15/10/2018
"Anak seorang petani yang lulus dengan predikat Cumlaud"
Aku selalu bangga dengan apa yg dikerjakan orangtuaku, aku tak pernah malu. Sejak aku belum lahir memang profesi ibukku adl petani dan Bapakku seorang sopir truk tronton ⛟. Akan tetapi 2 tahun lebih ini Bapakku terkena serangan stroke ringan, tangan kakinya lemas sehingga membuatnya tak mampu mengendarai mobil dan motor bahkan utk beraktifitas harus dibatasi. Sehari-harinya hanya duduk manis, sesekali jalan2 agar darahnya mengalir dengan baik. Tulang punggung keluarga akhirnya dibebankan pd ibukku. Beban ternyata tidak hanya bapak yg sakit melainkan simbah (pak lek'a ibuk) beliau sakit keras dan ingin dirawat ibukku. Beliau dulu bekerja di Dinas perhubungan, beliau cerdas sekali, sesekali saat aku pulang dari pesantren pasti ada kata mutiara yg beliau sampaikan untukku, beliau baik dan tampak sayu. Ibuk merawat sekitar 1 tahun dan akhirnya beliau meninggal. Tidak lm kemudian kini nenekku (ibunya bapak) yg sakit akibat jatuh dan harus operasi pinggul, sehingga membuatnya tdk mampu untuk berjalan, duduk pun harus dibantu dan saat ini ibukku lah yg merawatnya. Sejak kuliah dan hidup di pesantren aku selalu berusaha utk tidak meminta uang saku pd orangtuaku saat tau beban di rumah berat. Aku berusaha untuk bekerja sambil sekolah. Sedikit demi sedikit pun mulai ku kumpulkan untuk membiayai kuliah dan Sehari-harinya. Aku tidak pernah kecewa aku terlahir dari rahim siapa. Karena ku tak mampu memilih keluarga seperti apa yg ku inginkan saat aku lahir ke bumi. Aku bersyukur dan selalu bangga. Hidup tidak manja bahkan ku terdidik untuk mandiri. Ketika ku pulang dan berkata pada orangtuaku bahwa aku lulus beliau berdua tersenyum lebar dengan bangganya.. Karena dr 6 anak yg kuliah hanya diriku, dan semoga kelak adikku juga mampu meningkatkan pendidikan serta membahagiakan orangtua dan keluarga 👪.