogja.id/cikal-bakal/?utm_source=chatgpt.com))

Maka lahirlah dua pusat kekuasaan besar: Yogyakarta dan Surakarta.

Dan VOC berhasil memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik tersebut.

Bukan berarti seluruh persoalan itu dapat disederhanakan sebagai “Pakubuwana III menjual bangsa”.

Tetapi satu fakta sejarah sulit dibantah: pada masa tiga generasi Pakubuwana tersebut, campur tangan VOC terhadap politik Mataram semakin dalam.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ 4. CAKRANINGRAT IV — SEKUTU VOC DARI MADURA

Bukan hanya elite Mataram yang memiliki hubungan politik dengan VOC.

Ada p**a Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat.

Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan puluhan surat antara Bangkalan dan Batavia pada masa Cakraningrat IV.

Misalnya terdapat surat dari Bangkalan ke Batavia pada 16 Maret 1741, 20 Juli 1741, 13 Desember 1741, hingga berbagai surat sepanjang 1742.

("ANRI – Surat-surat Cakraningrat IV" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/search_letters/?order_by=archive_reference&page=2&ruler=Pangeran+Cakraningrat+IV&utm_source=chatgpt.com))

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan politik antara penguasa lokal dengan Batavia.

Cakraningrat IV kemudian terlibat dalam pergulatan politik dan militer di Jawa pada masa Geger Pacinan.

Namun kisah ini juga memberikan pelajaran penting:

sekutu VOC tidak selalu menjadi sekutu selamanya.

Ketika kepentingan berubah, hubungan itu juga bisa berubah.

Kolonialisme memang sering bekerja dengan cara seperti itu: membantu penguasa lokal selama bantuan tersebut menguntungkan kepentingan kolonial.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🗡️ 5. TUMENGGUNG ENDRANATA — KISAH PENGKHIANATAN PADA MASA SULTAN AGUNG

Jauh sebelum Pakubuwana, terdapat kisah terkenal tentang Tumenggung Endranata.

Pada masa Sultan Agung, Mataram melakukan dua ekspedisi besar untuk menyerang Batavia pada 1628 dan 1629.

Dalam tradisi historiografi Jawa, Endranata dikisahkan sebagai tokoh yang membocorkan informasi penting mengenai rencana dan logistik pasukan Mataram.

Akibatnya, pasukan Sultan Agung mengalami kesulitan besar.

Kisah Endranata kemudian menjadi simbol pengkhianatan dari dalam tubuh Mataram.

Namun di sini kita harus jujur kepada pembaca:

kisah Endranata tidak memiliki tingkat kepastian dokumenter yang sama dengan perjanjian atau surat-surat yang tersimpan dalam arsip VOC.

Karena itu lebih tepat menulis: “Dalam tradisi sejarah Jawa, Endranata dikisahkan sebagai pengkhianat Mataram.”

Bukan mengatakan seluruh detail kisah tersebut sebagai fakta arsip yang tidak terbantahkan.

("Pemprov DIY – Makam Raja-Raja Imogiri" (https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/en/17539/imogiri-royal-cemetery/?utm_source=chatgpt.com))

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ 6. PARA ELITE LOKAL PADA MASA PERANG JAWA

Ketika Pangeran Diponegoro melancarkan Perang Jawa 1825–1830, tidak semua elite Jawa bergabung dengannya.

Sebagian bangsawan, pejabat dan bupati tetap berada dalam struktur pemerintahan kolonial.

Tetapi kita juga harus berhati-hati.

Tidak setiap bupati yang tidak bergabung dengan Diponegoro otomatis dapat disebut pengkhianat atau kaki tangan Belanda.

Sebagian memilih bertahan karena pertimbangan politik, keselamatan wilayah, hubungan dengan keraton, atau kepentingan kekuasaan mereka sendiri.

Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah: “elite pribumi yang memilih bekerja dalam struktur kolonial.”

Dan ini justru menunjukkan betapa efektifnya sistem kolonial.

Belanda tidak perlu mengangkat semua pejabat dari Eropa.

Mereka dapat menjalankan pemerintahan melalui struktur elite lokal.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🔥 JADI, APA SEBENARNYA YANG HARUS KITA PELAJARI?

Sejarah ini bukan sekadar cerita tentang: Belanda melawan Jawa.

Lebih tepatnya:
VOC masuk ke dalam konflik yang sudah terjadi di antara kekuatan-kekuatan lokal, kemudian memanfaatkannya untuk memperluas kekuasaan.

Itulah yang membuat kolonialisme begitu kuat.

VOC tidak harus selalu berada di garis depan.

Kadang mereka berada di belakang layar.

Mendukung satu pihak.

Melemahkan pihak lainnya.

Memberikan bantuan militer.

Kemudian meminta konsesi.

Memberikan dukungan kepada calon penguasa.

Kemudian mendapatkan hak ekonomi dan politik.

Sampai akhirnya...

yang awalnya meminta bantuan kepada VOC justru kehilangan sebagian kebebasannya kepada VOC.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

🇮🇩 INILAH MAKNA “LONDO IRENG” YANG SEBENARNYA PERLU KITA RENUNGKAN

Jangan hanya melihat penjajah sebagai orang asing yang datang membawa senjata.

Lihat juga bagaimana sistem penjajahan dapat berjalan melalui:

ambisi pribadi,

perebutan kekuasaan,

politik uang,

perpecahan elite,

ketergantungan kepada kekuatan asing,

dan kesediaan mengorbankan kepentingan masyarakat demi mempertahankan kedudukan.

VOC memang sudah tidak ada.

Tetapi mekanisme yang membuat suatu bangsa mudah dikendalikan tetap merupakan pelajaran penting.

Karena itu, pertanyaan sejarah yang paling penting bukan hanya:
“Siapa yang menjajah kita?”

Tetapi juga:
“Bagaimana mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk menjajah kita?”

Dan jawabannya terkadang sangat menyakitkan: karena ada konflik dari dalam yang bisa mereka manfaatkan.

🇮🇩 Penjajah dari luar memang datang membawa kekuatan.

Tetapi pintu menuju kekuasaan mereka sering kali terbuka karena pertikaian dari dalam.

Itulah sebabnya sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang.

Sejarah harus dipelajari agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“APAKAH RAKYAT SUDAH BENAR-BENAR MERDEKA?”Memperingati 81 tahun Kemerdekaan Indonesia, ada satu pemikiran Tan Malaka yan...
17/08/2026

“APAKAH RAKYAT SUDAH BENAR-BENAR MERDEKA?”

Memperingati 81 tahun Kemerdekaan Indonesia, ada satu pemikiran Tan Malaka yang masih sangat relevan untuk direnungkan.

Tan Malaka tidak sekadar bertanya:

“Apakah Indonesia sudah merdeka?”

Pertanyaannya jauh lebih dalam:

“Untuk siapa kemerdekaan itu?”

Pada awal 1946, Tan Malaka berhadapan dengan perbedaan tajam mengenai arah Republik Indonesia. Ia menolak jalan diplomasi yang menurutnya terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda.

Dalam gagasannya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pergantian penguasa dari Belanda kepada orang Indonesia.

❗Baginya: MERDEKA HARUS 100%.

Artinya bukan hanya merdeka secara politik, tetapi rakyat juga harus mempunyai kekuasaan atas kehidupan ekonomi dan masa depannya sendiri.

Dalam Gerpolek yang ditulis pada 1948, Tan Malaka bahkan mengkritik revolusi yang menurutnya hanya menjadi perjuangan “beberapa gelintir orang” untuk merebut kursi kekuasaan, sementara sumber-sumber ekonomi yang penting kembali berada di tangan asing.

Ia menegaskan bahwa kemerdekaan politik saja belum cukup.

❗Jika pemerintahan sudah dipegang orang Indonesia, tetapi kekayaan alam dan sumber-sumber ekonomi strategis hanya memberikan keuntungan besar kepada segelintir elite atau kelompok tertentu, sementara manfaatnya belum sepenuhnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, maka menurut semangat pemikiran Tan Malaka: rakyat belum benar-benar merasakan kemerdekaan.

Inilah yang kemudian dikenal sebagai gagasan “Merdeka 100%”.

Yang menarik: Tan Malaka bukan sekadar mengkritik Belanda.

Ia juga berani mengkritik orang-orang Indonesia sendiri ketika menurutnya arah perjuangan telah menyimpang dari cita-cita kemerdekaan.

Dan di sinilah kita bisa mengambil pelajaran.

🇮🇩 Kemerdekaan bukan sekadar mengganti siapa yang duduk di kursi kekuasaan.

Kemerdekaan seharusnya berarti rakyat memiliki kesempatan untuk hidup layak, mendapatkan keadilan, menguasai masa depannya sendiri, dan menikmati hasil kekayaan negaranya.

Karena itu, 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan Tan Malaka masih pantas kita renungkan:

Apakah kemerdekaan sudah benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, atau baru dirasakan oleh sebagian orang yang memiliki kekuasaan?

Pertanyaan ini bukan untuk membenci pemerintah.

Bukan p**a untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Tetapi untuk mengingat kembali bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa seharusnya bermuara kepada kesejahteraan rakyat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. 🇮🇩

❗Merdeka bukan hanya dari penjajahan.
Merdeka juga dari kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, ketergantungan, dan kesewenang-wenangan.

KETIKA RAJA MATARAM MEMILIH BERGANTUNG KEPADA VOC DEMI TAHTA KEKUASAANKalau kita bicara tentang penjajahan Belanda di Ja...
16/08/2026

KETIKA RAJA MATARAM MEMILIH BERGANTUNG KEPADA VOC DEMI TAHTA KEKUASAAN

Kalau kita bicara tentang penjajahan Belanda di Jawa, kita sering membayangkan bahwa rakyat Jawa selalu berada di satu sisi dan Belanda di sisi lainnya.

Tetapi sejarah Mataram abad ke-18 menunjukkan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Ada masa ketika raja Jawa justru membutuhkan bantuan dan memihak VOC untuk mempertahankan tahtanya.

Salah satu contohnya adalah Pakubuwana II.

📜 PAKUBUWANA II: DARI BERHADAPAN DENGAN VOC, KEMUDIAN MEMINTA BANTUAN

Pada masa pergolakan besar di Mataram sekitar 1740-an, posisi Pakubuwana II mengalami perubahan.

Ketika kekuasaan Mataram terancam dan konflik semakin besar, Pakubuwana II kemudian memilih mencari bantuan VOC.

VOC membantu mengembalikan kekuasaan Pakubuwana II setelah Kartasura jatuh pada 1742.

Sebagai konsekuensinya, Mataram semakin kehilangan kedaulatan.

Sejumlah wilayah kemudian diserahkan kepada VOC melalui berbagai perjanjian.

Dengan kata lain:

VOC bukan hanya datang dengan kekuatan militernya.

VOC juga semakin kuat karena mendapatkan ruang melalui perjanjian politik dengan penguasa lokal.

👑 LALU DATANG PAKUBUWANA III

Pakubuwana II wafat pada Desember 1749.

Putranya, Raden Mas Soerjadi, kemudian naik takhta dengan gelar Pakubuwana III.

Dan di sinilah sejarah mencatat sesuatu yang sangat penting:

Pakubuwana III adalah raja Jawa pertama yang dilantik oleh pejabat VOC.

Bahkan sejak awal pemerintahannya, tahtanya mendapatkan perlindungan dan dukungan VOC karena ia menghadapi perlawanan dari Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.

Artinya, keberlangsungan kekuasaan Pakubuwana III sangat berkaitan dengan dukungan VOC.

⚔️ VOC DAN PECAHNYA MATARAM

Persaingan kekuasaan kemudian semakin besar.

VOC tidak sekadar menjadi penonton.

Mereka ikut memainkan politik di antara para bangsawan Mataram.

Puncaknya terjadi pada Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755.

Mataram secara resmi terbagi:

Pakubuwana III → Surakarta

Pangeran Mangkubumi → Yogyakarta

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh VOC, Pakubuwana III, dan Pangeran Mangkubumi.

Jadi, kerajaan Mataram yang dahulu merupakan salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa akhirnya terpecah menjadi pusat-pusat kekuasaan yang berbeda.

Dan VOC memperoleh keuntungan politik yang sangat besar dari keadaan tersebut.

❗JADI SIAPA YANG SEBENARNYA MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN?

Ini bukan soal membenci atau mengagungkan seorang raja.

Ini soal memahami sejarah.

Pakubuwana II memilih meminta bantuan VOC untuk mendapatkan kembali kekuasaannya.

Pakubuwana III mempertahankan tahtanya dengan dukungan VOC.

Sementara itu, para bangsawan seperti Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said justru mengangkat senjata melawan kekuasaan yang didukung VOC.

❗Maka sejarah Jawa abad ke-18 memberikan pelajaran penting:

Penjajahan tidak selalu berlangsung hanya melalui perang antara bangsa asing melawan rakyat pribumi.

❗Kadang-kadang kekuasaan kolonial justru menjadi kuat karena memperoleh sekutu politik dari kalangan penguasa lokal.

Dan sebaliknya, perlawanan terhadap kolonialisme juga tidak selalu datang dari satu kerajaan atau satu kelompok saja.

🇮🇩 SEJARAH HARUS DIBACA DENGAN JUJUR

Tidak semua raja Jawa adalah pejuang anti-Belanda.

Tidak semua bangsawan Jawa tunduk kepada VOC.

Ada yang melawan.

Ada yang berkompromi.

Ada yang meminta bantuan VOC.

Ada p**a yang mempertahankan tahtanya karena perlindungan VOC.

Karena itu, ketika membaca sejarah, jangan hanya bertanya:

“Siapa penjajahnya?”

Tetapi tanyakan juga:

“Siapa yang memberi penjajah jalan untuk masuk dan mempertahankan kekuasaannya?”

Sejarah bukan untuk menghina keturunan siapa pun.

Sejarah adalah pelajaran agar kita memahami bagaimana kekuasaan, kepentingan politik, dan kolonialisme bekerja.

Karena sebuah bangsa bisa kehilangan kedaulatan bukan hanya karena kalah perang—tetapi juga karena kekuasaannya perlahan diserahkan melalui kompromi politik.

11/08/2026

EMPAT GEMPA BESAR MENGGUNCANG DUNIA

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah di dunia kembali diguncang gempa bumi berkekuatan besar. Berikut empat kejadian yang menjadi perhatian:

📍 🇨🇴 KOLOMBIA — 10 AGUSTUS 2026
Gempa berkekuatan M7,4 mengguncang wilayah Chocó, dekat San José del Palmar. Gempa menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan menyebabkan korban jiwa.

📍 🇯🇵 JEPANG — 28 JULI 2026
Gempa berkekuatan M6,8 mengguncang wilayah Kumamoto, Jepang. Guncangan terasa di sejumlah wilayah dan berpotensi menimbulkan kerusakan.

📍 🇲🇽 MEKSIKO — 17 JULI 2026
Gempa berkekuatan M7,3 terjadi di lepas pantai selatan Meksiko, sekitar 52 km sebelah barat Puerto Madero, dengan kedalaman sekitar 20 km.

📍 🇻🇪 VENEZUELA — 24 JUNI 2026
Venezuela diguncang dua gempa besar, masing-masing berkekuatan M7,2 dan M7,5. Kedua gempa terjadi hanya sekitar 39 detik berselang.

🌐 Empat gempa besar di lokasi berbeda ini kembali mengingatkan bahwa aktivitas seismik dapat terjadi kapan saja dan di berbagai belahan dunia.

Tetap waspada, ikuti informasi resmi, dan selalu siapkan langkah-langkah keselamatan menghadapi bencana.

11/08/2026

PRAY FOR COLOMBIA 🇨🇴
Gempa dahsyat M7,4 mengguncang Kolombia. Di tengah kehancuran dan duka, mari kirimkan doa untuk para korban, keluarga yang kehilangan, serta seluruh masyarakat yang terdampak.

🙏 Doa kita untuk Kolombia.

Address

Jebres
Surakarta
57128

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Opo-Opo Ono posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category