08/03/2017
*Maafkan aku, ibu...*
(Kisah nyata dari seorang motivator: Jamil Zaini)
Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak
bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya
bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah
tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat.
Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang
kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa
tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya.
Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor.
Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan
selalu kehausan. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra,
penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.
Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Kita di
Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam
berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta.
Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian
pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan
kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui
keadaan istri saya.
Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa
teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.
Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang
menangani istri saya menemui saya dan bertanya,
_“Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk
mengganti obat istri bapak.”_
_“Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya,
padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat
untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?”_
_“Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini
nantinya disuntikkan ke istri bapak.”_
_“Berapa harganya dok?”_
_“Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.”_
_“Satu hari berapa kali suntik dok?”_
_“Sehari 3 kali suntik.”_
_“Berarti sehari 36 juta dok?”_
_“Iya pak Jamil.”_
_“Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan
saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri
saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong
temukan penyakit istri saya dok.”_
_“Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum
menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah
mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak
laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.”_
_“Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter
yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya.
Tolong dok dicari”_
_“Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami
tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan
terpaksa kami akan mengganti obatnya.”_ Kemudian dokter
memeriksa lagi.
_“Iya dok.”_
Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua
raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan
menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah
memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,
_“Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku
lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan
sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang
tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah.
Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif
apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung
sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat
mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau
mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.”_
Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, _“Ya Allah,
gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan
energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji
dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?”_ saya
teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu
ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-.
Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan.
Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,. Setiap pagi
wali kelas memanggil dan menanyakan saya, _“Jamil,
kapan membayar SPP ? Jamil, kapan membayar SPP ?
Jamil, kapan membayar SPP ?”_
Malu saya.
Dan ketika waktu istrirahat saya p**ang dari sekolah, saya
menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya.
Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan
Rp75,- saya gunakan untuk jajan.
Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, _“Ya Allah,
gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang
aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung
sembuh?”_ saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD
dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir
tidak lagi mengingatnya ??.
Maka saya berkesimp**an mungkin ini petunjuk dari Allah.
Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak
kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah
itu saya menelpon ibu saya,
_“Assalamu’alaikum ibu…”_
_“Wa’alaikumus salam Mil….”_ Jawab ibu saya.
_“Bagaimana kabarnya bu ?”_
_“Ibu baik-baik saja Mil.”_
_“Trus, bagaimana kabarnya anak-anak bu ?”_
_“Mil, ibu jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga
anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-
anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana
kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?”_ , dengan
suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak
tangisnya.
_“Belum sembuh bu.”_
_“Yang sabar ya Mil.”_
Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka
butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, _“Bu…, ibu
masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?”_
_“Yang mana Mil ?”_
_“Kejadian ketika ibu kehilangan uang Rp150,- yang
tersimpan di bawah bantal ?”_
Tiba-tiba di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, ibu
berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding
setiap kali mengingatnya)
_“Mil, sampai ibu meninggal, ibu tidak akan
melupakannya.”_ (suara mama semakin pilu dan menyayat
hati),
_“Gara-gara uang itu hilang, ibu dicaci-maki di depan
banyak orang. Gara-gara uang itu hilang ibu dihina dan
direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu ibu
punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang
itu sudah siap dan ibu simpan di bawah bantal namun
ketika ibu p**ang, uang itu sudah tidak ada. Ibu
memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan
memohon maaf karena uang yang sudah ibu siapkan
hilang."_
_"Mendengar alasan ibu, orang itu merendahkan ibu Mil.
Orang itu mencaci-maki ibu Mil. Orang itu menghina ibu Mil,
padahal di situ banyak orang. ...rasanya Mil. Ibumu
direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada
waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi ibu
dihinakan di depan banyak orang. SAKIT.... SAKIT... SAKIT
rasanya.”_
Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan
mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami ibu
pada waktu itu, saya bertanya, _“Ibu tahu siapa yang
mengambil uang itu ?”_
_“Tidak tahu Mil…Ibu tidak tahu.”_
Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab
dengan suara serak,
_“Ibu , yang mengambil uang itu aku bu….., maka melalui
telphon ini saya memohon keikhlasan ibu. Bu, tolong
maafkan Jamil bu…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu
sama ihu, Jamil akan sungkem sama ibu. Maafkan aku bu,
maafkan aku….”_
Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,
_“Astaghfirullahal ‘Azhim…._
_Astaghfirullahal ‘Azhim….._
_Astaghfirullahal ‘Azhim….._
_Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil
uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah,
ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah...”_
_“Bu, benar ibu sudah memaafkan aku ?”_
_“Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Ibu yang
seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama
ibu memendam dendam ini. Ibu tidak tahu kalau yang
mengambil uang itu adalah kamu Mil.”_
_"Bu, tolong maafkan aku bu. Maafkan aku ibu?”_
_“Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah
ibu maafkan, termasuk mengambil uang itu.”_
_“Bu, tolong iringi dengan doa untuk istriku ibu agar cepat
sembuh.”_
_“Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan
kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah
putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain.
Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku
ya Allah...”_
Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan
terima kasih kepada ibu.
Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul
11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari
berkata,
_“Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah
ketahuan.”_
_“Apa dok?”_
_“Infeksi prankreas.”_
Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air
mata kebahagiaan, _“Terima kasih dokter, terima kasih
dokter. Terima kasih, terima kasih dok.”_
Selesai memeluk, dokter itu berkata, _“Pak Jamil, kalau
boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan
sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi
keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami
meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar
istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah
berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih
mudah.”_
Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya
selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada
mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, _“Terima
kasih ibu…., terima kasih ibu.”_
Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah
namun justru mama yang meminta maaf. _“Bukan kamu
yang harus meminta maaf Mil, ibu yang seharusnya minta
maaf...”_
*****
Saudaraku...
Sungguh benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa
sallam :
_"Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan
murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua"_ (HR
Bukhari, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
_"Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang
yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa
yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka
diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu
langit dan Allah bertitah, 'Demi keperkasaan-Ku, Aku akan
memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera."_
(HR. Attirmidzi)
Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:
Bila kita seorang anak ...
Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena
murka mereka akan membuat murka Allah subhanahu wa
ta’ala.
Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu
orang tua kita ridlo kepada kita.
Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada
orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa
orang teraniaya itu terkabul.
Bila kita sebagai orang tua ...
Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena
kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah
subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah
ujungnya.
Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak,
Berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah
mereka.
Semoga kita di karuniai anak keturunan yang shaleh dan
shalehah, yang pintar dan kreatif dan menjadi kebanggaan
kita dalam kebaikan.
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...