18/08/2026
MUSUH DALAM SELIMUT: KETIKA KEKUASAAN SENDIRI MEMBUKA PINTU BAGI PENJAJAH
Kalau kita berbicara tentang penjajahan Belanda, kita sering membayangkan orang asing datang membawa senjata, kemudian menaklukkan kerajaan-kerajaan Nusantara.
Tetapi sejarah Jawa memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih pahit: VOC tidak selalu harus menaklukkan sebuah kerajaan dengan kekuatannya sendiri.
Terkadang VOC cukup menunggu konflik internal terjadi.
Perebutan takhta.
Persaingan antarkeluarga kerajaan.
Perang saudara.
Ambisi mempertahankan kekuasaan.
Kemudian VOC masuk sebagai “penolong”.
Dan bantuan itu ternyata tidak pernah benar-benar gratis.
Inilah salah satu wajah kolonialisme yang dalam istilah populer kemudian sering disebut “Londo Ireng” — orang pribumi yang membantu kepentingan penjajah.
Tentu istilah “pengkhianat bangsa” perlu dipahami dalam konteks zamannya.
❗Tetapi kita tetap bisa melihat secara objektif bagaimana sebagian elite pribumi meminta bantuan VOC, bersekutu dengan VOC, atau memberikan konsesi kepada VOC demi mempertahankan posisi politiknya.
Dan salah satu contoh paling menarik terdapat dalam sejarah Mataram dan tiga generasi Pakubuwana.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
👑 1. PAKUBUWANA I — PANGERAN PUGER
Pangeran Puger adalah paman Amangkurat III.
Ketika terjadi perebutan takhta Mataram, Puger memilih mencari dukungan VOC.
VOC tentu tidak membantu secara cuma-cuma.
Pada 1704 VOC mengakui Puger sebagai raja dan memberikan dukungan dalam konflik perebutan takhta.
Perang pun terjadi.
Dengan dukungan VOC, Puger akhirnya berhasil menguasai Kartasura dan naik takhta sebagai Pakubuwana I.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa konflik tersebut menjadi salah satu tonggak penting intervensi militer VOC dalam urusan kerajaan Jawa.
Dengan kata lain: perebutan takhta di dalam keluarga Mataram berubah menjadi pintu masuk bagi campur tangan militer VOC.
("ANRI – Surat Pangeran Puger, 1704" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/hartakarun/item/04/introduction?utm_source=chatgpt.com))
Dan sejak saat itu, hubungan antara takhta Mataram dan kepentingan VOC menjadi semakin sulit dipisahkan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
👑 2. PAKUBUWANA II — KEDAULATAN MATARAM SEMAKIN TERJEPIT
Generasi berikutnya adalah Pakubuwana II, putra Amangkurat IV.
Pada masa pemerintahannya, Mataram mengalami salah satu krisis paling besar dalam sejarahnya.
Terjadi Geger Pacinan 1740–1743, perang yang melibatkan berbagai kekuatan, termasuk pemberontakan terhadap VOC dan keterlibatan kelompok-kelompok Jawa.
Posisi Pakubuwana II berubah-ubah mengikuti perkembangan politik.
Pada akhirnya, VOC berhasil kembali memperkuat posisinya di Jawa.
Pakubuwana II kemudian kehilangan banyak ruang untuk menentukan kebijakan secara bebas.
Arsip Nasional menunjukkan bahwa pada periode tersebut terjadi komunikasi intensif antara Pakubuwana II dan Batavia.
Dokumen ANRI bahkan mencatat surat-surat Pakubuwana II kepada Batavia pada 1741, 1742, 1743 dan 1744.
("ANRI – Arsip surat Pakubuwana II" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/browse_letters/?order_by=date&page=297&utm_source=chatgpt.com))
Puncaknya terjadi pada 1749.
Dalam kondisi politik dan kesehatan yang semakin lemah, Pakubuwana II menandatangani perjanjian yang menyerahkan kedaulatan Mataram kepada VOC.
Inilah salah satu titik paling dramatis dalam sejarah Mataram:
sebuah kerajaan besar di Jawa semakin kehilangan kedaulatannya bukan hanya melalui peperangan, tetapi juga melalui perjanjian politik.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
👑 3. PAKUBUWANA III — RAJA DALAM BAYANG-BAYANG VOC
Pakubuwana III naik takhta setelah wafatnya Pakubuwana II.
Namun keadaan Mataram sudah sangat berbeda.
VOC telah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap urusan suksesi dan politik kerajaan.
Di sisi lain, muncul dua kekuatan besar yang menentang keadaan tersebut:
Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.
Konflik berkepanjangan akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 1755.
Mataram terpecah.
Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta.
Pakubuwana III tetap menjadi penguasa Surakarta.
("Kraton Yogyakarta – Sejarah Cikal Bakal" (https://www.kratonjogja.id/cikal-bakal/?utm_source=chatgpt.com))
Maka lahirlah dua pusat kekuasaan besar: Yogyakarta dan Surakarta.
Dan VOC berhasil memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik tersebut.
Bukan berarti seluruh persoalan itu dapat disederhanakan sebagai “Pakubuwana III menjual bangsa”.
Tetapi satu fakta sejarah sulit dibantah: pada masa tiga generasi Pakubuwana tersebut, campur tangan VOC terhadap politik Mataram semakin dalam.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ 4. CAKRANINGRAT IV — SEKUTU VOC DARI MADURA
Bukan hanya elite Mataram yang memiliki hubungan politik dengan VOC.
Ada p**a Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat.
Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan puluhan surat antara Bangkalan dan Batavia pada masa Cakraningrat IV.
Misalnya terdapat surat dari Bangkalan ke Batavia pada 16 Maret 1741, 20 Juli 1741, 13 Desember 1741, hingga berbagai surat sepanjang 1742.
("ANRI – Surat-surat Cakraningrat IV" (https://sejarah-nusantara.anri.go.id/id/search_letters/?order_by=archive_reference&page=2&ruler=Pangeran+Cakraningrat+IV&utm_source=chatgpt.com))
Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan politik antara penguasa lokal dengan Batavia.
Cakraningrat IV kemudian terlibat dalam pergulatan politik dan militer di Jawa pada masa Geger Pacinan.
Namun kisah ini juga memberikan pelajaran penting:
sekutu VOC tidak selalu menjadi sekutu selamanya.
Ketika kepentingan berubah, hubungan itu juga bisa berubah.
Kolonialisme memang sering bekerja dengan cara seperti itu: membantu penguasa lokal selama bantuan tersebut menguntungkan kepentingan kolonial.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🗡️ 5. TUMENGGUNG ENDRANATA — KISAH PENGKHIANATAN PADA MASA SULTAN AGUNG
Jauh sebelum Pakubuwana, terdapat kisah terkenal tentang Tumenggung Endranata.
Pada masa Sultan Agung, Mataram melakukan dua ekspedisi besar untuk menyerang Batavia pada 1628 dan 1629.
Dalam tradisi historiografi Jawa, Endranata dikisahkan sebagai tokoh yang membocorkan informasi penting mengenai rencana dan logistik pasukan Mataram.
Akibatnya, pasukan Sultan Agung mengalami kesulitan besar.
Kisah Endranata kemudian menjadi simbol pengkhianatan dari dalam tubuh Mataram.
Namun di sini kita harus jujur kepada pembaca:
kisah Endranata tidak memiliki tingkat kepastian dokumenter yang sama dengan perjanjian atau surat-surat yang tersimpan dalam arsip VOC.
Karena itu lebih tepat menulis: “Dalam tradisi sejarah Jawa, Endranata dikisahkan sebagai pengkhianat Mataram.”
Bukan mengatakan seluruh detail kisah tersebut sebagai fakta arsip yang tidak terbantahkan.
("Pemprov DIY – Makam Raja-Raja Imogiri" (https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/en/17539/imogiri-royal-cemetery/?utm_source=chatgpt.com))
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ 6. PARA ELITE LOKAL PADA MASA PERANG JAWA
Ketika Pangeran Diponegoro melancarkan Perang Jawa 1825–1830, tidak semua elite Jawa bergabung dengannya.
Sebagian bangsawan, pejabat dan bupati tetap berada dalam struktur pemerintahan kolonial.
Tetapi kita juga harus berhati-hati.
Tidak setiap bupati yang tidak bergabung dengan Diponegoro otomatis dapat disebut pengkhianat atau kaki tangan Belanda.
Sebagian memilih bertahan karena pertimbangan politik, keselamatan wilayah, hubungan dengan keraton, atau kepentingan kekuasaan mereka sendiri.
Karena itu, istilah yang lebih tepat adalah: “elite pribumi yang memilih bekerja dalam struktur kolonial.”
Dan ini justru menunjukkan betapa efektifnya sistem kolonial.
Belanda tidak perlu mengangkat semua pejabat dari Eropa.
Mereka dapat menjalankan pemerintahan melalui struktur elite lokal.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 JADI, APA SEBENARNYA YANG HARUS KITA PELAJARI?
Sejarah ini bukan sekadar cerita tentang: Belanda melawan Jawa.
Lebih tepatnya:
VOC masuk ke dalam konflik yang sudah terjadi di antara kekuatan-kekuatan lokal, kemudian memanfaatkannya untuk memperluas kekuasaan.
Itulah yang membuat kolonialisme begitu kuat.
VOC tidak harus selalu berada di garis depan.
Kadang mereka berada di belakang layar.
Mendukung satu pihak.
Melemahkan pihak lainnya.
Memberikan bantuan militer.
Kemudian meminta konsesi.
Memberikan dukungan kepada calon penguasa.
Kemudian mendapatkan hak ekonomi dan politik.
Sampai akhirnya...
yang awalnya meminta bantuan kepada VOC justru kehilangan sebagian kebebasannya kepada VOC.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🇮🇩 INILAH MAKNA “LONDO IRENG” YANG SEBENARNYA PERLU KITA RENUNGKAN
Jangan hanya melihat penjajah sebagai orang asing yang datang membawa senjata.
Lihat juga bagaimana sistem penjajahan dapat berjalan melalui:
ambisi pribadi,
perebutan kekuasaan,
politik uang,
perpecahan elite,
ketergantungan kepada kekuatan asing,
dan kesediaan mengorbankan kepentingan masyarakat demi mempertahankan kedudukan.
VOC memang sudah tidak ada.
Tetapi mekanisme yang membuat suatu bangsa mudah dikendalikan tetap merupakan pelajaran penting.
Karena itu, pertanyaan sejarah yang paling penting bukan hanya:
“Siapa yang menjajah kita?”
Tetapi juga:
“Bagaimana mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk menjajah kita?”
Dan jawabannya terkadang sangat menyakitkan: karena ada konflik dari dalam yang bisa mereka manfaatkan.
🇮🇩 Penjajah dari luar memang datang membawa kekuatan.
Tetapi pintu menuju kekuasaan mereka sering kali terbuka karena pertikaian dari dalam.
Itulah sebabnya sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang.
Sejarah harus dipelajari agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.