Agen Afrakids Tasikmalaya

Agen Afrakids Tasikmalaya Agen Resmi AFRAKIDS Tasikmalaya

Peluang usaha bagi Anda untuk menjadi Reseller atau Dropshipper penjualan Kaos Anak Muslim Afrakids, hub, WA/SMS: 0852-8888-4784, pinBB: 5C71DF3E

Kisah Mengharukan Anak Sholeh Yang Menolong Orang Tuanya   Kisah ini banyak mengandung hikmah dan palajaran buat kita se...
31/01/2017

Kisah Mengharukan Anak Sholeh Yang Menolong Orang Tuanya

Kisah ini banyak mengandung hikmah dan palajaran buat kita semua. Namun berhubung kisahnya panjang dan mengharukan, jadi siapkan tissue dulu.

Begini ceritanya.
“G*blok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis.

Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus, terus.
Doni menangis “Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak.

Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ? Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni.
Suamiku terduduk di kursi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.

Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua.

Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”
“Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang enggak pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis. “Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “
“Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda“

Malamnya, adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.
Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku, “Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya.

Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. "Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna.
Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN.

Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik p**a. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas.

“Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manap**a aku ada gizi cukup. Mana p**a orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. Aku tersentak.

“Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “
“Biar dia bisa dididik dengan benar”
“Apakah di rumah dia tidak mendapatkan itu”
“Ini sudah keputusanku, Titik."
“Tapi kenapa , Mas” Aku berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya.

Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nampak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “Doni enggak mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli.
“Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan p**ang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasah Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk.
Bila liburan Doni p**ang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan.
Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Ku perhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setelah tamat Madrasah Aliyah, Doni kembali tinggal di rumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas.
“Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku.
Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek.

Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu ?
Doni sujud dikaki ku sambil berkata, “Doni tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percaya 'kan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa ke kantor polisi.
Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulillah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku ”Bunda , Maafkan. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “
Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.
“Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri."
***

Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku.
Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan sosial kami pun semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.“
***

Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itup**a suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii.

Dan puncaknya, adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku di rumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku.
Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survive dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri di depan pintu rumah.
Doniku ada di depanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah.“ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku.

Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni di rumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia s**a sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami.
Tak lebih setahun setelah itu, Ruli dan juga Rini kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjamaah Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita di dunia ini dibandingkan dengan Allah ?“

“Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karena kita sudah sangat siap untuk p**ang keharibaan Allah dengan bersih.“

Seusai Doni berbicara, aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah.
Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar, dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan air mata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Maha
Suci Allah.

(Disadur dari Group WhatsApp)
La Tahzan, jangan bersedih. Kita ambil hikmahnya saja ....Silakan Share agar kita bisa semakin adil terhadap anak kita!!

Dapatkan 50 koleksi AFRAKIDS lainnya, klik zaid.bazarafra.comYuk tanamkan nilai-nilai Islam sejak dini pada anak kita!!
26/01/2017

Dapatkan 50 koleksi AFRAKIDS lainnya, klik zaid.bazarafra.com

Yuk tanamkan nilai-nilai Islam sejak dini pada anak kita!!

Koleksi   lengan pendekReady size XS,S,M,L dan XLUntuk model yang tersedia chat aja langsung CS kita yaSMS/WA : 0852-888...
12/01/2017

Koleksi lengan pendek

Ready size XS,S,M,L dan XL
Untuk model yang tersedia chat aja langsung CS kita ya
SMS/WA : 0852-8888-4784

KISAH INSPIRATIF ANAK SOLEH DAN AYAHNYAOrang Tua Wajib Baca!!!Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini y...
12/01/2017

KISAH INSPIRATIF ANAK SOLEH DAN AYAHNYA

Orang Tua Wajib Baca!!!

Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya.

Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.

Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk
menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya.

Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yang telah tua renta sambil memelas.

Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap
langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya.

Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya; “Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”

“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..

“DEG!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut. “Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.

“Kan aku masih punya ayah dan Ibu! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.

“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan Ibu akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.

“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan Ibu, maka aku sangat yakin ayah dan Ibu tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD.

Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya. Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..

“Sayang…ayah dan Ibu janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru.

Sambil memegang kedua p**i ayahnya,sang anak membalas, “Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan Ibu sangat mencintai dan menyayangiku.

Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan Ibu, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan Ibu hidup dijalan seperti kakek tua itu…”

Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.

Anak ibarat kertas putih yang kita bisa tulis apa saja. Mari kita berdo’a agar anak keturunan kita menjadi anak yg Soleh/solehah.
Peduli pada sesama, dan ikhlas berbagi.

Dan sesungguhnya itu bisa kita mulai dari diri kita dulu… Pedulilah pada sesama, ikhlaslah berbagi…. InsyaAllah anak kita pun akan demikian…, InsyaAllah..

Assalamu'alaikum Ayah Bunda :-)Nambah koleksi kaos Afrakids nya yuk..Bikin anak gaya dan trendy sih afrakids jagonya..Ta...
11/01/2017

Assalamu'alaikum Ayah Bunda :-)

Nambah koleksi kaos Afrakids nya yuk..
Bikin anak gaya dan trendy sih afrakids jagonya..Tapi bukan itu yang lebih penting..value yang ada di kaos afrakidsnya itu yang bikin kita sebagai orang tua berharap nilai itu terpatri sejak dini..

Mangga bun dipilih kaos afrakids lengan panjangnya!!

Ready Stock:

AF128 size XL
AF129 size XS
AF131 size S
AF132 size XS
AF134 size XS
AF135 size S
AF137 size XS,S,XL
AF138 size S
AF140 size S,XL
AF141 size XS
AF142 size S
AF144 size XS
AF145 size XL
AF146 size XL
AF148 size S,M,L,XL
AF149 size M
AF150 size XS,XL
AF152 size S,XL

Order Sekarang Juga yuk
ketik --> Nama # Alamat kirim # Kode # Size
KIRIM ke 0852-8888-4784

Mau jadi reseller???
Kunjungi www.joinresellerafrakids.com

KEUNGGULAN PRODUK AFRAKIDS1. Kaos Afrakids menggunakan bahan Cotton Combed 24S dengan kualitas terbaik di Indonesia saat...
01/01/2017

KEUNGGULAN PRODUK AFRAKIDS

1. Kaos Afrakids menggunakan bahan Cotton Combed 24S dengan kualitas terbaik di Indonesia saat ini. Cotton Combed adalah bahan yang sangat halus dan berkualitas tinggi.

2. Kami menggunakan 100% katun, 0% bahan sintesis, tanpa polyester sama sekali.

3. Kami memakai pewarna yang sudah lolos sertifikasi internasional keamanan pakaian.

4. Sablon kaos Afrakids bersifat non-toxic dan aman untuk lingkungan. Seandainya kaos Afrakids tidak sengaja hilang dan terbuang, lingkungan akan tetap aman.

==================
Mau Gabung Jadi Reseller? BISA
Hubungi sekarang via SMS/WA/Telp
Abu Zaid 085288884784
Atau klik www.joinresellerafrakids.com

Size Chart Kaos Anak Muslim AFRAKIDSAssalamu'alaikum ayah bunda,..Biar ga salah ukuran yuk dicek dulu ukuran kaos AFRAKI...
28/12/2016

Size Chart Kaos Anak Muslim AFRAKIDS

Assalamu'alaikum ayah bunda,..

Biar ga salah ukuran yuk dicek dulu ukuran kaos AFRAKIDS nya ya bund..

AF131 – Only Eat Halal & Good FoodAyah-bunda, berilah putra putri anda makanan yang halal dan thayyib agar mereka tumbuh...
25/12/2016

AF131 – Only Eat Halal & Good Food

Ayah-bunda, berilah putra putri anda makanan yang halal dan thayyib agar mereka tumbuh menjadi pemuda muslim yang keren!

Menurut para ulama, makanan halal dan thayyib terdiri dari 3 kriteria. tidak membahayakan tubuh dan akal pikiran, lezat, dan higienis, serta tidak diharamkan oleh Allah dan Rasulullah

Untuk order hubungi via SMS/WA Abu Zaid: 08528884784 atau TELP Ibu Ata 082319882630

Address

Jalan Cigeureung Paozan Parakanyasag Indihiang (Samping Warung Darus)
Tasikmalaya
46151

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 13:00

Telephone

085288884784

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Agen Afrakids Tasikmalaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category