18/08/2015
💥DUA KELOMPOK MANUSIA DI DUNIA
🍃Manusia di dunia terbagi menjadi dua kelompok :
🌱Pertama : Yang mengingkari keberadaan negeri lain setelah dunia ini yaitu negeri untuk memberikan balasan.
Mereka itulah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya, yang bermakna : "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan dunia serta tentram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.” [Yunus: 7-8]
Ambisi mereka adalah menikmati dunia dan memanfaatkan seluruh kelezatannya sebelum mati, seperti difirmankan Allah,
ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
Dan orang-orang kafir menikmati kesenangan dunia, dan mereka makan seperti hewan makan; dan kelak nerakalah tempat tinggal bagi mereka.[Muhammad/47:12]
🌱Kedua : Yang mengakui adanya negeri Akhirat setelah kematian.
Kelompok ini bergabung ke dalam syari’at para rasul. Mereka terbagi ke dalam tiga kelompok:
Pertama, orang yang menzhalimi dirinya sendiri.
Kedua, orang yang pertengahan.
Ketiga, orang yang berlomba dalam kebaikan atas izin Allah.
Kelompok yang menzhalimi dirinya sendiri adalah kelompok terbanyak dan kebanyakan mereka terlena dengan bunga-bunga dunia dan perhiasannya, lalu mengambilnya dan menggunakannya tidak pada semestinya. Akibatnya, dunia menjadi ambisi terbesarnya. Karena dunialah, mereka marah, ridha, berdamai dan memusuhi. Merekalah orang-orang yang lalai, main-main, orang-orang yang mementingkan penampilan, sombong dan gila harta. Mereka tidak mengetahui jalan hidup dan tidak menyadari bahwa dunia merupakan tempat perjalanan untuk menyiapkan bekal akhirat. Kendati ada diantara mereka yang mengimaninya namun dengan keimanan global, mereka tidak mengetahuinya secara detail dan tidak merasakan kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang mengenal Allah di dunia yang merupakan sampel kenikmatan yang disiapkan di akhirat.
Kelompok yang pertengahan ialah orang-orang yang mengambil dunia dari sumber yang diperbolehkan, menunaikan kewajiban-kewajibannya, menyimpan harta lebih dari kebutuhannya dan juga sering bersenang-senang dengan kenikmatan dunia.
Adapun kelompok yang berlomba-lomba dalam kebaikan seizin Allah, mereka memahami tujuan dunia dan beramal sebagaimana mestinya. Mereka sadar bahwa Allah menempatkan para hamba-Nya di dunia dalam rangka menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya, seperti yang Allah firmankan, yang artinya :
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." [Hûd/11:7]
Kelompok yang berlomba-lomba dalam kebaikan ini terbagi ke dalam dua kelompok.
Pertama: Kelompok yang hanya mengambil dunia sebatas untuk menutup kerongkongan saja. Inilah kondisi kebanyakan orang-orang yang zuhud.
Kedua: Kelompok yang terkadang mengizinkan dirinya menikmati sebagian kesenangan yang diperbolehkan supaya lebih kuat dan giat dalam beramal, seperti diriwayatkan dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,
إِنَّمَـا حُبِّبَ إِلَـيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ : النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِـيْ فِـي الصَّلاَةِ
"Sesungguhnya di antara dunia kalian yang menjadikan aku terpikat kepadanya ialah wanita dan parfum dan penyejuk mataku dijadikan dalam shalat." [HR. Ahmad 285, an-Nasâ`i VII/61, Dishahîhkan Al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr no. 3124]
Jika seorang Mukmin ketika melampiaskan syahwatnya yang mubah berniat untuk memperkuat diri dalam melaksanakan ketaatan, maka pelampiasannya itu adalah ketaatan baginya dan ia diberi pahala.
Mu’âdz bin Jabal رضي الله عنه berkata, “Sungguh, aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari shalatku.” Maksudnya, ia berniat dengan tidurnya supaya kuat melakukan qiyâmul lail di akhir malam.
Sa’id bin Jubair berkata, “Kenikmatan yang menipu ialah kenikmatan yang melalaikanmu dari mencari akhirat dan apa saja yang tidak melalaikanmu tidak dikatakan kenikmatan yang menipu, namun dikatakan kenikmatan yang mengantarkan kepada sesuatu yang lebih baik.” [Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam II/193]
Rasulullah bersabda,
اَلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ ، مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَـا ، إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ وَمَــا وَالاَهُ أَوْ عَالِـمًـا أَوْ مُتَعَلِّمًـا
"Dunia itu terlaknat dan terlaknat p**a apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya (dzikir), orang alim, dan orang yang belajar." [HR. at-Tirmidzi. 2322; Ibnu Mâjah, 4112 dihasankan Al-Albany]
Jadi, dunia dan isinya terlaknat, maksudnya dijauhkan dari Allah, karena bisa menyibukkan dari Allah, kecuali ilmu yang bermanfaat yang membimbing menuju Allah, supaya kenal dengan-Nya, mencari kedekatan dan keridhaan-Nya, juga dzikir kepada Allah dan yang mendukungnya. Itulah tujuan dunia, karena memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk sentiasa bertakwa dan taat kepada-Nya. Ini menuntut seorang hamba selalu berdzikir kepada Allah.
🌿[Disalin dari artikel Ust. Yazid Jawwas di majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431H/2010]
🍃.💥🌴🌺🌻🍃🍒☀🌷🍀.🌹